Nasi Goreng Anglo: Citarasa Khas Kediri

Belajar tentang Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebijakan Publik
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aang Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anglo, merupakan tungku yang berfungsi seperti halnya kompor yang terbuat dari terakota (tanah liat). Keberadaan tungku ini yang lebih utama pada penggunaan arang kayu sebagai bahan perapian. Arang kayu inilah yang memberikan cita rasa khas dari Nasi Goreng Kediri. ada satu lagi, yang cenderung berbeda dengan nasi goreng lainnya, yakni tanpa menggunakan saao tomat untuk bumbu nasinya. sehingga rasa gurih pada nasi sangat menonjol terasa, sembari rasa pedas dengan berbagai variannya.
mengapa masakan dengan arang kayu punya cita rasa berbeda? ada beberapa referensi yang menunjukkan bahwa ternyata memang memiliki perbedaan. arang kayu mampu memberikan tingkat kepanasan yang berbeda bilka dibandingkan dengan kompor gas. Dimana semburan panasnya tidak sekuat dibandingkan kompor gas, sehingga proses pemasakan menggunakan arang kayu ini lebih baik. walaupun ini tentunya belum tentu tepat untuk setiap jenis masakan. Aroma yang tercipta dari arang inilah yang sebenarnya juga mampu membuat masakan menjadi lebih unik dan enak. karena asap yang melekat pada makanan menjadikan aroma smokey menempel pada makanan. apalagi jika menggunakan arang batok kelapa, yang lebih unik lagi aromanya. Ini yang banyak digunakan pada proses pengasapan pada usaha warung ikan di tepian pantai. walaupun demikian, sebenarnya perlu dicermati pula dari sisi higienitas dan dampak kesehatan.
Pilihan nasi goreng ini cukup beragam, mulai dari variasi kepedasan ataupun ketertarikan dengan nasi yang dikombinasi dengan mie dan sayuran, yang dikenal dengan nasi mawut. cukup banyak outlet nasi goreng di sepanjang Jl Doho ini, bahkan beberapa outletnya menyajikan nasi goreng ini cenderung dengan porsi per piringnya relatif sedikit, sehingga secara psikologis membuat konsumen tidak merasa kenyang, bahkan serasa sedikit kurang. inilah salah satu yang membuat konsumen untuk melakukan kunjungan ulang di lain waktu.
Bagaimana pedagang Nasi goreng ini menata outletnya? secara umum para pedagang ini menggunakan gerobak untuk menempatkan bahan masakan dan disebelahnya terdapat anglo untuk memasak. ada yang hilang sebenarnya, yakni keberadaan kipas bambu yang sudah tidak gigunakan karena penggunaan kipas angin listrik untuk memberi bara pada perapiannya. padahal atraksi mengipasi api menjadi sebuah atraksi yang menarik dalam story kuliner Indonesia. Ya begitulah teknologi.
Para pedagang ini menyediakan dua tempat, duduk dikursi dengan meja panjang, atau lesehan dipedestrian dengan ketersediaan tikar. sementara itu diantara para pedagang nasi goreng ini juga terdapat deretan pedagang nasi pecel Tumpang Khas Kediri dengan penataan outletnya yang sangat unik dengan ragam pilihan lauk yang menggoda selera. Selama menikmati sajian ini terkadang kita bisa sayup sayup mendengarkan lagu - lagu dangdut yang mencoba melawan sepinya malam, ataupun langgam jawa yang terputar dari radio si pedagang.
Jalan Doho, merupakan salah satu jalan utama di Kota Kediri. Membujur sepanjang utara selatan, sejajar dengan alur Rel KA lintas selatan Jawa. Cukup banyak kereta api yang berhenti mulai tengah malam sampai pagi hari dari Bandung, Purwokerto ataupun Jakarta. Selain itu beberapa hotel besar berada di jalan atau sekitar jalan ini, seperti Grand Surya, Merdeka dan City Hub.
Menikmati kuliner malam hari adalah bagian untuk mengenali kota dengan alur budaya dan kebiasaannya. "Lingsir wengi. sepi durung nendra. kagoda mring weayang. ngeridu ati," sayup sayup tembang itu terdengar dari radio si mas yang sedang masak nasi goreng, yang aromanya mulai menggoda. aduhai, menggugah selera.
