Konten dari Pengguna

Sindrom Dual-Boot: Membedah Spesies 'Muka Dua' di Topologi Birokrasi

Abd Rahman

Abd Rahman

Pengajar IT yang lebih sering menemukan bug pada birokrasi daripada di aplikasi. Menulis tentang IT, kampus, dan dunia digital dari bawah kaki gunung gamalama.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abd Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilistrasi dual boot
zoom-in-whitePerbesar
ilistrasi dual boot

Di setiap sudut institusi—entah itu di ruang rektorat, fakultas, maupun instansi pemerintahan—pasti selalu ada satu spesies pegawai yang evolusinya sangat menakjubkan. Kemampuan bertahan hidup mereka jauh melampaui kecerdasan kecoa di era kepunahan dinosaurus.

Mari kita identifikasi ciri fisiknya. Ketika Anda dan rekan-rekan sedang duduk di kantin atau pantry, mengkritik tajam kebijakan pimpinan yang lalim, spesies ini akan hadir di tengah Anda. Ia mengangguk paling antusias, menimpali dengan kalimat-kalimat yang terdengar heroik, dan ikut mengutuk sang penguasa. Di mata kaum kritis, ia tampak seperti kawan seperjuangan.

Namun, perhatikan keajaiban yang terjadi beberapa jam kemudian.

Saat sang pimpinan yang baru saja ia kutuk itu melintas di koridor atau memimpin rapat, spesies ini mendadak bermutasi. Tulang punggungnya otomatis melengkung sembilan puluh derajat. Ia akan menjadi orang pertama yang menarik kursi untuk sang bos, tertawa paling keras saat bos melempar lelucon garing, dan memuji kebijakan yang paginya baru saja ia ludahi.

Dalam pergaulan awam, manusia berwujud amfibi ini sering dilabeli dengan istilah kasar: penjilat, cari aman, atau si muka dua. Namun, sebagai kaum akademis, mari kita bedah kelainan perilaku ini menggunakan pisau bedah ilmu Sistem Informasi dan Psikologi Klinis.

Serangan Man-in-the-Middle (MitM)

Dalam arsitektur Keamanan Siber (Cyber Security), kelakuan manusia jenis ini identik dengan salah satu metode peretasan paling licik yang disebut Man-in-the-Middle (MitM) Attack.

Sebuah serangan MitM terjadi ketika peretas menyusup ke tengah-tengah komunikasi antara dua pihak (misalnya, antara User dan Server). Sang peretas tidak pernah menyerang secara frontal. Sebaliknya, ia menyamar menjadi teman bagi si User, sambil di saat yang bersamaan ia juga mengirimkan sinyal kepatuhan palsu kepada si Server.

Pegawai bermuka dua beroperasi dengan algoritma yang persis sama. Mereka bertindak sebagai Router bodong. Di hadapan kelompok kritis (VLAN 1), mereka menyadap simpati dan mengumpulkan informasi. Namun, paket data informasi tersebut sering kali mereka forward (teruskan) ke telinga pimpinan (VLAN 2) sebagai alat tukar (currency) demi mendapatkan privilese, perlindungan, atau sekadar promosi jabatan murahan.

Mereka menolak untuk meng- install satu prinsip yang tegak lurus. Otak mereka dirancang menggunakan sistem Dual-Boot—layaknya komputer yang bisa menjalankan sistem operasi Linux saat berkumpul dengan para pemberontak, dan buru-buru me-restart dirinya ke mode Windows Corporate saat bos besar datang menghampiri.

Social Chameleon dan Ambiguitas Strategis

Pertanyaannya, mengapa mereka memilih jalan hidup selicik ini?

Secara psikologis, mereka sedang mempraktikkan apa yang disebut oleh Tanya Chartrand dan John Bargh (1999) sebagai The Chameleon Effect (Efek Bunglon). Ini adalah gangguan di mana seseorang secara tidak sadar—atau dalam kasus birokrasi, secara sangat sadar—meniru postur tubuh, bahasa, dan opini orang yang ada di depannya demi diterima secara sosial dan menghindari konflik terbuka.

Di dunia manajemen organisasi, taktik pengecut ini dilegitimasi dengan istilah yang lebih elit: Strategic Ambiguity (Ambiguitas Strategis). Teori yang dipopulerkan oleh Eric Eisenberg ini menjelaskan bagaimana seseorang sengaja berkomunikasi secara abu-abu dan tidak pernah mengambil sikap tegas.

Ketika ada kebijakan kampus yang bermasalah, spesies Dual-Boot ini tidak akan pernah menulis opini, tidak akan pernah bersuara di forum resmi, dan tidak akan meneken petisi apa pun. Mereka beroperasi di atas sebuah Zero-Risk Algorithm (Algoritma Nol Risiko). Jika kelompok kritis menang, mereka akan mengklaim, "Kan saya dari awal sudah dukung kalian di WhatsApp." Namun jika pimpinan yang menang, mereka akan berbisik, "Bapak tahu sendiri kan, saya tidak pernah ikut-ikutan aksi mereka."

Sungguh sebuah kalkulasi probabilitas yang sangat mengesankan, sekaligus menjijikkan secara moral.

Di ujung rantai ekosistem birokrasi, spesies Man-in-the-Middle ini mungkin merasa diri mereka sangat pintar. Mereka merasa telah berhasil mengelabui seleksi alam dengan selamat dari setiap pergantian rezim.

Padahal, jika kita menatapnya secara objektif, nasib mereka sama tragisnya dengan flash disk yang terlalu sering dicolok-cabut di berbagai komputer yang penuh virus. Cepat atau lambat, integritas data mereka akan mengalami File Corruption.

Kaum pengkritik tidak akan pernah benar-benar memercayai mereka karena tahu mereka adalah pembocor. Sementara itu, pimpinan yang waras juga tidak akan pernah benar-benar menghormati mereka, karena tahu kesetiaan yang bisa dibeli dengan senyuman dan sisa proyek, adalah kesetiaan yang paling murah harganya.

Berhati-hatilah jika menemukan perangkat Dual-Boot ini di meja sebelah Anda. Jangan pernah menitipkan password perjuangan kepada mereka yang source code nuraninya telah lama tergadai.