Konten dari Pengguna
Katanya Pecinta Alam, Kok Malah Merusak Lingkungan?
8 Oktober 2025 13:10 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Katanya Pecinta Alam, Kok Malah Merusak Lingkungan?
Artikel tentang ironi di balik tren pendakian gunung.Abbelyn Wu
Tulisan dari Abbelyn Wu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Gunung, hutan, dan alam bebas sering disebut sebagai tempat pelarian dari kekacauan kehidupan kota. Banyak orang mengaku sebagai ‘pecinta alam’ dan menjadikan aktivitas mendaki gunung sebagai bentuk kecintaan terhadap keindahan bumi. Namun, ironisnya tidak sedikit dari mereka yang justru meninggalkan jejak kerusakan di tempat yang mereka puja-puja.
ADVERTISEMENT
Gunung Prau di kawasan Dieng, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu destinasi favorit para pendaki pemula maupun berpengalaman. Dengan pemandangan sunrise yang memukau dan padang rumput yang luas, Prau seolah menjadi magnet bagi para pencari ketenangan.
Namun, pengalaman mendaki penulis ke Prau tahun lalu, membuka mata penulis terhadap kenyataan pahit: tumpukan sampah berserakan di sepanjang jalur pendakian dan area kemping. Mulai dari bungkus mie instan, botol plastik, hingga sisa makanan yang ditinggalkan begitu saja. Beberapa pendaki bahkan dengan santainya membuang sampah ke semak-semak, seolah alam adalah tempat pembuangan akhir.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar apakah mereka benar-benar pecinta alam, atau hanya demi update instastory?
Dalam beberapa tahun terakhir, tren pendakian gunung meningkat tajam, terutama setelah pandemi COVID-19. Banyak orang yang mencari pelarian ke alam terbuka sebagai bentuk healing. Namun, peningkatan jumlah pendaki tidak selalu beriringan dengan peningkatan kesadaran lingkungan.
ADVERTISEMENT
“Trail morphology and impacts to soil induced by a small mountain bike race series” menunjukkan bahwa aktivitas rekreasi di jalur pegunungan, termasuk pendakian dan balap sepeda, dapat menyebabkan perubahan signifikan pada struktur tanah dan vegetasi. (Martin & Butler, Journal of Environmental Management, 2021). Off trail trampling yaitu berjalan di luar jalur resmi dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada vegetasi di tanah gunung. Tanah menjadi lebih keras, porositas menurun, dan kemampuan menyerap air menjadi berkurang. Akibatnya, erosi meningkat dan keanekaragaman hayati menurun.
Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai dan konsumsi gear yang tidak berkelanjutan berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan riset tentang barang yang akan dibawa ke gunung. Apakah barang tersebut dapat dikompos dengan mudah atau menjadi barang anorganik yang harus dibawa turun setelah mendaki gunung?
ADVERTISEMENT
Budaya media sosial turut memperparah masalah ini. Banyak pendaki yang lebih fokus untuk mendokumentasikan daripada fokus pada jalur pendakian. Hal tersebut menyebabkan etika pendakian yang seringkali diabaikan. Konsep mencintai alam harusnya direalisasikan dengan menjaga dan melestarikan alam bukan hanya dengan video 15 detik untuk mempercantik feed Instagram.
Edukasi adalah kunci. Basecamp dan pengelola wisata alam perlu memberikan briefing tentang etika pendakian. Saat ini banyak komunitas pendaki seperti Mountnesia yang sudah mulai menerapkan edukasi lewat media sosial. Selain itu, setiap calon pendaki perlu melakukan literasi dan sadar bahwa mencintai alam bukan hanya soal menikmati keindahannya tetapi juga menjaga kelestarian. Membawa turun sampah sendiri, tidak membuat jalur baru, dan menggunakan gear yang tahan lama adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar.
ADVERTISEMENT
Pemerintah daerah dan pengelola kawasan pendakian juga harus menerapkan sistem dan sanksi, sebagai contoh di Gunung Kembang, Jawa tengah setiap pendaki harus melewati pengecekan dan penghitungan jumlah barang yang berpotensi menjadi sampah seperti botol dan kemasan konsumsi sekali pakai. Lalu, saat pendaki kembali ke basecamp, petugas pengelola kawasan pendakian akan menghitung kembali untuk memastikan jika kemasan tersebut dibawa turun seutuhnya. Jika ada yang tidak lengkap, pendaki harus membayar sanksi sebesar Rp1.025.000 per item atau kembali mencari sampah anorganik yang dibuang di gunung. Peraturan ini membuat Gunung Kembang menjadi salah satu gunung terbersih di Indonesia.
Gunung bukanlah panggung untuk memuaskan ego manusia. Gunung memberikan lebih dari sekadar pemandangan indah, ia menyimpan air yang mengalir ke sungai-sungai, menjadi sumber irigasi untuk pertanian, dan menjadi rumah untuk berbagai ekosistem yang bermanfaat. Bahkan secara spiritual, banyak kebudayaan lokal Indonesia yang memandang gunung sebagai tempat suci; penghubung antara bumi dan langit pada masyarakat Hindu.
ADVERTISEMENT
Buah dari gunung bukan hanya hasil hutan, tetapi juga pelajaran tentang kesabaran, kerendahan hati, dan keterhubungan manusia dengan alam. Ketika kita mendaki, kita diajak untuk menghargai setiap langkah dan betapa kecilnya kita di hadapan gunung.
Maka, mendaki gunung seharusnya menjadi bentuk penghormatan bukan eksploitasi. Kita datang bukan untuk menaklukan, tetapi untuk belajar dan menerima warisan alam yang sudah memberi begitu banyak tanpa meminta balasan.

