Life After Break Up Mahasiswa: Love is Over, Deadline is Coming

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aaqilah Imratul Imamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Life after break up mahasiswa sering kali terasa seperti roller coaster. Baru saja kehilangan pasangan yang biasanya jadi teman makan siang, tiba-tiba harus berhadapan dengan tugas kuliah, deadline skripsi, dan rapat organisasi. Air mata belum kering, tapi notifikasi tugas sudah masuk. Hidup kampus memang tidak pernah memberi jeda.
Di tengah patah hati, life after break up mahasiswa justru menemukan ruang healing paling realistis di kampus. Nongkrong di kantin, ikut rapat organisasi, atau sekadar tenggelam dalam presentasi kelas bisa jadi cara sederhana untuk mengalihkan pikiran. Healing versi mahasiswa memang nggak mewah, tapi justru terasa lebih jujur dan apa adanya.
Ironisnya, deadline sering kali jadi penyelamat. Ketika hati sibuk meratapi mantan, tugas-tugas kuliah memaksa kita tetap bergerak. Nggak ada waktu untuk overthinking kalau besok ada ujian. Perlahan, rutinitas akademik jadi semacam terapi: sibuk ngerjain laporan, hati ikut belajar sembuh. Putus cinta bukan akhir dunia. Justru banyak mahasiswa yang akhirnya lebih fokus ke diri sendiri: ikut kelas tambahan, bikin project, atau sekadar merawat diri. Dari heartbreak lahir glow up dan itu jauh lebih keren daripada balikan.
Hidup setelah putus bagi mahasiswa adalah kombinasi unik antara drama dan deadline. Cinta memang selesai, tapi hidup terus berjalan. Karena pada akhirnya, deadline lebih setia daripada mantan.
