Konten dari Pengguna

Catatan Akhir Tahun Sektor Pariwisata: Transportasi Malang Raya

Aang Afandi

Aang Afandi

Belajar tentang Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebijakan Publik

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aang Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malang Raya, terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang & Kota Batu memiliki berbagai potensi yang luar bisa. Kota Malang sebagai kota Pendidikan memiliki jumlah perguruan tinggi yang tidak sedikit dengan jumlah mahasiswa dari berbagai pelosok negeri, termasuk mahasiswa asingnya. Ditunjang oleh sektor perdagangan dan industri yang terus menggeliat. Sementara Kabupaten Malang yang tetap konsisten fokus pada sektor pertanian memberikan daya Tarik akan pergerakan manusia dan barang, termasuk juga para pekerja migran yang tidak sedikit berasal dari Kabupaten Malang. Berikutnya kota Batu, sebagai kota berbasis pariwisata juga mendorong pergerakan orang dari berbagai pelosok negeri.

Lantas bagaimana ketersediaan sarana transportasinya?

Jalur Udara. Ketersediaan penerbangan yang dilayani oleh Bandara Abdul Rachman Saleh yang berada di Kabupaten Malang, memberikan keleluasaan mobilitas orang dengan Tujuan Malang Jakarta, atau sebaliknya. Keberadaan 9 armada dengan rerata jumlah seat 180, maka terdapat sekitar 1.620 seat untuk datang ke Malang. Jika bercermin pada historis sebelumnya, rute Malang – Denpasar dan Malang – Bandung bisa menjadi alternatif yang dikembangkan. Mungkin bahkan pergerakan Malang – Yogyakarta.

Jalur darat, Angkutan Bus. Rute bus Malang – Jakarta (dan sekitarnya) merupakan rute “terpanas” di Indonesia, berbagai PO besar bersaing pada rute ini, dengan armada terbaru dan terbaiknya. Sleeper bus, Bus tingkat (double decker) dengan mesin – mesin Eropa ikut meramaikan rute ini. Belum ditemukan berapa armada sebenarnya yang melayani rute ini, namun dengan asumsi bila terdapat 15 PO, dengan rata – rata setiap PO terdapat 3 armada, maka kemungkinannya terdapat 1.575 seat/perhari, rute Bandung sekitar 400 seat/hari, rute Jogja 250 seat perhari, dan ke Bali sekitar 500an seat per hari. Dengan demikian pengguna bus ini sekitar 2.725. Ini tentunya belum ditambahkan dengan keberadaan shuttle dan travel yang juga semakin digemari.

Jalur darat, angkutan Kereta. Pderjalanan kereta api dari Jakarta menyediakan sekitar 2.430 seat/hari, dari Bandung 920 seat/hari dan dari Banyuwangi terdapat 1.180 seat perhari. Ditambah pula dari Purwokerto sebanyak 960 seat perhari. Artinya terdapat sekitar 5.490 seat/hari. Belum lagi keberadaan kereta commuter rute loop yang memutar sebagai wilayah Jawa Timur.

Jika dijumlahkan dari data diatas maka terdapat sekitar 9.835 seat tersedia setiap harinya. Belum lagi penumpang yang turun di Juanda Surabaya, Tanjung Perak Surabaya, ataupun stasiun kereta apa dan terminal di Surabaya. Jika diasumikan sekitar 2.000 saja. Maka potensi orang datang ke Malang menggunakan angkutan umum adalah sekitar 12 ribu penumpang, dan bisa jadi Sebagian dan memungkinkan Sebagian besar adalah para wisatawan.

Dengan jumlah tersebut, jika asumsinya 50%-nya adalah orang yang datang ke Malang untuk berkunjung, bertamu, dan berwisata dan mereka membutuhkan penginapan, maka setiap hari terdapat peluang 3.000 kamar diperlukan. Dan bila rerata belanja menginapnya adalah Rp 250 ribu/malam, maka belanja penginapan ini adalah sekitar Rp 750 juta perharinya, maka nilai perbulan adalah sekitar Rp 22,5 M. ini nelum memperhitungkan angka pada saat weekend. Lantas bagaimana belanjanya? Jika mereka belanja untuk makan Rp 150 ribu per 2 hari dan belanja oleh – oleh atau souvenir Rp 200 ribu, maka potensinya adalah sebesar Rp 2,1 M per wisatawannya. Mengapa hitungannya hanya 1 malam 2 hari, karena rata – rata lama menginap di Malang Raya data menunjukkan diangka 1,3 malam. Artinya belum sampai pada angka 2 malam. Akumulasinya adalah sekitar Rp 63 M perbulannya.

Bagaimana halnya dengan kunjungan menggunakan kendaraan pribadi dan bus rombongan. Ini yang belum dihitung. Jika pada satu hari terdapat 2.000 mobil, dengan rerata penumpang 4 orang, maka terdapat 8 ribu wisatawan yang masuk Malang Raya. Jumlah tersebut maka belanja akomodasi sekitar Rp 1,4 M. atau sebesar Rp 42 Milyar. Sedangkan belanja oleh oleh dan makan sekitar Rp 2,8 M/hari atau Rp 84 M/bulan. Sehingga akumulasinya sekaitar Rp 126 M.

Sehingga jika menjumlahkan belanja wisatawan yang menggunakan moda umum/ public dan pribadi terdapat uang yang berputar di Malang Raya sekitar Rp 189 M/bulan atau Rp 2,26 Triliun dalam setahun. Ini belum menghitung peningkatan di saat weekend dan hari raya, liburan tengah tahun, Natal dan tahun baru. Termasuk belum menghitung keberadaan kendaraan & bus pariwisata yang masuk ke Malang Raya. Hal lain yang belum terhitung adalah belanja ke destinasi dan belanja transportasi lokal. Keberadaan transportasi lokal yang baru saja menghadirkan Bus Trans Jatim koridor 8 Kota Malang menuju ke Kota Batu memberikan angin segar untuk meningkatkan layanan transportasi public di Malang raya yang aman, nyaman dan menyenangkan.

Data diatas tentunya perlu dikonfirmasi kembali, detil dan pengauatn asumsinya. Seperti halnya jumlah Bus malam tujuan ke Malang dan beberapa data lainnya. Gambaran ini memberikan makna bagi kita Bersama, betapa pentingnya data – data yang tepat dan presisi yang dapat memberikan gambaran yang baik dan tepat. Harapannya untuk dapat memberikan keputusan – keputusan penting atas eksisting yang ada dan perencanaan di masa mendatang.