Konten dari Pengguna

Oversharing dan Privasi Sosial: Sosiologi Media Digital

Aaqilah Imratul Imamah

Aaqilah Imratul Imamah

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aaqilah Imratul Imamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

By : Copilot.
zoom-in-whitePerbesar
By : Copilot.

Media sosial kini menjadi ruang utama fenomena oversharing, di mana batas privasi ini memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi dipertukarkan demi validasi sosial, perhatian, dan kapital digital. Fenomena oversharing menimbulkan pertanyaan sosiologis penting: apakah ruang privat masih relevan, ataukah telah hilang dalam arus keterbukaan ekstrem di era sosial digital?

Privasi yang dahulu dianggap sebagai hak individu kini semakin kabur. Informasi tentang lokasi, hubungan, emosi, bahkan masalah kesehatan, dengan mudah dipublikasikan dan dikonsumsi oleh publik. Hal ini tidak lepas dari logika kapitalisme digital, di mana setiap unggahan menjadi data yang dapat dimonetisasi oleh platform. Pada saat yang sama, oversharing juga berfungsi sebagai simbol status sosial, sebuah cara untuk menunjukkan eksistensi dan pencapaian di hadapan khalayak.

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori dramaturgi Erving Goffman. Oversharing adalah bentuk “pertunjukan panggung depan” di mana individu menampilkan citra terbaik dirinya. Namun, batas antara panggung depan dan belakang semakin kabur, sehingga kehidupan pribadi ikut terekspos. Michel Foucault melalui konsep panoptikon digital menekankan bahwa media sosial menciptakan mekanisme pengawasan massal, di mana pengguna secara sukarela membuka diri terhadap kontrol dan pengamatan. Selain itu, kebutuhan akan validasi sosial melalui “likes” dan komentar menjadikan oversharing sebagai strategi untuk memperoleh pengakuan, meski harus mengorbankan privasi.

Fenomena ini membawa dampak sosial yang signifikan. Generasi muda tumbuh dengan anggapan bahwa keterbukaan ekstrem adalah hal yang wajar, sehingga batas privasi semakin memudar. Di sisi lain, oversharing dapat menimbulkan risiko psikologis berupa kecemasan, rasa tidak aman, atau penyesalan ketika informasi pribadi disalahgunakan. Ketimpangan digital juga muncul, di mana mereka yang mampu mengelola citra daring dengan baik memperoleh keuntungan sosial, sementara yang tidak rentan terhadap stigma dan marginalisasi.

Pada akhirnya, oversharing itu menunjukkan bahwa batas pribadi bukan lagi sekadar garis pemisah antara ruang intim dan ruang publik, melainkan sesuatu yang terus dinegosiasikan dalam dunia digital. Privasi kini berubah menjadi komoditas sosial yang dipertukarkan demi perhatian, validasi, dan kapital digital. Analisis sosiologis mengingatkan kita bahwa di balik kebebasan berbagi, terdapat konsekuensi serius terhadap identitas, relasi, dan struktur sosial.