Konten dari Pengguna

Haji, Iduladha, dan Pelajaran tentang Menjadi Manusia

Abdul Bari

Abdul Bari

a life long learner, saat ini berkarir sebagai Direktur Utama di PT Jaminan Kredit Indonesia (PT Jamkrindo)

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Bari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tahun ini saya mendapat kesempatan luar biasa untuk menjalankan ibadah haji yang merupakan rukun islam ke lima. Bagi saya ibadah ini merupakan ibadah yang tentunya sudah saya nanti-nantikan karena menghadirkan pengalaman spiritual dan batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di Tanah suci saya diingatkan kembali mengenai hakikat diri yaitu hanyalah hamba yang kecil di hadapan Allah. Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, ibadah haji menjadi contoh nyata apa yang kita miliki di dunia tidak lah begitu berarti. Kita semua sama, memakai pakaian ihram yang sama, berjalan di tempat yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama dan tidak ada lagi sekat jabatan, kekayaan, profesi, maupun status sosial.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 27, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,” ayat ini terasa begitu nyata saat berada di Tanah Suci. Sebab jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan latar belakang berkumpul memenuhi panggilan yang sama menuju Baitullah. Ada yang datang setelah menunggu bertahun-tahun, ada yang menempuh perjalanan panjang dengan segala keterbatasan, namun semuanya datang dengan tujuan yang sama: memenuhi panggilan Allah.

Di setiap langkah ibadah haji ini, banyak pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan empati yang saya dapatkan. Ketika melihat jutaan orang saling membantu, berbagi ruang, berbagi air, dan saling mendoakan, terasa bahwa ibadah haji bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memuliakan sesamanya, menjadi manusia.

Abdul Bari.

Haji mengajarkan kesederhanaan dengan cara yang sangat nyata. Dalam ihram, semua simbol kemewahan dilepaskan. Tidak ada lagi atribut yang menunjukkan siapa yang paling kaya atau paling berkuasa. Semua berdiri setara. Semua menunggu giliran, berjalan bersama, dan merasakan lelah yang sama. Dari sana muncul kesadaran bahwa pada akhirnya manusia tidak dinilai dari apa yang dimiliki, melainkan dari ketakwaan dan ketulusan hatinya

Dari ibadah haji ini saya belajar bahwa semua hal duniawi yang selama ini dibanggakan ternyata sangat kecil di hadapan Allah. Jabatan, kekayaan, pencapaian—semuanya bisa terasa tidak berarti dibanding ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah. Dari sana lahir refleksi bahwa hidup yang bermakna bukan hanya tentang sukses dunia, tetapi tentang bagaimana menjaga hati, memperbaiki diri, dan memperlakukan sesama dengan baik.

Seperti diketahui bersamam Puncak perjalanan haji terjadi saat wukuf di Arafah. Wukuf bukan sekadar berdiam di Arafah. Ini adalah momen ketika manusia seperti dipertemukan kembali dengan dirinya sendiri. Di tengah panasnya padang Arafah dan lautan manusia yang larut dalam doa, hati seakan dipaksa berhenti dari hiruk-pikuk dunia. Pada saat itu, manusia menyadari betapa kecil dirinya dan betapa banyak hal yang selama ini terlalu dibanggakan ternyata tidak memiliki arti apa-apa di hadapan Allah.

Dalam sebuah hadis masyhur, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Al-Hajju Arafah" yang berarti "Haji itu adalah Arafah" (HR. Tirmidzi). Pernyataan ini menegaskan bahwa wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling utama.

Sabda Rasulullah itu terasa begitu hidup ketika berada di Arafah. Di sana, manusia seperti diingatkan tentang hari ketika seluruh umat manusia kelak dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tidak ada lagi atribut dunia, tidak ada lagi kebanggaan atas pencapaian, tidak ada lagi hal yang dapat disombongkan. Yang tersisa hanyalah amal, doa, dan harapan akan rahmat Allah.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang banyak (Arafah), dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199).

Di Arafah saya belajar bahwa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya. Padahal pada akhirnya hidup bukan tentang seberapa tinggi kedudukan seseorang, melainkan tentang seberapa bersih hatinya dan seberapa tulus ia menjalani hidup sebagai hamba Allah.

Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan menuju Muzdalifah. Di tempat ini, jutaan jamaah bermalam di bawah langit terbuka. Tidak ada kenyamanan seperti yang biasa dicari manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hanya hamparan tanah, udara malam, dan manusia-manusia yang kelelahan namun tetap berzikir kepada Allah. Namun lebih dari itu, Muzdalifah mengajarkan tentang makna kesederhanaan dan kepasrahan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa harus mengendalikan segalanya: rencana, masa depan, bahkan jalan hidupnya sendiri. Padahal ada banyak hal yang berada di luar kuasa manusia. Di Muzdalifah, saya belajar bahwa ketenangan justru hadir ketika manusia berhenti memaksakan kehendaknya dan mulai berserah penuh kepada Allah.

Malam di Muzdalifah terasa sederhana, tetapi justru di situlah hati terasa begitu dekat dengan Allah. Tidak ada kemewahan, tidak ada kesibukan dunia, tidak ada yang benar-benar dimiliki manusia selain doa dan harapan kepada-Nya.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Mina. Di Mina, jamaah melaksanakan lempar jumrah dan mabit. Sepintas, lempar jumrah tampak seperti ritual melempar batu kecil. Namun sesungguhnya, ritual itu menyimpan makna yang sangat dalam tentang perjuangan manusia melawan dirinya sendiri.

Setiap lemparan menjadi simbol perlawanan terhadap kesombongan, ego, hawa nafsu, amarah, dan segala hal yang menjauhkan manusia dari Allah. Sebab sering kali musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri — rasa ingin selalu benar, ingin dipuji, ingin lebih tinggi dari orang lain, dan sulit menerima kekurangan diri. Mina mengajarkan bahwa menjadi manusia yang lebih baik bukanlah proses yang selesai dalam satu waktu. Ia adalah perjuangan yang harus terus dilakukan setiap hari: belajar ikhlas, mengendalikan ego, menjaga hati, dan memuliakan sesama manusia.

Dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina, saya merasakan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, namun sebuah perjalanan untuk membersihkan hati dan mengembalikan manusia pada fitrahnya.

Selain itu, momentum Iduladha yang hadir di tengah rangkaian ibadah haji juga membawa makna yang sangat mendalam tentang arti pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran tentang keikhlasan dan ketundukan total kepada Allah. Bahwa dalam hidup, sering kali manusia diminta untuk melepaskan ego, kenyamanan, ambisi, bahkan hal-hal yang paling dicintai, demi sesuatu yang lebih besar dan lebih bermakna. Qurban mengajarkan bahwa pengorbanan sejati bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang kemampuan menyembelih kesombongan, keakuan, dan keterikatan duniawi dalam diri kita.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu,”.

Ayat ini mengingatkan bahwa esensi qurban dan seluruh rangkaian ibadah haji bukan terletak pada ritual lahiriahnya semata, melainkan pada ketulusan hati dan ketakwaan manusia di hadapan Allah. Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan qurban, tetapi Allah melihat keikhlasan, ketaatan, serta kesediaan manusia untuk berkorban dan menundukkan ego demi mendekat kepada-Nya.

Haji dan Iduladha mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin rendah hati dan semakin peduli kepada orang lain. Pada akhirnya, haji bukan sekadar perjalanan menuju Baitullah, tetapi perjalanan untuk kembali mengenal diri sendiri. Dan Iduladha bukan hanya tentang perayaan qurban, melainkan pengingat bahwa hidup yang bermakna selalu membutuhkan keikhlasan untuk berkorban. Dari Tanah Suci, saya semakin belajar bahwa manusia terbaik bukanlah yang paling tinggi kedudukannya, tetapi yang paling mampu menjaga hati, menghargai sesama, dan menempatkan Allah di atas segala-galanya.

Haji dan Iduladha pada akhirnya bukan hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi mengajarkan cara menjadi manusia yang kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Allah, seperti firman allah yang mengatakan. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).