Pendidikan dan Sosiologi di Era Karhutla: Tantangan Generasi Muda

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aaqilah Imratul Imamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti langit, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang kesulitan bernapas, tetapi juga oleh anak-anak yang sedang menempuh pendidikan. Udara yang biasanya terasa segar berubah menjadi pekat, jarak pandang berkurang, dan aktivitas sehari-hari mulai terganggu. Dalam kondisi tertentu, sekolah terpaksa diliburkan untuk melindungi kesehatan siswa dan guru. Keputusan tersebut memang penting, tetapi di sisi lain juga menimbulkan persoalan baru, terutama bagi keberlangsungan proses pembelajaran.
Bayangkan seorang siswa SMA bernama Raka yang tinggal di daerah terdampak karhutla. Biasanya, setiap pagi ia berangkat ke sekolah, bertemu teman-temannya, berdiskusi dengan guru, dan mengikuti pelajaran di kelas. Namun, ketika kabut asap semakin tebal, kegiatan belajar di sekolah harus dihentikan sementara. Guru kemudian memberikan tugas melalui grup WhatsApp dan meminta siswa mempelajari materi secara mandiri dari rumah. Awalnya, Raka menganggap kondisi tersebut seperti liburan biasa. Akan tetapi, setelah beberapa hari, ia mulai kesulitan memahami materi karena tidak bisa bertanya langsung kepada guru. Ia juga kehilangan kesempatan berdiskusi dengan teman-temannya, padahal kegiatan tersebut membantunya memahami pelajaran yang belum dimengerti.
Situasi Raka ternyata tidak dialami oleh semua siswa dengan cara yang sama. Di lingkungan tempat tinggalnya, ada siswa yang memiliki laptop, jaringan internet stabil, dan ruang belajar yang nyaman sehingga tetap bisa mengikuti pembelajaran dari rumah. Namun, ada pula siswa yang hanya memiliki satu telepon genggam untuk digunakan bersama anggota keluarga lainnya. Sebagian bahkan harus membantu orang tua bekerja atau mengurus adik ketika kegiatan sekolah diliburkan. Akibatnya, mereka tidak selalu memiliki waktu dan fasilitas yang memadai untuk belajar. Perbedaan kondisi ini menunjukkan bahwa ketika terjadi bencana lingkungan, kesempatan siswa untuk memperoleh pendidikan yang layak juga dapat menjadi tidak setara.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan juga masalah sosial yang dapat memengaruhi kehidupan pendidikan. Siswa yang mengalami kondisi serupa belum tentu memiliki kemampuan yang sama untuk menyesuaikan diri. Mereka yang memiliki fasilitas dan dukungan keluarga cenderung lebih mudah mengikuti pembelajaran, sedangkan siswa yang memiliki keterbatasan harus menghadapi hambatan tambahan. Jika kondisi ini berlangsung cukup lama tanpa solusi yang tepat, kesenjangan hasil belajar antarsiswa berpotensi semakin besar.
Jika dilihat melalui perspektif Émile Durkheim, sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun solidaritas sosial. Di sekolah, siswa belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, menaati aturan, dan membangun hubungan dengan orang lain. Ketika pembelajaran tatap muka terhenti akibat karhutla, interaksi antara siswa dan guru maupun antarteman menjadi terbatas. Misalnya, siswa tidak lagi dapat berdiskusi secara langsung, mengerjakan tugas kelompok bersama, atau saling membantu ketika mengalami kesulitan memahami materi. Meskipun komunikasi masih bisa dilakukan secara daring, pengalaman tersebut tidak selalu dapat menggantikan interaksi secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan terhadap kegiatan sekolah juga dapat memengaruhi proses pembentukan hubungan sosial siswa.
Sementara itu, pemikiran Pierre Bourdieu membantu menjelaskan mengapa dampak karhutla dapat dirasakan secara berbeda oleh setiap siswa. Bourdieu menjelaskan bahwa modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial berpengaruh terhadap kesempatan seseorang dalam dunia pendidikan. Siswa dari keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik mungkin dapat menyediakan perangkat belajar, akses internet, dan lingkungan belajar yang mendukung. Mereka juga mungkin memperoleh bantuan belajar tambahan dari keluarga. Sebaliknya, siswa dari keluarga dengan sumber daya terbatas dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam situasi ini, bencana yang sama dapat menghasilkan pengalaman pendidikan yang berbeda karena setiap siswa memiliki modal dan dukungan yang tidak sama. Keadaan tersebut perlu menjadi perhatian agar keterbatasan yang dialami siswa tidak membuat mereka semakin tertinggal dalam pendidikan.
Di sisi lain, karhutla juga dapat menjadi bahan pembelajaran sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Pemikiran Paulo Freire mengenai pendidikan yang membangun kesadaran kritis relevan untuk memahami persoalan ini. Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat siswa menghafal pengertian pencemaran lingkungan atau penyebab kebakaran hutan, tetapi juga mendorong mereka mempertanyakan mengapa karhutla terus terjadi, siapa saja yang terdampak, dan bagaimana masyarakat dapat berperan dalam mencegahnya. Guru dapat mengajak siswa mengamati berita tentang karhutla, mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, serta menghubungkannya dengan persoalan ekonomi, kebijakan, dan perilaku manusia terhadap lingkungan. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami karhutla sebagai peristiwa alam, tetapi juga mampu melihat berbagai faktor sosial yang berkaitan dengan terjadinya bencana tersebut.
Generasi muda juga dapat mengambil peran melalui tindakan sederhana yang sesuai dengan kemampuan mereka. Misalnya, siswa dapat menyebarkan informasi yang benar tentang pencegahan kebakaran hutan, mengikuti kegiatan edukasi lingkungan, mengajak teman-temannya lebih peduli terhadap alam, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya. Sekolah pun dapat mengembangkan pembelajaran yang fleksibel ketika kegiatan tatap muka terpaksa dihentikan, seperti menyediakan materi yang dapat dipelajari tanpa internet, memberikan waktu pengumpulan tugas yang mempertimbangkan kondisi siswa, serta menyediakan pendampingan bagi mereka yang mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keadaan nyata yang dihadapi peserta didik.
Namun, tanggung jawab tersebut tidak seharusnya dibebankan kepada siswa dan sekolah saja. Pemerintah perlu memperkuat upaya pencegahan karhutla, menangani sumber kebakaran, dan memastikan masyarakat terdampak mendapatkan perlindungan. Sekolah dan keluarga juga perlu berkomunikasi untuk mengetahui kebutuhan siswa selama pembelajaran terganggu. Masyarakat dapat berpartisipasi dalam menjaga lingkungan serta mendukung upaya pencegahan kebakaran. Kerja sama ini penting karena persoalan karhutla berkaitan dengan banyak aspek kehidupan dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pihak.
Pada akhirnya, karhutla mengajarkan bahwa pendidikan dan lingkungan memiliki hubungan yang erat. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, kegiatan belajar, kesehatan, interaksi sosial, dan kesempatan siswa untuk berkembang ikut terpengaruh. Melalui perspektif Durkheim, Bourdieu, dan Freire, dapat dipahami bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan terhentinya pembelajaran, tetapi juga dengan solidaritas sosial, kesenjangan kesempatan, dan pentingnya kesadaran kritis. Generasi muda perlu dipersiapkan bukan hanya agar mampu menghadapi gangguan pendidikan akibat bencana, tetapi juga agar memiliki kepedulian sosial dan keberanian untuk ikut menjaga lingkungan. Sebab, menjaga lingkungan berarti turut menjaga keberlangsungan pendidikan dan masa depan generasi berikutnya.
