Memaknai Khazanah Budaya Kraton Sebagai Asset sekaligus Potensi Pariwisata

Belajar tentang Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebijakan Publik
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aang Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Symposium 2026 yang bertajuk Architecture, Spatial Planning and Territory, mengangkat tentang bagaimana arsitektur, perencanaan Spasial dan Teritori menjadi bagian dari sejarah Panjang Kraton Yogyakarta. Jika diurutkan barangkali berangkat dari Teritori, bermakna zona atau kewilayahan, yang ini berarti bukan hanya kraton Yogya saja, tetapi wilayah Yogyakarta. Konsepsi Hamemayu Hayuning Bawono yang diejawantahkan secara fisik melalui poros filosofis -mulai panggung Krapyak, Keraton, hingga Tugu Golong Gilig- yang mencerminkan siklus manusia dalam filosofi sangkan paraning dumadi. Tentu ini nanti akan relate dengan Kawasan laut Selatan Jawa dan Gunung Merapi pada sisi utara. Inilah yang dinamakan poros imajiner, atau sumbu filosofi. Hal ini akan berkaitan dengan spasial planning, perencanaan spasial penggunaan tata ruang dan wilayah tersebut. Ternyata tata ruang ini bukan sekedar batas wilayah administrasi, melainkan konsep kosmologi yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I (pada tahun 1755). Inilah sebagai awal sejarah fondasi arsitektur dan tata ruang yang sangat visioner. Beliaulah yang menciptakan tetenger yang menegaskan harmonisasi antara manusia, alam dan sang pencipta. Pada level yang lebih mikro, masuklah pada konteks arsitektur bangunan – bangunan yang ada di Yogyakarta.
Salah satu wujudnya adalah bangunan – bangunan bangsal di Kraton Yogyakarta yang dirancang dengan struktur joint kayu menggunakan sambungan pen dan lubang (knock-down) tanpa paku permanen. Struktur ini bersifat fleksibel, mampu bergoyang mengikuti getaran bumi tanpa patah dan runtuh seketika. Sementara itu tiang kayu berdiri diatas umpak batu yang berfungsi sebagai isolatator seismic alami, menungkinkan tiang bergeser tanpa merusak kestabilan atap joglo yang memiliki pusat gravitasi kokoh di tengah pilar sokoguru. Hal inilah yang mengantisipasi keberadaan Yogyakarta yang berada di zona tektonik yang aktif, di antara sesar opak dan zona subduksi selatan Jawa. Kerentanan alam ini ternyata diantisipasi sebagai kearifan lokal (vernacucal wisdom) yang menyatu dalam arsitektur tradisional. Hal inilah yang menjelaskan keterkaitan variabel – variabel tema diatas.
Disisi lain, Kraton Yogyakarta tengah menyelenggarakan Pameran Temporer Smarabawana: Tata Ruang Kesultanan Yogya, dari bulan Maret sampai Agustus pada tahun ini, sebagai bagian dari peringatan Jumenengan Dalem Sultan.
Berbagai bagian dari arsitektur Kraton, disajikan. Diantaranya adalah:
1. Kemuncak. Yang digambarkan dengan wujud burung.
2. Konsepsi Catur Gatra Tunggal: Harmoni Tata Ruang Jawa. Merupakan konsepsi tata ruang Jawa masa kerajaan Islam yang mengadopsi kearifan masa Hindu-Budha. Terdiri atas: Keraton: pusat orientasi politik & pemerintahan; alun – alun: ruang terbuka sebagai pusat interaksi sosial; Masjid: Landasan Spiritual & pusat religi; Pasar: jantung ekonomi rakyat. Integrasi keempat Gatra inilah yang mencerminkan kedaulatan yang terdiri atas pilar kepemimpinan, kerakyatan, kemakmuran & ketuhanan.
3. Kartografi. Peta – peta tata ruang Yogyakarta yang menggambarkan perkembangan Kraton dan lingkungan sekitar dan Yogyakarta.
4. Kaca Patri. Yang menjadi ornamen cantik dari bangunan – bangunan yang merupakan Teknik di era Belanda, dapat disandingkan dengan kaca – kaca patri yang ada di bangunan Semarang.
5. Peta 3 dimensi yang menggambarkan keberadaan sungai yang berada disisi barat dan timur kraton.
6. Tentu masih banyak item lainnya yang ditunjukkan visual dan wujudnya, baik dalam format asli maupun replika.
Lantas bagaimana keterkaitannya dengan sektor Pariwisata.
Territory, spatial planning & arsitektur menjadi kesatuan sebagai sebuah pengalaman ruang, makna budaya dan daya Tarik wisata.
Teritori atau wilayah Yogyakarta, yang tergambarkan pada simplifikasi Gunung Merapi, Keraton dan Pantai Parangtritis. Wisatawan diajak tidak hanya untuk mendalami berbagai bangunan, tetapi pada narasi kosmologi dan spiritualiatas masyarakat Jawa mengenai Manunggaling Kawula lan Gusti, yang menggambarkan kesatuan Sang pencipta, alam dan manusia. Wisata berbasis story telling menjadi alternatif menarik untuk dikembangkan lebih serius lagi. Wujud nya apa:
• Film – film pendek ataupun film dokumenter sebagai sebuah pengantar memperkuat yang relate dengan territorial Yogyakarta.
• VR, storytelling yang tersedia pada QRcode pada destinasi tertentu mengantarkan seorang wisatawan untuk mendalami lebih serius tentang apa yang dilihat. Tidak sekedar bangunan untuk latar foto, namun dapat mengenali lebih dalam tentang sejarah, struktur bangunan dan segala pernik atas bangunan tersebut.
• Aktivasi arsip visual dan media imersif. Seperti anak menanyakan ke orang tua tentang barang dan tempat bersejarah dan orang tua tak mampu menjawabnya. Bagaimana ruang “diam” menjadi “hidup”. Menghadirkan makna yang lebih dalam dari wujud wujud visual non digital. Dalam bentuk buku interaktif, namun ada QR code yang bisa di scan untuk memperoleh visual riilnya.
• Booklet / Poster dalam wujud fisik ataupun digital. Hampir mirip dengan poin sebelumnya.
• Produk produk fashion dan kriya yang mengantarkan dan memotivasi orang mendalami. Bagaimana 3 buah kaos putif yang tertulis Toto, Titi & Tentrem yang merupakan souvenir Kraton, Bagaimana Dagadu dengan celotehan di kaosnya, menggambarkan “guyonan” atau “gojek-an” khas Jawa Ynag mengena. Bagaimana sebuah T-Shirt “Yogya Seyogianya” menggambarkan sketsa Bakpia dengan tulisan (akulturasi perkaya tradisi), sepeda onthel (kaya nostalgia); Becak 9dari manusia untuk manusia) dan Kopi Arang (sebagai unique experience). Sederhana, namun dalam sekali, dalam kemasan yang mudah dicerna.
• Alternatif pilihan lainnya.
Tata Ruang Kota sebagai sebuah itinerary yang menarik ditelusuri satu persatu. Tugu Yogya, Malioboro, Keraton Kidul, Plengkung, Panggung Krapyak dan lainnya penuh simpanan cerita. Wisata jelajah menjadi alterntif menarik. Walaupun ini saat ini sangat segmented, walking tour masih belum banyak diikuti, namun seight seeing bisa jadi alternatif dengan Bus wisata, delman, becak atau altrenatif lainnya. Hal ini juga akan bisa menjadi jalur wisata ikonik sekaligus eksplorasi UMKM lokal. Barangkali bila dikaitkan dengan tren saat ini walking tour dapat berkembang menjadi sport tourism seperti fun run, ataupun optimalisasi agenda olah raga tahun seperti hal-nya Jogja Marathon.
Arsitektur Keraton dapat diekplorasi sedemikian rupa dalam batas – batas yang presisi. Dapat menjadi wisata budaya, tradisi dan seni. Pameran temporer memperkuat segala hal yang dimiliki kraton.
Sehingga akhirnya menjadi cultural lanscape yang utuh, imersif dan berbasis makna, bukan sekedar wujud visual semata. Inilah menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata unggulan, bukan sekedar tempat wisata biasa. Walaupun modernitas saat ini pada sisi sisi tertentu seakan mengaburkan bentuk – bentuk ekspresi masa lalu yang semestinya tetap dijaga, dan terjaga.
