Konten dari Pengguna

One Piece dan Ilusi Perlawanan Kaum Rebahan

Abdan Sakura

Abdan Sakura

Abdan Sakura adalah seorang peneliti di Indonesian Public Institute, Selain aktif menulis di media massa, dia juga pendiri komunitas PatunganIde yang mengangkat isu-isu politik dan filsafat.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdan Sakura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Istimewa

Saya tidak menyangka kain bergambar tengkorak bisa membuat ramai satu negeri. Itu bukan bendera bajak laut sungguhan, itu bendera One Piece.

Saya tidak terlalu peduli apakah simbol itu penting atau tidak. Yang lebih mengganggu bagi saya adalah betapa mudahnya masyarakat kita terjebak dalam simbolisme kosong.

Maksud saya, mengapa tiba-tiba selembar kain bergambar tengkorak dijadikan lambang perlawanan atas ketidakadilan?

Saya tidak menolak bahwa dunia anime memiliki daya kritis. Ia memang dapat menjadi wahana bagi siapa pun untuk menyampaikan aspirasi politik dan sosial.

Namun, yang kerap dilupakan adalah bahwa realitas fiksi dan realitas sosial-politik itu bukanlah cermin yang selalu simetris. Dunia Topi Jerami dari sisi mana pun bukanlah dunia rakyat Indonesia.

One Piece memang narasi heroik tentang bajak laut idealis yang melawan rezim korup. Nilai-nilainya, seperti persahabatan, pemberontakan terhadap tirani, dan pencarian kebenaran, bisa menginspirasi banyak orang.

Namun, inspirasi saja tidak bisa menggantikan perjuangan konkret, ketika lambang bajak laut itu hanya dijadikan panji perjuangan sosial tanpa mengerti etos dan cara hidup para tokohnya.

Maksud saya, apakah para pengibar bendera One Piece itu sudah lebih dulu belajar menjadi Nico Robin, yang menelusuri sejarah dunia secara kritis dan membacanya dengan penuh ketelitian?

Apakah mereka memiliki kedisiplinan dan ketekunan seperti Zoro, yang melatih tubuh dan tekadnya? Atau semangat kerja keras seperti Nami, yang membangun kekuatan dari keterbatasan?

Bahkan, adakah jejak keberanian moral seperti yang dimiliki Luffy, yang memilih bertarung bukan demi kemenangan, melainkan demi prinsip kebenaran yang diyakini?

Atau, mungkinkah ada seseorang seperti Kozuki Oden, yang mencintai negerinya dan rela berjalan menuju masa depan dengan tubuh terbakar demi menyelamatkan generasi yang akan datang?

Pertanyaannya, apakah mereka yang mengibarkan bendera itu memahami struktur di balik kisah tersebut? Bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan tak cukup hanya dengan mengangkat bendera.

Dalam dunia fiksi, setiap tokoh menempuh perjalanan panjang dalam pembentukan jati diri. Mereka bukan pahlawan instan yang sekadar mengibarkan panji tanpa pemahaman, mereka adalah sosok-sosok yang terluka, belajar dari kegagalan, dan terus bertumbuh.

Karena itu, terasa ganjil ketika simbol dikibarkan sebagai lambang perlawanan, namun makna perjuangan mereka justru diabaikan. Yang diambil hanya permukaan, bukan substansi. Yang ditiru hanya estetika, bukan etos.

Kalaupun kisah Wano dalam One Piece dapat dibaca sebagai alegori pengalaman Indonesia, dari negeri yang kaya dan mandiri menjadi wilayah yang dijajah oleh elit sendiri, sumber daya dirampas, budaya diabaikan, dan keadilan ditentukan oleh kekuasaan, paradoks tetap muncul. Sebab ini bukanlah dunia dua dimensi dengan konflik hitam putih yang kebetulan relevan.

Di negeri ini, penindasan tidak selalu datang dengan wajah bengis. Ia bisa tampil ramah, berbicara seolah mewakili rakyat. Kekuasaan bisa berpidato tentang keadilan sambil merampasnya pelan-pelan. Eksploitasi bisa dikemas dalam bentuk konser, festival, dan panggung hiburan.

Dan penderitaan? Tidak selalu dramatis seperti Ohara yang dibakar habis. Kadang, wujudnya hanya berupa harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, upah yang tidak mencukupi, atau biaya pendidikan yang semakin memberatkan.

Jika fiksi digunakan untuk membaca realitas, namun pemahaman berhenti pada simbol semata, maka yang terjadi bukanlah perlawanan, melainkan fetisisme simbol.

Yang mana simbol menjadi komoditas emosi, dipuja, difoto, dibagikan, lalu dilupakan. Setelah itu? Tidak ada kerja kolektif. Tidak ada arah gerakan. Tidak ada ruang bagi diskusi ide.

Simbol memang dapat membakar semangat, tetapi ketika digunakan tanpa pemahaman, ia hanya menjadi kosmetika ideologis, hiasan perjuangan yang kehilangan substansinya.

Seperti kata Jean Baudrillard dalam gagasannya mengenai simulacra, ketika realitas digantikan oleh citra yang tampak kuat namun kosong secara esensi.

Itu sebabnya, masyarakat masih dapat percaya bahwa mengibarkan bendera Luffy dianggap cukup untuk melawan ketidakadilan, seolah dunia dapat berubah hanya melalui unggahan ulang dan kaus bergambar tengkorak.

Hal yang sama terjadi pada adopsi topeng Guy Fawkes dari V for Vendetta, kekaguman pada distopia pemberontakan dalam Attack on Titan, atau bahkan Indonesia dalam sebutan Konoha.

Alih-alih memproduksi gerakan politik yang kritis, yang tumbuh dari pembacaan struktur sosial dan ekonomi secara sistematis, kita justru mereproduksi kepalsuan.

Kita membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk mengangkat simbol, kita membutuhkan keberanian untuk bertumbuh, seperti para tokoh One Piece yang kita kagumi itu.

Sebab, dalam sejarah, seperti kisah Joy Boy, tidak diubah oleh mereka yang ramai bersorak, tetapi oleh mereka yang diam-diam belajar, menelusuri sejarah kebenaran, memperjuangkannya, dan memikul beban harapan dunia.