Konten dari Pengguna

Mengapa Orang-Orang Bodoh Tidak Menggunakan AI?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdan Sakura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI sebagai bagian dari eksplorasi manusia dan teknologi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI sebagai bagian dari eksplorasi manusia dan teknologi.

Saya kira hampir semua orang pernah mendengar kalimat ini: “Ah, itu kan pakai AI.”

Biasanya kalimat itu muncul setelah seseorang melihat tulisan yang rapi, gambar yang menarik, atau sebuah karya yang terlihat terlalu sempurna untuk dibuat dalam waktu singkat. Dan menariknya, kalimat itu jarang muncul sebagai pujian.

Sebagian orang langsung meremehkan hasilnya. Sesuatu yang dibuat dengan bantuan AI dianggap tidak memiliki nilai. Sesuatu yang merendahkan diri sendiri, menggunakan AI dipandang sebagai cara yang culas, akal-akalan, atau sekadar bentuk kemalasan berpikir.

Di sisi lain, ada juga orang yang menggunakan AI tetapi memilih untuk tidak mengatakannya. Mereka ingin karyanya tetap dianggap sepenuhnya hasil pemikiran sendiri. Bagi sebagian orang, menyembunyikan keterlibatan AI terasa lebih aman daripada harus menjelaskan bagaimana karya itu dibuat.

Kita sebetulnya tidak hanya menilai sebuah karya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses yang dilalui untuk menciptakannya. Semakin sulit karya itu dibuat, semakin besar pula penghargaan yang kita berikan.

Mungkin karena itu kita sering merasa bahwa sesuatu yang mudah dilakukan berarti kurang bernilai. Sesuatu yang cepat selesai dianggap tidak memiliki kualitas. Kita terbiasa menghubungkan kualitas dengan kesulitan, seakan-akan semakin rumit jalan yang ditempuh, semakin asli pula hasil yang dihasilkan.

Jika melihat sejarah panjang manusia, sebagian besar kemajuan justru lahir dari kemampuan kita menciptakan alat untuk membuat sesuatu yang sebelumnya sulit menjadi lebih mudah. Teknologi tidak diciptakan untuk membuat hidup kita semakin sulit.

Manusia selalu berkembang bukan hanya karena kemampuan biologis, tetapi karena kemampuannya memperluas diri melalui alat. Filsuf Maurice Merleau-Ponty pernah menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan alat bukan sekadar hubungan antara pengguna dan benda mati.

Alat dapat menjadi bagian dari cara manusia mengalami dunia. Tongkat bagi orang yang tidak dapat melihat, misalnya, bukan sekadar benda di tangan, tetapi menjadi perluasan dari cara tubuh memahami ruang.

Anda bisa membayangkan betapa sulitnya menyelesaikan perhitungan jika kalkulator tidak pernah ditemukan. Manusia mungkin masih harus menghabiskan banyak waktu menghitung semuanya secara manual.

Begitu juga dengan mesin cetak. Sebelum ditemukan, sebuah buku harus disalin dengan tangan selama berbulan-bulan. Setelah teknologi cetak hadir, pengetahuan dapat menyebar jauh lebih cepat.

Kita menciptakan kalkulator karena menghitung ribuan angka di kepala bukan pekerjaan yang mudah. Kita menciptakan mesin pencari karena tidak ada manusia yang punya cukup waktu untuk membuka jutaan halaman hanya demi menemukan satu informasi.

Anehnya, semua alat itu pada akhirnya kita terima sebagai kemajuan. Tetapi ketika sebuah alat yang kita sebut AI mulai membantu kita menyusun kalimat, mencari ide, atau memecahkan masalah, tiba-tiba kita menjadi alergi dan tidak percaya diri. Kita menjadi gugup melihat batas antara kemampuan diri kita dengan mesin AI.

Mungkin dulu berbagai kemajuan yang mempermudah hidup kita tidak pernah benar-benar masuk ke ranah yang paling pribadi. Berbeda dengan AI yang justru menyentuh wilayah yang selama ini kita anggap sangat personal: pikiran.

kita tidak keberatan ketika mesin menggantikan tenaga. Kita tidak tersinggung ketika eskalator membantu kaki kita naik ke lantai berikutnya. Kita tidak merasa kemampuan berjalan kita dihina oleh keberadaan sepeda, motor, mobil, dan berbagai alat lainnya.

Tetapi ketika mesin mulai membantu berpikir, kita mulai merasa ada sesuatu yang diambil dari diri kita. Karena selama ini pikiran adalah ruang terakhir yang kita yakini sepenuhnya milik manusia. Tempat lahirnya ide, imajinasi, dan karya yang membuat kita merasa berbeda dari makhluk lain.

Namun, jika melihat perjalanan manusia, hubungan kita dengan alat sebenarnya selalu lebih dekat dari yang kita bayangkan. Dalam teori Extended Mind, Andy Clark dan David Chalmers berpendapat bahwa pikiran manusia tidak selalu berhenti di dalam kepala.

Buku catatan, bahasa, komputer, dan berbagai teknologi lain dapat menjadi bagian dari sistem berpikir manusia ketika membantu kita mengingat, memahami, dan mengambil keputusan.

Apakah Tidak Menggunakan AI Membuat Kita Bodoh?

Mungkin pertanyaan ini terdengar kasar. Tetapi yang saya maksud bukan bodoh dalam arti seseorang tidak memiliki kecerdasan. Karena banyak orang tertinggal bukan karena mereka tidak mampu berpikir, tetapi karena terlambat menyadari bahwa cara manusia bekerja, belajar, dan memahami dunia sedang berubah.

Hal yang sama sedang terjadi hari ini. Banyak orang masih melihat AI dari permukaan. AI dianggap hanya sebagai mesin untuk membuat tulisan, memperbaiki kalimat, menghasilkan gambar, atau jalan pintas agar pekerjaan selesai lebih cepat.

Akhirnya, pembicaraan tentang AI berhenti pada debat kusir yang tertuju pada anggapan bahwa menggunakan AI membuat manusia menjadi malas dan bodoh.

Padahal, persoalannya bukan lagi antara orang yang memakai AI dan tidak memakai AI. Tetapi antara mereka yang hanya menjadikan AI sebagai mesin pemberi jawaban, dengan mereka yang memahami AI sebagai alat untuk memperluas kemampuan berpikir.

Atau dengan kata lain, pertanyaannya bukan apakah manusia masih berpikir ketika menggunakan AI. Tetapi bagaimana kualitas berpikir manusia berubah ketika memiliki alat baru untuk berpikir?

Survei KPMG bersama University of Melbourne terhadap lebih dari 48 ribu orang di 47 negara menunjukkan hanya 46 persen orang yang bersedia mempercayai sistem AI. Salah satu penyebabnya karena banyak yang belum memahami bagaimana AI bekerja.

Kekuatan terbesar AI sebenarnya bukan hanya membuat pekerjaan menjadi lebih cepat. Hal yang sering tidak kita sadari, AI mampu melihat sesuatu yang sulit dilihat manusia: komputasi simulasi dan pola.

Dalam ilmu komputer, kemampuan ini dikenal sebagai pattern recognition, yaitu kemampuan sistem komputasi mengenali pola dari kumpulan data yang sangat besar. Sesuatu yang sering kali tidak terlihat oleh intuisi manusia.

Dari jutaan informasi yang terlihat acak, AI dapat menemukan hubungan, membaca kemungkinan, dan membantu manusia memahami sesuatu sebelum mengambil keputusan.

Bahkan kita dapat melihat kebijakan pemerintah tidak hanya dibuat berdasarkan teori data dan pengalaman, tetapi juga melalui simulasi dampaknya. Dokter tidak hanya mengandalkan pemeriksaan, tetapi dibantu membaca pola penyakit dari jutaan data kesehatan.

Bahkan kekuatan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tentara atau sumber daya alam, tetapi juga kemampuan mengolah data informasi.

Dunia perlahan bergerak dari sekadar mencari informasi menuju kemampuan melakukan komputasi terhadap kemungkinan. Kita tidak hanya bertanya apa yang sudah terjadi, tetapi mulai mensimulasikan apa yang mungkin terjadi.

Dan mungkin yang paling dekat dengan kehidupan kita: AI perlahan membantu manusia memahami dirinya sendiri. Dari kebiasaan, cara berpikir, pola emosi, hingga potensi yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita sadari.

Saya jadi teringat apa yang pernah disampaikan oleh Marshall McLuhan:

Kita membentuk alat-alat kita, dan setelah itu alat-alat kita yang membentuk kita.”

Daftar Pustaka

Clark, A., & Chalmers, D. (1998). The Extended Mind. Analysis, 58(1), 7–19.

Culkin, J. M. (1967). A Schoolman’s Guide to Marshall McLuhan. The Saturday Review, 51–53.

KPMG & The University of Melbourne. (2025). Trust, Attitudes and Use of Artificial Intelligence: A Global Study 2025. KPMG International & The University of Melbourne.

McLuhan, M. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill.

Merleau-Ponty, M. (1945). Phénoménologie de la perception (Phenomenology of Perception). Paris: Gallimard.

Russell, S., & Norvig, P. (2021). Artificial Intelligence: A Modern Approach (4th ed.). Hoboken: Pearson.