Konten dari Pengguna

Gengsi Menggeser Ambisi : Ber "Skena" Tapi Tidak Ber Skema

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdi Teagar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gengsi Menggeser Ambisi : Ber "Skena" Tapi Tidak Ber Skema
zoom-in-whitePerbesar

Gengsi yang Menggeser Ambisi: Ber 'Skena' Namun Tak Ber 'Skema'

Di tengah hiruk-pikuk budaya populer dan geliat dunia kreatif, muncul satu fenomena sosial yang menarik diamati: semangat untuk menjadi bagian dari “skena” — namun tanpa skema yang jelas ke mana arah hidup sebenarnya akan dibawa. Gengsi hari ini tak lagi soal barang mewah semata, tetapi juga bagaimana kita tampak relevan di ruang sosial, meski tak punya rencana jangka panjang.

Fenomena ini muncul dari satu ironi: banyak anak muda rela “habis-habisan” demi terlihat ‘masuk lingkaran’, tapi luput menyusun peta jalan menuju tujuan hidupnya sendiri. Mereka ada di tengah-tengah kerumunan, namun kosong dalam perencanaan.

Antara Skena dan Skema

Kata skena kini mengalami perluasan makna. Tak sekadar merujuk pada lingkungan musik, seni, atau budaya alternatif, “skena” hari ini jadi semacam status sosial — menunjukkan siapa yang ‘in’, siapa yang ‘updated’, siapa yang “tau tempat tongkrongan yang belum viral”. Sementara skema adalah peta ambisi: bagaimana seseorang menata hidupnya, apa tujuan jangka panjangnya, dan langkah-langkah yang disiapkan untuk mencapainya.

Yang jadi soal: saat orang lebih sibuk mempercantik persona di ruang sosial daripada menyusun strategi masa depan.

Gengsi: Bahan Bakar Kosong

Gengsi sering menyamar sebagai motivasi. Tapi bedanya, motivasi mendorong kitamenuju hasil, sementara gengsi mendorong kita menuju pengakuan — yang seringkali sementara. Gengsi bisa membuat seseorang rela mengorbankan pengembangan diri, pendidikan, bahkan kestabilan keuangan, demi mempertahankan citra tertentu.

Maka muncullah paradoks: seseorang terlihat berhasil, tapi sebenarnya tak punya apa-apa. Kamera memotret gaya, tapi tak bisa menangkap substansi. Feed Instagram rapi, tapi isi kepala berantakan. Hidup pun jadi simulasi sukses.

Simulasi Hidup yang Melelahkan

Kelelahan mental banyak anak muda hari ini bukan hanya karena tekanan hidup, tapi karena tekanan tampil. Mereka harus terlihat aktif, kreatif, update, dan 'gaul', meski sebenarnya sedang limbung mencari arah. Ada dorongan untuk terus “ada” di mana-mana, tapi jarang “hadir” untuk diri sendiri.

Berapa banyak yang memaksakan ikut komunitas, nongkrong di kafe estetik, atau nguliktren baru bukan karena minat, tapi karena takut dibilang ‘kudet’? Ini bukan tentang mengejar mimpi, tapi takut tertinggal dari mimpi orang lain.

Waktunya Berhenti dan Menyusun Skema

Tak ada yang salah dengan ingin eksis. Masalahnya adalah saat eksistensi mengalahkan esensi. Saat ingin diakui lebih besar daripada ingin bertumbuh. Jika terus begini, generasi kita bukan hanya kehilangan arah, tapi juga kehilangan identitas.

Kini saatnya menyeimbangkan. Tak apa jadi bagian dari skena, asal tak lupa membuat skema. Tak apa nongkrong, asal punya alasan kenapa pulang. Tak apa jadi keren, asal tahu ke mana kita berjalan.

Penutup: Dari Relevansi Menuju Realisasi

Dunia ini memang terus berubah. Relevansi menjadi penting. Tapi jangan biarkan relevansi menggerus realisasi. Mari berhenti sejenak dari keramaian dan tanya diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang aku kejar?

Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan mereka yang paling ‘eksis’, tapi mereka yang paling siap.