Konten dari Pengguna

Sarapan Alpukat dan Sepiring Berita Buruk Maudy Ayunda

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdan Sakura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Istimewa

Beberapa hari terakhir, linimasa saya dipenuhi namanya. Sebagai orang yang saban hari terbiasa mengunyah wacana publik dan kabar-kabar buruk dari negeri ini, wajah Maudy Ayunda bertengger di mana-mana. Ia bukan sekadar figur publik, ia adalah ikon yang oleh masyarakat kita telanjur diberi beban sebagai representasi kelas terpelajar.

Riuhnya tanggapan netizen memantik rasa penasaran saya. Saya menonton videonya dari awal hingga akhir, tanpa prasangka, dengan ketelitian penuh. Namun, hal pertama yang menarik perhatian saya bukanlah teori yang ia tuturkan, melainkan sebuah jeda di awal video, ketika ia sempat tertegun menunggu kompor listriknya menyala.

Di balik estetika dapur yang tenang, dentang alat masak yang rapi, dan suasana sarapan yang begitu personal itu, saya menyadari ada sebuah kontras yang menarik, persoalan publik dengan skala yang sangat luas sedang dibicarakan melalui ruang domestik yang sangat individual.

Sambil menimbang cottage cheese 50 gram, meracik roti alpukat, dan mengocok tiga butir telur, Maudy membagikan cara menghadapi kabar buruk yang menurutnya telah membombardir kita selama beberapa bulan, bahkan mungkin setahun terakhir, baik dari dunia internasional maupun lokal.

Ia berbicara tentang rasa kewalahan, ketidakberdayaan, kecenderungan menangis dan marah ketika melihat berita buruk terus-menerus, kemudian menjelaskan keadaan tersebut melalui perspektif evolusi manusia, negativity bias, serta pemikiran Epictetus mengenai batas kendali manusia.

Setelah itu, ia masuk ke bagian yang lebih praktis, mengkurasi sumber informasi, membatasi waktu mengonsumsi berita, berhenti membaca ketika merasa sudah cukup, menyeimbangkan berita buruk dengan buku, dokumenter, alam, percakapan yang bermakna, serta hal-hal kecil yang indah dalam kehidupan.

Pada titik tertentu, saya kira hampir semua orang dapat memahami apa yang sedang ia coba lakukan. Ia tidak sedang mengatakan bahwa berita buruk itu tidak nyata. Bahkan secara eksplisit ia menyampaikan kita tetap perlu terlibat dan melakukan apa yang bisa dilakukan. Ia sendiri mengakui ada masa ketika ia merasa tidak berdaya, menangis, marah, dan frustrasi.

Karena itu, kritik terhadap videonya tidak akan tepat jika hanya menuduh Maudy mengajak masyarakat bersikap apatis. Videonya sendiri tidak mendukung kesimpulan itu.

Namun, poin yang jauh lebih menarik justru terletak pada cara ia memetakan masalah. Ia menjelaskan bagaimana otak manusia merasa kewalahan akibat dibombardir berita buruk, bagaimana negativity bias memicu kita membesar-besarkan hal buruk, dan mengapa frustrasi muncul saat kita berusaha mengendalikan hal di luar jangkauan.

Semua penjelasan itu relevan untuk memahami pengalaman psikologis seseorang, tetapi meninggalkan satu pertanyaan mendasar, berita buruk yang mana, dan persoalan seperti apa yang sebenarnya sedang kita bicarakan?

Pertanyaan ini penting karena “berita buruk” bukanlah satu kategori tunggal. Ketika seseorang terus-menerus membaca kabar mengenai perang di negara lain, bencana alam, kematian seseorang, atau tragedi yang tidak memungkinkannya berinteraksi langsung, tentu masuk akal apabila ia perlu mengatur paparan informasi dan menjaga kapasitas mentalnya agar tidak mengalami kelelahan emosional.

Dalam konteks tersebut, penjelasan mengenai keterbatasan perhatian manusia, kecenderungan negativity bias, dan gagasan Epictetus mengenai kendali memang relevan.

Persoalannya menjadi berbeda jika “berita buruk” yang dimaksud adalah korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan institusi hukum, kebijakan publik yang merugikan masyarakat, atau kerusakan lingkungan.

Seperti kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG), perang antar-institusi penegak hukum, pelemahan rupiah terhadap dolar, skandal korupsi bansos dan kuota haji, kasus pengadaan Al-Qur’an, hingga beban anggaran proyek Whoosh.

Meskipun Maudy tidak menyebut secara eksplisit namun maksud berita buruk, terutama lokal tak jauh-jauh dari berita buruk nasional kita. Dan oleh karenanya bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan oleh perkara mental ala stoik.

Sebab persoalan-persoalan tersebut tidak muncul semata-mata karena otak manusia memiliki negativity bias, dan tentu tidak akan selesai hanya karena individu berhasil mengatur napas, membatasi screen time, atau menyeimbangkan konsumsi berita dengan konten yang menyenangkan.

Di sinilah saya melihat ada persoalan dalam cara Maudy mempresisikan objek pembicaraannya. Ia tidak keliru ketika mengatakan bahwa manusia perlu menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi. Namun, persoalan mengelola kecemasan akibat berita buruk tidak sama dengan persoalan merespons kondisi sosial yang menghasilkan berita buruk tersebut.

Yang pertama adalah persoalan psikologis mengenai kapasitas individu dalam menerima informasi, sementara yang kedua adalah persoalan politik mengenai sebab, tanggung jawab, kekuasaan, institusi, dan kemungkinan perubahan.

Ketika keduanya diletakkan dalam satu kerangka yang sama, ada risiko bahwa masalah yang berada di luar diri individu justru diperlakukan terutama sebagai masalah yang harus diselesaikan di dalam diri.

Saya kira inilah titik yang membuat tuduhan tone-deaf terhadap video tersebut dapat dipahami, meskipun tuduhan itu tidak harus diarahkan kepada niat pribadi Maudy. Persoalannya bukan apakah ia berniat baik atau buruk, peduli atau tidak peduli.

Persoalannya adalah ketika seseorang berbicara mengenai kabar buruk yang bersumber dari masalah sosial, lalu hampir seluruh solusi yang diberikan berada pada tingkat pengelolaan perhatian dan emosi individu, ia tidak menawarkan beberapa menit saja untuk tindakan langsung dan tindakan kolektif.

Meskipun Maudy menjelaskan pentingnya mengkurasi informasi. Saya tidak melihat masalah dengan anjuran memilih sumber berita yang kredibel, mencari tulisan dengan konteks lengkap, atau berhenti mengonsumsi informasi ketika merasa cukup.

Namun, kemampuan untuk berhenti membaca tidak boleh disamakan dengan penyelesaian masalah. Berhenti membaca masalah sosial tidak membuat korupsi berhenti terjadi, dan mematikan layar dari berita kerusakan lingkungan tidak membuat kerusakan tersebut selesai.

Maka ketika Maudy menggunakan analogi diet untuk menjelaskan perlunya menyeimbangkan input. Berita buruk dianalogikan seperti pizza yang kurang sehat, sedangkan buku, dokumenter tentang inovasi, alam, dan percakapan bermakna diposisikan seperti sayuran yang menyeimbangkan.

Sebagai metafora kesehatan mental, analogi ini memang mudah dipahami, tetapi justru karena itulah ia perlu dipertanyakan lebih jauh. Pizza adalah objek konsumsi yang menjadi masalah ketika jumlahnya tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh. Sebaliknya, berita buruk adalah informasi mengenai kondisi sosial nyata yang memiliki sebab langsung.

Maka “diet mental” menjadi tidak cukup apabila diposisikan sebagai kerangka dalam menghadapi persoalan publik. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kemampuan mengatur berapa banyak informasi yang masuk ke kepala mereka, tetapi juga kemampuan membedakan persoalan mana yang memang harus diterima karena berada di luar kendali pribadi, dan persoalan mana yang sebenarnya masih dapat dipengaruhi melalui tindakan individual maupun kolektif.

Karena itu pembacaan terhadap Stoisisme ala Maudy perlu dilihat lebih hati-hati. Epictetus memang menempatkan pembedaan antara hal-hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali kita sebagai inti pemikirannya. Namun, mengatakan bahwa sesuatu berada di luar kendali kita tidak otomatis berarti sesuatu tersebut berada di luar tanggung jawab moral kita.

Seseorang tidak dapat menentukan hasil akhir dari sebuah perjuangan, tetapi tetap dapat menentukan tindakan yang dipilih dalam perjuangan tersebut.

Seharusnya Stoisisme dapat dibaca secara lebih serius daripada sekadar resep penurun kecemasan. Yang berada dalam kendali manusia bukanlah seluruh dunia dan hasil akhir dari setiap peristiwa, melainkan penilaian, pilihan, kehendak, dan tindakan yang ia ambil terhadap dunia tersebut.

Dengan demikian, dikotomi kendali tidak dibaca sebagai alasan untuk menarik diri dari persoalan publik, melainkan sebagai cara untuk membedakan antara keinginan mengendalikan hasil yang tidak dapat kita kuasai dan kewajiban untuk tetap bertindak pada wilayah yang masih berada dalam jangkauan kita.

Marcus Aurelius memberi gambaran yang jelas mengenai hal ini. Ia bukan filsuf yang hidup terpisah dari urusan publik, melainkan seorang kaisar yang berhadapan langsung dengan perang, pemerintahan, wabah, dan krisis kekaisaran. Seneca pun bukan figur di luar kehidupan politik, melainkan seorang filsuf sekaligus negarawan yang hidup di tengah kompleksitas kekuasaan Romawi.

Karena itu, menjadikan Stoisisme semata-mata sebagai teknik menenangkan diri ketika dunia terasa terlalu berisik berpotensi menyempitkan filsafat tersebut, dari persoalan etis tentang bagaimana seseorang seharusnya bertindak, menjadi sekadar teknik psikologis tentang bagaimana seseorang merasa lebih baik.

Saya tidak menolak Stoisisme dan tidak menolak pentingnya menjaga kapasitas mental. Manusia memiliki keterbatasan perhatian serta energi emosional, dan tidak mungkin seseorang terus-menerus menyerap seluruh penderitaan dunia tanpa mengalami kelelahan.

Lagipula, menjaga diri bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap persoalan, seseorang yang mengalami kelelahan mental pada akhirnya juga kehilangan kapasitas untuk berpikir dan bertindak.

Bahaya terbesar dari pendekatan semacam ini adalah persoalan bermakna struktural perlahan-lahan dipahami terutama melalui bahasa psikologi individual. Kita menjadi sibuk memikirkan negativity bias, mengatur algoritma, mengkurasi sumber, membatasi jam membaca berita, menyeimbangkan “diet mental”, dan menjaga kewarasan.

Sementara pertanyaan mengenai siapa yang menghasilkan persoalan tersebut, institusi apa yang membiarkannya terjadi, siapa yang bertanggung jawab, serta tindakan kolektif apa yang mungkin dilakukan menjadi semakin samar.

Kita perlu belajar membedakan dua hal yang sering tercampur, mengelola kecemasan terhadap sebuah persoalan dan merespons persoalan yang menyebabkan kecemasan tersebut.

Yang pertama merupakan kebutuhan psikologis yang sah, sedangkan yang kedua adalah persoalan etis dan politik yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kesehatan mental.

Maka, masalah dalam video Maudy bukanlah alpukatnya, bukan cottage cheese 50 gramnya, bukan tiga butir telurnya, dan bukan pula kenyataan bahwa seorang figur publik berbicara mengenai kesehatan mental sambil membuat sarapan. Semua itu hanyalah bentuk penyajian.

Masalahnya terletak pada batas konseptual ketika kabar buruk yang sangat beragam diperlakukan terutama sebagai persoalan kapasitas individu dalam menerima informasi dan mengelola emosi dan berhenti pada kesimpulan itu.

Sebab tidak semua hal yang berada di luar kendali pribadi harus diterima sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi ada pula hal-hal yang terasa di luar kendali hanya karena kita menghadapinya seorang diri. Di antara keduanya terdapat ruang yang bernama tindakan kolektif, institusi, organisasi, dan solidaritas.

Di situlah Stoisisme seharusnya berhenti menjadi sekadar alat menenangkan kecemasan dan kembali menjadi disiplin untuk menentukan bagaimana seseorang bertindak secara masuk akal di tengah dunia yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan.

Sebab menjaga kewarasan adalah cara agar kita tetap mampu menghadapi dunia, bukan alasan untuk berdamai dengan segala sesuatu yang salah di dalamnya.

Saya jadi teringat pada satu hal sederhana, ketika rumah sedang terbakar, tentu kita boleh berhenti sejenak untuk mengatur napas. Tetapi persoalannya adalah apa yang kita lakukan setelah napas kembali teratur. Apakah kita mengambil air untuk memadamkan api, atau justru duduk di teras sambil meyakinkan diri bahwa api itu berada di luar kendali kita?

Karena dunia memang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita, tetapi itu tidak pernah berarti bahwa kita tidak punya kewajiban untuk mengubah bagian dunia yang masih bisa kita ubah.