Konten dari Pengguna

Wisata Kuningan: Sejarah, Alam & Gastronomi

Aang Afandi

Aang Afandi

Belajar tentang Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebijakan Publik

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aang Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selain menikmati Cirebon dengan ragam pesonanya, maka melangkahkan kaki menuju ke Selatan Cirebon menjadi sebuah pilihan Menarik. Kuningan, ya kota kecil yang semakin bersolek.
zoom-in-whitePerbesar
Selain menikmati Cirebon dengan ragam pesonanya, maka melangkahkan kaki menuju ke Selatan Cirebon menjadi sebuah pilihan Menarik. Kuningan, ya kota kecil yang semakin bersolek.

Kuningan sebuah kabupaten diujung timur Jawa Barat, berbatasan dengan Jawa Tengah. Barangkali kabupaten ini tidak terlalu populer secara umum, bahkan dimungkinkan lebih populer Kawasan Kuningan yang ada di Jakarta (ada hubungan erat antara kelurahan Kuningan di Jakarta dan Kabupaten Kuningan Jawa Barat). Dengan luas wilayah 1.194 km2 (Jakarta 664 km2, sementara kabupaten Cirebon 1.070 km2). Dharma sebagai salah satu wilayah Kuningan berada pada ketinggian 736 mdpl sementara Cidahu berada pada ketinggian 89 mdpl, artinya Kuningan memiliki wilayah yang berada di dataran rendah sampai dataran tinggi.

Perjalanan sejarah Panjang Kuningan tak bisa dilupakan begitu saja, mulai sejarah kerajaan Sunda, perkembangan Islam yang berkaitan dengan Walisongo dan Cirebon, era kolonialisme sampai dengan saat ini. Bahkan jejak sejarah makam Van Beck seorang kapten Belanda yang ditugaskan di Karesidenan Cirebon dimakamkan di Kuningan. Makamnya ditetapkan menjadi salah satu cagar budaya Kuningan.

Coba kita melangkahkan kaki dari dari Pepabri Hotel dan Resort yang ada di Cilimus (Selain itu terdapat pula hotel Horison Tirta Sanita dan beberapa pilihan menginap lainnya). Kita akan menemukan Gedung Perundingan Linggarjati, yang hanya berjarak 1,8 km atau sekitar 5 menit saja. Dari gedung sejarah Linggarjati ini jika memandang ke barat maka kemolekan gunung Ciremai nampak begitu detilnya.

Museum Linggarjati. Sebuah museum sejarah, tempat kali pertama Belanda mengakui Indonesia atas kemerdekaannya. Seakan waktu berputar mengajak Kembali untuk memahami sejarah negeri ini. Saksi saksi bisu berupa meja, kursi, bahkan beberapa kamar tidur, memberikan rekonstruksi bagaimana Syahrir dan delegasinya berdiplomasi untuk sebuah pengakuan. Gedung ini pernah menjadi markas tentara, Sekolah Dasar bahkan pernah berfungsi sebagai hotel. Sutan Syahrir, Mr. M. Roem, dan Dr. A.K. Gani seakan hidup kembali, bertutur tentang perjuangan kala itu. Foto – foto, diorama bahkan naskah perjanjian Linggarjati menjadi pelengkap cerita ini. Bangunan heritage inilah menjadi salah satu kekuatan obyek ini.

Alun Alun Kota Kuningan. Merupakan taman kota yang dibangun dengan fasilitas publik, seperti area berjalan dan santai, kursi taman dan jembatan penyeberangan orang yang didesain untuk menikmati kota dari atas. Alun – alun ini seperti kota – kota lainnya berdekatan dengan pusat kota dan Masjid Jami. Dari atas jembatan ini kita akan menikmati tugu Nol Km Kuningan, suasana hiruk pikuk kota, dan lalu lalang Delman. Delman ini seakan menjadi penyimpan sejarah, karena Kuningan identik dengan kuda, dimana kota ini sarat dengan sejarah dengan kuda, utamanya Kuda Windu milik Ewangga, anak sekaligus adipati perang Arya Kamuning seorang pimpinan Kuningan di masa lalu.

Dari alun alun ini kita bisa mampir di Kedai Hucap Mak Iroh, tempat Bapak SBY pernah singgah di kedai ini. Kedai yang menyajikan Kupat Tahu yang disirami bumbu kacang kecap yang gurih manis memanjakan lidah. Taburan potongan daun sledri dan krupuk remasnya mempercantik tampilan, sekaligus menambah selera. Krupuk renyah jadi mlempem asyik karena bercampur dengan bumbu kacang tersebut. Lebih asyik, bila dikombinasi dengan teh hangat, yang semakin menghangatkan suasana. Ada yang khas dari kedai ini yakni Kupat yang dimasak dengan bungkus janur (daun kelapa muda) digantungkan pada gerobak dan space tertentu di kedai, menambah daya Tarik tersendiri. Jika ingin kudapan lainnya, ada Weci ataupun aneka krupuk khas Jawa Barat, salah satunya krupuk kuning yang biasa untuk asinan Bogor.

Bagi penggemar Sate bisa mampir ke Warung Sate Ulah Lali di jl. Kejaksan, sate kambing muda yang disajikan dengan bumbu terpisah, Gulai dan teman minum Jeruk atau teh hangat. Yang menarik dari warung ini adalah menyediakan menu sop iga kambing, sop iga sapi, pepes ikan Mas ataupun sayur asam yang bisa jadi alternatif pilihan jika teman makan kita kurang menyukai sajian sate kambing. Bahkan Soto Ayam-pun bisa jadi alternatif pilihan.

Peta obyek wisata Kabupaten Kuningan, layak untuk dieksplorasi. (Sumber: My Map Google, diolah)

Bila kita ingin kudapan non Nasi, maka Tahu Kopeci bisa jadi alternatif pilihan. Unik Namanya Kopeci, berasal dari singkatan Koperasi Pemuda Cikentrungan. Tahu goreng ukuran kecil, mirip Tahu sumedang namun lebih padat dan gurih tentunya. Ada yang menarik di kedai – kedai ini, selain Tahu ternyata menyediakan lontong yang dapat disantap Bersama Tahu dan minuman Susu Kedelai dengan rasa khas, gurih tanpa ada aroma amis. Yang paling populer berada di Jalan veteran namun masih ada di beberapa ruas lainnya di Kota Kuningan.

Ada yang tidak bisa ditinggalkan bila berkunjung ke Kuningan, yakni Peyeum Kuningan, Beli Tape Ketan bonus ember. Kenapa demikian? Karena tape ini dibungkus kotak dengan daun jambu air lantas ditata dalam Ember dan ditutup, yang tujuannya adalah untuk memaksimalkan proses peragian dan fermentasi dan tentunya lebih higienis karena disimpan dalam ember. Barangkali yang jeli, akan bertanya kenapa tidak disimpan dalam gerabah saja? Nanti bisa dianggap isinya jadi Gudeg Jogja. Namun inspirasi untuk terus berproses bisa saja terjadi, walaupun trade mark itu mestinya juga dipertahankan. Yang menarik dari Peyeum ini adalah terbuat dari beras ketan khas Kuningan yang terkenal dengan rasa yang gurih dan diberi pewarna hijau dari daun katuk. Unik dan khas. Story tentang pembuatan Peyeum inilah bisa menjadi wisata gastronomi yang bisa dikembangkan. Sementara itu bila ingin oleh – oleh lainnya masih ada opak bakar, ketimpring, kripik ataupun jeniper sebagai buah tangan Kuningan.

Berlanjut ke atas, kearah barat daya kota, menuju Waduk Dharma. Menikmati tenangnya air waduk dari tepian, sekedar foto pada spot tertentu, atau mencoba perahu untuk keliling sepanjang waduk. Kita akan menemukan beberapa keramba, semilir angin yang bahkan kearah dingin, karena pada ketinggian 715 mdpl. Serasa berada di Kintamani Bali. Areal camping dan cottage tersedia di Kawasan ini. Jika lapar ditempat ini, maka mampir ke Rumah Makan Khas Sunda Abah Aman, bisa jadi pilihan. Ikan bakarnya yang disajikan masih panas, sambal segar di cobek kayu, Tahu Tempe yang masih hangat pula dan lalapan. Wow, benar – benar dimanjakan. Kita juga bisa menemukan karedok, pencok leunca, pencok kacang Panjang ataupun sambel Jengkol. Sunda banget rasanya.

Bagi yang ingin berpetualang, maka ikut serta mendaki di gunung Ciremai (3.078 mdpl, tertinggi di Jawa barat) menjadi tantangan tersendiri. Gunung ini berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, seperti halnya Taman Nasional lainnya tentunya ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi sebelum melakukan pendakian. Kita bisa memulai dari titik poin di Linggarjati, ataupun beberapa titik poin lainnya di Kuningan ataupun Majalengka.

Gunung Ciremai merupakan gunung api magnetik yang masih terlihat aktif, dan memiliki kawah ganda serta terdapat bekas titik letusan yang biasa disebut Gowa Walet. Bila kita menyiapkan diri untuk mendaki, maka mengenali lebih dalam tentang kearifan lokal Kawasan Ciremai tak harus dilupakan, berdialog dengan masyarakat lokal ataupun sang juru kunci Ciremai mestinya dilakukan. Tatkala sampai puncak, mengucap rasa syukur, lantas mengibarkan Sang Merah putih dan mengabadikannya dengan tulisan Mt. Ciremai 3.078 MDPL adalah sebuah ekspresi luar biasa. Ekspresi syukur, menemukan sudut sudut Ciptaan-NYA yang indah dan meneduhkan kalbu.