Konten dari Pengguna

Menjaga Harmoni di Lereng Slamet: Kehangatan Tradisi Warga Kaligua

Aafiyah Eka Putri

Aafiyah Eka Putri

Mahasiswa Aktif Ilmu Komunikasi UMY

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aafiyah Eka Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi

Kaligua, Brebes – Warga Desa Pandansari di lereng Gunung Slamet menjaga harmoni sosial melalui tradisi Ratiban, ritual syukur tahunan yang memadukan kirab tumpeng, seni tari Ronggeng, dan doa bersama di Telaga Ranjeng. Ribuan warga berpartisipasi, mempererat silaturahmi sambil melestarikan warisan leluhur di tengah hamparan kebun teh yang memukau.​

Pelaksanaan Ritual Ratiban

Ritual dimulai dengan pengarakkan puluhan tumpeng dan hasil bumi dari balai desa menuju Telaga Ranjeng, disambut tari Ronggeng yang telah ada sejak 134 tahun lalu untuk menghibur pekerja pabrik teh. Acara dilanjutkan istigotsah untuk kesehatan dan kelancaran usaha, diikuti pemberian makan ikan serta "kepungan" perebutan tumpeng pembawa berkah. Kades Pandansari Irwan Susanto menyatakan, "Inti dari kegiatan ini adalah doa bersama, mensyukuri nikmat Allah Swt atas kelancaran pertanian dan lain sebagainya."​

Makna Harmoni Budaya

Tradisi ini menjadi pengikat sosial, memupuk rasa syukur dan solidaritas di tengah modernisasi. Kades menambahkan, "Ratiban juga menjadi tempat pemersatu warga. Seluruh warga berkumpul menjadi satu saling bersilaturahmi." Mewakili Pemkab Brebes, Kepala Disbudpar Rofik Qoidul Adzam mengapresiasi, "Ratiban bisa menjadi daya tarik wisata Kaligua. Muaranya adalah peningkatan perekonomian warga."​

Daya Tarik Kaligua

Selain ritual, Kaligua menawarkan wisata alam seperti kebun teh dan situs Goa Jepang, yang semakin potensial sebagai destinasi Segitiga Emas Pariwisata Brebes-Guici-Baturaden. Warga komitmen menjaga tradisi agar tetap lestari, membuktikan harmoni budaya lereng Slamet tetap hangat di era kontemporer.

Aafiyah Eka Putri, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta