Konten dari Pengguna

Doomscrolling Membuat Kita Sakit dan Kita Tetap Melakukannya

Muhamad Abdillah Tazakka

Muhamad Abdillah Tazakka

Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Sriwijaya yang tertarik dengan sosial, gaya hidup dan politik

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Abdillah Tazakka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah kebiasaan yang diam-diam telah menjadi bagian dari rutinitas jutaan orang, dan hampir tidak pernah kita bicarakan dengan jujur: doomscrolling. Ini adalah perilaku di mana seseorang terus-menerus menggulir layar untuk mengonsumsi berita atau konten negatif bencana, konflik, krisis, kematian bahkan ketika mereka tahu bahwa itu membuat mereka merasa lebih buruk. Semakin banyak dibaca, semakin suram rasanya. Namun jari tetap bergerak ke bawah.

Ilustrasi seseorang yang terpaku menatap layar ponsel dengan lesu — menggambarkan kebiasaan doomscrolling yang sulit dihentikan. (Sumber : Pinterest @agilwasys)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang terpaku menatap layar ponsel dengan lesu — menggambarkan kebiasaan doomscrolling yang sulit dihentikan. (Sumber : Pinterest @agilwasys)

Saya pertama kali benar-benar menyadari kecenderungan ini pada diri sendiri di suatu malam, ketika mendapati diri saya telah menghabiskan hampir dua jam membaca berita tentang konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi berturut-turut, tanpa jeda, tanpa tujuan yang jelas. Bukan karena saya jurnalis yang sedang riset. Bukan karena ada urgensi tertentu. Hanya karena saya tidak bisa berhenti.

Mengapa Doomscrolling Terasa Sulit Dihentikan?

Secara psikologis, doomscrolling berakar pada mekanisme yang jauh lebih tua dari internet: kewaspadaan terhadap ancaman. Otak manusia secara evolusioner dirancang untuk lebih waspada terhadap informasi negatif dibanding yang positif sebuah mekanisme yang dulu berfungsi untuk kelangsungan hidup. Di era digital, mekanisme purba ini bertemu dengan infrastruktur yang sangat modern: feed berita yang tak berujung, notifikasi yang berdenyut setiap menit, dan algoritma yang telah belajar bahwa konten yang membangkitkan rasa takut dan marah menghasilkan keterlibatan paling tinggi.

Hasilnya adalah lingkaran yang nyaris tidak mungkin diputus dari dalam. Semakin kita merasa cemas, semakin kita mencari informasi untuk "memahami situasi." Semakin banyak informasi buruk yang kita temukan, semakin besar kecemasan itu. Dan platform, yang tidak peduli apakah kamu baik-baik saja selama kamu tetap online, dengan senang hati menyuapi lingkaran itu tanpa batas.

Doomscrolling dan Harga yang Dibayar Diam-Diam

Yang membuat doomscrolling berbahaya bukan hanya konten yang dikonsumsinya, melainkan apa yang ditinggalkannya. Setiap sesi panjang menggulir berita suram meninggalkan jejak: tidur yang lebih buruk, suasana hati yang lebih mudah anjlok, dan yang lebih halus erosi perlahan terhadap kepercayaan bahwa dunia masih punya hal-hal yang baik di dalamnya.

Para peneliti menyebut ini sebagai efek "mean world syndrome" ketika paparan terus-menerus terhadap konten negatif membuat seseorang secara bertahap memandang dunia sebagai tempat yang jauh lebih berbahaya dari kenyataannya. Ini bukan sekadar perasaan sesaat setelah membaca berita. Ini adalah pergeseran persepsi jangka panjang yang mengubah cara kita berinteraksi dengan orang lain, cara kita mengambil keputusan, dan cara kita membayangkan masa depan.

Solusi untuk doomscrolling bukan penyangkalan. Bukan dengan menutup mata dari realita atau berpura-pura dunia baik-baik saja. Kepedulian terhadap isu-isu besar perubahan iklim, keadilan sosial, politik adalah sesuatu yang sehat dan perlu. Yang perlu dipertanyakan bukan apakah kita peduli, tapi bagaimana cara kita peduli.

Ada perbedaan mendasar antara membaca berita secara terjadwal dan sadar, dengan menggulir tanpa henti dalam kondisi setengah terjaga di tengah malam. Yang pertama adalah partisipasi warga yang terinformasi. Yang kedua adalah kecanduan kecemasan yang menyamar sebagai kepedulian.

Langkah keluar tidak harus dramatis. Kadang cukup dengan satu pertanyaan sederhana yang diajukan kepada diri sendiri sebelum membuka aplikasi berita: Apakah saya membuka ini untuk memahami, atau karena saya tidak tahu harus melakukan apa lagi? Jawaban yang jujur terhadap pertanyaan itu sudah merupakan setengah dari perlawanan.

Kita hidup di zaman di mana dunia benar-benar sedang menghadapi banyak krisis secara bersamaan. Mengabaikan semua itu adalah kemewahan yang tidak semua orang bisa atau mau lakukan. Tapi ada cara untuk tetap hadir dan peduli tanpa membiarkan diri kita tenggelam.

Mungkin yang perlu kita latih bukan ketidakpedulian melainkan kemampuan untuk hadir secara penuh dalam satu informasi, mencernanya, lalu memilih dengan sadar apakah kita akan terus atau berhenti. Bukan karena dunia tidak cukup penting untuk diperhatikan. Justru sebaliknya: karena kita ingin masih punya energi untuk melakukan sesuatu tentangnya.