Membaca Bahasa Jujur Anak-Anak Panti Asuhan

Creative Consultant in every medium, Lecturer at Product Design Department, Podomoro University
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Abang Edwin SA (Bangwin) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda melihat seorang anak kecil terus-menerus mengelupas cat dinding? Atau seorang remaja panti yang memilih mengurung diri sambil memetik senar gitar tanpa henti? Bagi masyarakat umum atau pengasuh, perilaku mengelupas dinding kerap dianggap "iseng" atau "kebiasaan buruk" yang perlu ditegur (Shu, 2026). Sementara itu, luapan emosi seperti memukul atau melempar barang sering kali disederhanakan sebagai masalah disiplin belaka (Shu, 2026).
Namun, sebuah sudut pandang baru yang empatik lahir dari hasil penelitian ilmiah mahasiswa Program Studi Desain Produk Universitas Podomoro (Shu, 2026; Erin, 2026). Lewat dua kajian ilmiah mendalam di Panti Asuhan Karena Kasih, Sunter, Jakarta Utara, terungkap bahwa tindakan-tindakan spontan tersebut sebenarnya merupakan bahasa tubuh dan ekspresi emosional yang paling jujur dalam merespons lingkungan fisik sekitar (Shu, 2026; Erin, 2026).
Kolaborasi Akademis dan Pengabdian Masyarakat: Merancang Bersama Pengguna
Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa ini bukan sekadar kajian di atas kertas, melainkan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang terintegrasi langsung dengan perkuliahan Studio Desain Produk 4 dan Seminar Desain 2 pada Semester Genap 2025/2026 di Universitas Podomoro.
Di bawah bimbingan tim dosen yang terdiri dari Abang Edwin S.A., Aloysius Baskoro Junianto, Elaine S. Tumilar, dan David Widyanto, sebanyak tujuh mahasiswa turun langsung ke Panti Asuhan Karena Kasih yang berlokasi di Jalan Danau Agung 2 No. 7, Sunter Agung, Jakarta Utara. Selama satu semester penuh, para mahasiswa menerapkan pendekatan Desain Partisipatif—sebuah metode kolaboratif yang melibatkan pengguna akhir secara aktif dalam seluruh proses perancangan (Frauenberger et al., 2012).
Melalui tahapan empathize dan define, para mahasiswa hidup berbaur dengan anak-anak panti, staf, dan pengasuh untuk memahami permasalahan fisik maupun emosional dari kacamata penghuni. Proses ini dilanjutkan ke fase ideate dan pembuatan prototipe produk solusi, hingga akhirnya diuji dan dipresentasikan pada Ujian Akhir Semester sebagai bentuk evaluasi dan refleksi bersama.
Dinding Polos dan Sinyal Tubuh yang "Lapar" Stimulasi
Dalam studi fenomenologi yang disusun oleh Trevya Lauren Shu (2026), difokuskan penelitian pada interaksi fisik anak-anak dengan ruang komunal panti. Lingkungan panti asuhan umumnya dirancang atas dasar efisiensi fungsi kolektif: kasur tingkat tersusun rapat, meja belajar massal, serta lorong-lorong dengan tembok polos tanpa tekstur (Norberg-Schulz, 1980; Shu, 2026).
Kondisi yang monoton ini menciptakan "kelaparan sensorik" pada tubuh anak. Secara pra-sadar, tubuh anak merespons lingkungan secara langsung melalui motor intentionality (Merleau-Ponty, 1945; Shu, 2026):
Mengelupas Cat Dinding: Bukan tindakan perusakan yang disengaja, melainkan respons refleksif tubuh (tactile seeking) untuk mendapatkan variasi tekstur dan sensasi taktil yang tidak disediakan oleh perabot panti yang serba rata dan halus (Gibson, 1979; Heft, 1988; Shu, 2026).
Memukul Benda atau Melempar Botol: Ketika menghadapi tekanan emosional, anak memukul tembok atau melempar botol (fight) karena tidak ada satu pun objek di panti yang sengaja dirancang untuk menerima dan merespons dampak fisik secara aman (Shu, 2026).
Kajian ini menegaskan bahwa instruksi atau teguran disiplin berulang kali tidak akan pernah berhasil menghentikan perilaku tersebut, sebab masalah utamanya ada pada lingkungan fisik yang miskin akan affordance sensorik (Gibson, 1979; Rapp et al., 2006; Shu, 2026).
Saat Kata-Kata Tak Cukup: Musik dan Coretan Sebagai Penyelamat
Jika lingkungan fisik panti kerap memicu kerinduan akan stimulasi taktil, studi kedua yang ditulis oleh Erin (2026) memperlihatkan bagaimana media kreatif hadir sebagai saluran penyelamat bagi emosi anak-anak panti.
Di tengah ruang komunal yang minim batas pribadi, mengungkapkan isi hati secara langsung/verbal sering kali terasa canggung atau menakutkan bagi anak-anak (Rogers, 1961; Erin, 2026). Melalui wawancara mendalam dan dokumentasi visual, ditemukan bahwa aktivitas menggambar dan bermain musik memberi ruang aman yang bebas tekanan (Winnicott, 1971; Erin, 2026):
Gitar Sebagai Perpanjangan Diri: Bagi remaja panti, gitar bukan sekadar alat musik, melainkan representasi emosi dan perpanjangan dari diri mereka sendiri (Ihde, 1990; Erin, 2026). Mereka merasa lebih lega menyampaikan rasa ganjal di hati melalui nada ketimbang kata-kata.
Piano Sebagai Tempat Berteduh: Suara dan irama piano memberikan efek menenangkan (calming effect) serta menciptakan pengalaman flow yang membantu anak memproses kejenuhan dan tekanan emosional (Csikszentmihalyi, 1990; Stuckey & Nobel, 2010; Erin, 2026).
Garis dan Warna Tanpa Batas: Aktivitas menggambar memberi kebebasan eksplorasi tanpa rasa takut dihakimi oleh orang lain (Norman, 2004; Erin, 2026).
Panggilan Bagi Dunia Desain dan Arsitektur
Penelitian kolaboratif yang dilakukan para mahasiswa Universitas Podomoro ini membuktikan bahwa usia sangat memengaruhi cara anak menavigasi kebutuhan tubuh dan emosinya (Shu, 2026; Erin, 2026). Anak-anak usia SD cenderung mengekspresikan kebutuhan sensorik secara langsung, sedangkan kelompok remaja mengalami hambatan sosial (takut dikomentari atau malu) sehingga kebutuhan emosional mereka bergeser ke ruang-ruang tersembunyi (Shu, 2026; Erin, 2026).
Temuan ini memberikan kontribusi dan masukan penting bagi dunia desain produk maupun arsitektur sosial (Norman, 2004; Folkmann, 2013):
Perancangan hunian anak tidak boleh hanya berfokus pada kepatuhan sistem dan kapasitas ruangan semata (Norberg-Schulz, 1980; Shu, 2026).
Objek fisik perlu memiliki kekayaan tekstur dan imaginative potential—objek yang responsif terhadap rabaan dan benturan tanpa terlihat seperti "alat terapi" (Folkmann, 2013; Shu, 2026).
Penyediaan fasilitas dan media kreatif yang memadai adalah bentuk pemenuhan kebutuhan dasar psikologis anak-anak di lingkungan komunal (Winnicott, 1971; Stuckey & Nobel, 2010; Erin, 2026).
Melalui pendekatan Desain Partisipatif, riset ilmiah mahasiswa ini berhasil mengubah cara pandang kita: dari yang semula menghakimi perilaku anak lewat kacamata disiplin, menjadi mendengarkan pesan implisit yang ingin disampaikan oleh tubuh serta karya kreatif mereka (Shu, 2026; Erin, 2026).
Rujukan
Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. New York: Harper & Row.
Erin. (2026). Studi Fenomenologi Terhadap Ekspresi Diri Anak Panti Asuhan Karena Kasih Melalui Media Visual dan Aktivitas Kreatif. Makalah UAS Seminar Desain 2, Program Studi Desain Produk, Universitas Podomoro, Jakarta.
Folkmann, M. N. (2013). The Aesthetics of Imagination in Design. MIT Press.
Frauenberger, C., Good, J., & Keay-Bright, W. (2012). Phenomenology as a framework for participatory design. Proceedings of the 12th Participatory Design Conference, 59-68.
Gibson, J. J. (1979). The Ecological Approach to Visual Perception. Houghton Mifflin.
Heft, H. (1988). Affordances of children's environments: A functional approach to environmental description. Children's Environments Quarterly, 5(3), 29-37.
Ihde, D. (1990). Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth. Indiana University Press.
Merleau-Ponty, M. (1945). Phenomenology of Perception. Routledge.
Norberg-Schulz, C. (1980). Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture. Rizzoli.
Norman, D. A. (2004). Emotional Design: Why We Love (or Hate) Everyday Things. Basic Books.
Rapp, J. T., Dozier, C. L., & Carr, J. E. (2006). Competing activities as an intervention for automatically reinforced behavior: A systematic review. Research in Developmental Disabilities, 27(1), 69-89.
Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist's View of Psychotherapy. Houghton Mifflin.
Shu, T. L. (2026). Perilaku Tactile Seeking dan Fight pada Anak Panti Asuhan di Ruang Komunal. Makalah UAS Seminar Desain 2, Program Studi Desain Produk, Universitas Podomoro, Jakarta.
Stuckey, H. L., & Nobel, J. (2010). The connection between art, healing, and public health: A review of current literature. American Journal of Public Health, 100(2), 254-263.
Winnicott, D. W. (1971). Playing and Reality. London: Routledge.
Catatan:
Artikel ini disusun oleh tim dosen program studi Desain Produk Universitas Podomoro: Abang Edwin Syarif Agustin, Aloysius Baskoro Junianto, Elaine Steffanny Tumilar, dan David Widyanto
Berdasarkan tugas mata kuliah Studio Desain Produk 4, yang mahasiswanya terdiri dari: Trevya Lauren Shu, Erin, Jonathan Venarial Guna Widjaya, Gabrielle Esther Timothea, Jonathan, Graciela Christie, dan Jeremiah Adrian Sinatra
