Digital Tourism: Tinjauan Kritis Transformasi Pariwisata Indonesia

Mahasiswa SPS Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia & Pelaku Agen Travel Garut
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Abdul Aziz Pardon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis: Aziz Pardon dan Yati Sobaryati Mustaffa
Digital Tourism Dorong Pariwisata? Pemerintah Dinilai Belum Siap Hadapi Kesenjangan Digital.

Digital Tourism yang menjadi sebuah Janji dan Tantangan
Industri pariwisata Indonesia tengah mengalami transformasi besar-besaran seiring dengan perkembangan teknologi digital. Era digital telah mengubah cara wisatawan merencanakan, menikmati, dan membagikan pengalaman perjalanan mereka. Di sisi lain, pelaku industri pariwisata juga dituntut untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan perilaku konsumen digital. Transformasi ini dikenal dengan istilah digital tourism atau pariwisata digital, yaitu penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam seluruh rantai nilai industri pariwisata. Artikel ini akan mengulas secara kritis bagaimana digitalisasi memengaruhi struktur, tantangan, dan peluang sektor pariwisata Indonesia.
Digital tourism semakin menjadi sorotan utama dalam pengembangan sektor pariwisata Indonesia. dari Digital Tourism yang mampu menghadirkan aplikasi destinasi pintar hingga promosi wisata berbasis media sosial, inovasi digital tourism ini diyakini menjadi kunci kebangkitan industri pasca-pandemi. Melalui berbagai program seperti promosi berbasis media sosial, pengembangan aplikasi destinasi digital, hingga penciptaan konten kreatif berbasis budaya lokal, pemerintah Indonesia mengusung visi transformasi pariwisata menuju arah yang lebih modern dan berbasis teknologi. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan: kesenjangan digital antarwilayah dan antaraktor dalam sektor pariwisata.
Pemerintah Gencar Digitalisasi Pariwisata
Sejak 2020, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah meluncurkan berbagai inisiatif yang mengusung digitalisasi. Kampanye #DiIndonesiaAja misalnya, mendorong wisatawan domestik untuk menjelajahi destinasi lokal dengan dukungan platform digital. Selain itu, beberapa destinasi wisata unggulan kini telah memiliki aplikasi pemandu wisata, pemesanan tiket online, dan sistem pembayaran nontunai. Program “100 Desa Wisata Digital” juga diluncurkan untuk mempercepat integrasi teknologi di daerah. Pemerintah daerah pun berlomba-lomba menciptakan destinasi “pintar” yang mampu menarik wisatawan melalui pemanfaatan data dan teknologi informasi. Aplikasi destinasi digital kini mulai digunakan untuk mengatur alur kunjungan, menyediakan informasi naratif, hingga mencatat data pengunjung secara real-time. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian adalah: sejauh mana program ini menjangkau seluruh pelaku dan kawasan wisata di Indonesia?
Data BPS: Kesenjangan Infrastruktur Masih Tinggi
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa dari lebih dari 2.000 desa wisata yang terdaftar secara nasional, sekitar 33,5% belum memiliki akses internet yang stabil. Ini berarti sepertiga desa wisata mengalami hambatan mendasar dalam mengakses program digitalisasi. Lebih lanjut, BPS mencatat bahwa distribusi infrastruktur TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Bali. Sementara itu, wilayah Indonesia bagian timur seperti Maluku dan Papua menunjukkan tingkat penetrasi internet yang jauh lebih rendah. Misalnya, hanya 47% desa wisata di Nusa Tenggara Timur yang memiliki akses internet memadai, dibandingkan dengan 82% di Jawa Tengah. Ketimpangan ini menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pemerataan digitalisasi pariwisata. Sementara destinasi populer seperti Yogyakarta dan Bali mulai mengadopsi sistem tiket digital, peta interaktif, hingga promosi melalui media sosial berbasis algoritma, banyak desa wisata lainnya bahkan belum memiliki jaringan 4G yang stabil.
Tantangan Literasi Digital dan SDM
Selain persoalan infrastruktur, aspek lain yang tak kalah penting adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM). Masih berdasarkan data BPS (Survei Sosial Ekonomi Nasional – Susenas 2023), hanya 52% pelaku UMKM pariwisata di pedesaan yang memiliki kemampuan dasar dalam menggunakan perangkat digital untuk keperluan promosi. Ini mencakup penggunaan media sosial, desain konten visual, hingga manajemen pelanggan secara daring.
Rendahnya literasi digital ini memperbesar kesenjangan antara pelaku usaha wisata di kota besar dengan mereka yang berada di daerah terpencil. Di kota-kota besar, pelaku pariwisata dapat memanfaatkan fitur-fitur canggih dari platform seperti TikTok, Instagram, atau OTA (Online Travel Agent) untuk menarik wisatawan. Namun di desa, bahkan pembuatan konten sederhana masih bergantung pada pihak luar. Hal ini menimbulkan ketergantungan baru dan menciptakan struktur pasar yang timpang. Para pelaku lokal yang tidak mampu mengakses atau mengelola media digital secara mandiri, akhirnya hanya menjadi penyedia jasa, sementara nilai ekonomi justru terserap oleh pihak ketiga.
a. Kesenjangan Infrastruktur Digital
Wilayah destinasi unggulan di luar Jawa, seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Kalimantan, masih terkendala akses internet yang terbatas. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, transformasi digital hanya akan terpusat di wilayah urban dan destinasi populer.
b. Literasi Digital Pelaku Pariwisata
Banyak pelaku industri, khususnya di tingkat lokal, belum memiliki keterampilan untuk memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Hal ini menciptakan kesenjangan antara teknologi yang tersedia dan kemampuan sumber daya manusia untuk mengelolanya.
c. Privasi dan Keamanan Data
Semakin banyaknya penggunaan data pribadi dalam sistem digital menuntut adanya perlindungan terhadap hak konsumen. Indonesia masih memerlukan regulasi yang lebih kuat dalam perlindungan data digital di sektor pariwisata.
Peran Platform Digital dan Risiko Ketimpangan Pasar
Platform digital seperti TikTok, Traveloka, dan Google Travel kini menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata global. Namun, keberadaan mereka juga menghadirkan dinamika baru dalam persaingan pasar. Menurut data dari Kemenparekraf, lebih dari 70% pemesanan wisatawan domestik saat ini dilakukan melalui platform daring, dibandingkan dengan hanya 45% pada 2019. Ini menunjukkan perubahan besar dalam perilaku konsumen. Sayangnya, tidak semua pelaku pariwisata lokal mampu menyesuaikan diri dengan sistem platform tersebut. Biaya komisi tinggi, algoritma yang menguntungkan pelaku besar, serta tuntutan konten profesional menjadi hambatan utama bagi pelaku kecil. Dalam laporan “Statistik Kepariwisataan Indonesia 2024”, BPS juga menyoroti bahwa kontribusi pelaku lokal terhadap total nilai transaksi pariwisata digital masih di bawah 30%. Sementara itu, sebagian besar keuntungan justru terserap oleh agen digital berskala nasional dan internasional.
Desa Wisata: Di Antara Harapan dan Tantangan
Program desa wisata digital yang dicanangkan pemerintah sebetulnya membawa harapan besar bagi pariwisata berbasis komunitas. Integrasi antara teknologi, budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi menjadi konsep ideal dalam pembangunan destinasi berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, keberhasilan program ini sangat tergantung pada kesiapan masing-masing desa. Data dari Direktorat Pengembangan Destinasi Regional Kemenparekraf menyebut bahwa dari 100 desa wisata prioritas, hanya 38 desa yang telah menerapkan sistem digital secara, mulai dari promosi, pemesanan layanan, hingga evaluasi pengunjung. Sisanya masih dalam tahap awal atau belum memiliki SDM pendukung. Hambatan lainnya adalah minimnya dukungan teknis. Tidak semua desa memiliki pendamping digital atau tim pengelola yang memahami aspek teknologi. Di beberapa daerah, pembangunan infrastruktur tidak dibarengi dengan pelatihan teknis, sehingga alat dan sistem yang disediakan menjadi tidak optimal.
Promosi Destinasi Secara Mandiri
Teknologi digital memberi peluang bagi pengelola desa wisata untuk mempromosikan potensi lokal secara langsung tanpa harus bergantung pada agen besar. Media sosial, website desa, dan platform marketplace wisata lokal memungkinkan mereka menjangkau pasar lebih luas dengan biaya rendah.
Peningkatan Pendapatan dan Pemberdayaan Warga
Dengan adanya digitalisasi, pengunjung dapat memesan homestay, paket wisata edukatif, dan produk UMKM secara online. Ini membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat desa tanpa harus meninggalkan sektor pertanian tradisional.
Digitalisasi Layanan dan Tata Kelola
Beberapa desa wisata telah mulai menggunakan sistem manajemen pengunjung, QR code untuk peta digital, hingga e-ticketing, yang semuanya meningkatkan efisiensi layanan dan transparansi pengelolaan.
Implikasi Sosial dan Ekonomi
Kesenjangan digital dalam sektor pariwisata bukan sekadar persoalan teknis. Ia memiliki dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Ketimpangan ini menciptakan jurang antara pelaku usaha besar dan kecil, antara destinasi mapan dan desa wisata baru, serta antara pusat dan daerah. Pelaku lokal yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi berisiko tersingkir dari pasar, meskipun memiliki potensi budaya dan alam yang luar biasa. Sebaliknya, destinasi yang secara infrastruktur dan teknologi telah maju, akan semakin mendominasi peredaran wisatawan dan arus pendapatan. Fenomena ini juga mengancam keberlanjutan ekowisata dan pariwisata komunitas. Tanpa dukungan teknologi yang merata, program pengembangan berkelanjutan menjadi sulit dijalankan. Desa wisata yang seharusnya menjadi benteng pelestarian budaya dan lingkungan, terancam hanya menjadi penonton dalam ekosistem digital yang semakin kompetitif.
Urgensi Kebijakan Inklusif dan Evaluasi Menyeluruh
Melihat realitas tersebut, upaya digitalisasi sektor pariwisata membutuhkan pendekatan yang lebih holistik. Tidak cukup hanya dengan membangun aplikasi atau mengadakan pelatihan singkat. Diperlukan kebijakan inklusif yang mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan geografis tiap wilayah. Evaluasi menyeluruh terhadap implementasi program digital pariwisata harus dilakukan secara berkala. Data dari BPS dan Kemenparekraf perlu disinergikan untuk memetakan kebutuhan infrastruktur dan kapasitas SDM secara presisi. Pengembangan digital tourism juga perlu disertai insentif bagi pelaku usaha kecil yang ingin go digital. Misalnya, subsidi kuota internet, pelatihan gratis, hingga pendampingan konten secara berkelanjutan.
Transformasi Digital dalam Pariwisata Indonesia
1. Peningkatan Akses dan Promosi Destinasi
Digitalisasi telah memungkinkan promosi destinasi wisata Indonesia menjadi lebih luas dan murah. Kampanye seperti "Wonderful Indonesia" mengandalkan media sosial, video kreatif, dan kerja sama dengan influencer untuk menjangkau wisatawan global. Dengan adanya platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, destinasi yang sebelumnya kurang dikenal seperti Labuan Bajo atau Raja Ampat kini mulai populer.
2. Kemudahan Akses Layanan Wisata
Layanan pemesanan hotel, transportasi, dan tiket atraksi kini dapat diakses secara online dengan cepat dan transparan. Traveloka, Tiket.com, dan Pegipegi menjadi contoh perusahaan Indonesia yang berperan penting dalam ekosistem digital tourism. Sistem digital juga meningkatkan kenyamanan wisatawan dalam merencanakan perjalanan secara mandiri.
3. Peran UMKM dalam Ekosistem Digital
Digital tourism mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pariwisata seperti pengrajin, pemilik homestay, dan pemandu wisata untuk hadir di platform digital. Pelatihan digitalisasi dari pemerintah dan sektor swasta membantu mereka meningkatkan daya saing, meskipun masih menghadapi tantangan dalam literasi digital dan infrastruktur.
Arah Kebijakan dan Strategi Penguatan
Agar digital tourism menjadi alat transformasi yang inklusif dan berkelanjutan, pemerintah dan pemangku kepentingan harus:
Meningkatkan infrastruktur digital di destinasi wisata,
Menyelenggarakan pelatihan literasi digital bagi pelaku pariwisata lokal,
Mendorong inovasi berbasis lokal seperti platform reservasi buatan daerah,
Memperkuat perlindungan data dan regulasi digital tourism,
Mengintegrasikan digitalisasi ke dalam rencana pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Penutup: Digitalisasi Tanpa Ketimpangan
Digital tourism bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Digital tourism memang menawarkan harapan besar bagi kebangkitan sektor pariwisata Indonesia, terutama dalam memperluas jangkauan promosi, meningkatkan efisiensi layanan, dan membuka peluang baru di era pasca-pandemi. Namun, sebagaimana tergambar dari lapangan, transformasi digital yang tidak diimbangi dengan pemerataan akses, peningkatan literasi, dan dukungan konkret terhadap pelaku lokal justru bisa memperbesar jurang ketimpangan antar destinasi dan pelaku usaha.
Jika tidak ada intervensi kebijakan yang inklusif, ekosistem digital akan semakin didominasi oleh pemain besar, sementara pelaku kecil dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) hanya menjadi penonton dalam geliat pariwisata digital. Pemerintah dan pemangku kepentingan harus menyadari bahwa transformasi ini bukan hanya soal perangkat atau aplikasi, tetapi juga tentang manusia dan kapasitasnya.
Perlu adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, platform teknologi, perguruan tinggi, dan komunitas lokal untuk menciptakan ekosistem digital yang memberdayakan, bukan meminggirkan. Mulai dari pelatihan konten digital, pendampingan strategi promosi daring, insentif komisi yang adil, hingga penguatan infrastruktur digital di daerah. Digital tourism semestinya bukan sekadar tren teknologi, tapi menjadi alat transformasi sosial, ekonomi, dan budaya yang merata dan berkelanjutan. Masa depan pariwisata Indonesia bergantung pada kemampuannya mengubah potensi digital menjadi solusi kolektif yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
Transformasi digital dalam sektor pariwisata Indonesia membawa dampak signifikan terhadap cara destinasi dipromosikan, layanan disediakan, dan pengalaman wisata dibangun. Digital tourism membuka peluang besar bagi efisiensi, personalisasi, dan perluasan pasar wisata, sekaligus mendorong keterlibatan pelaku lokal seperti desa wisata dan petani dalam ekosistem pariwisata modern. Namun, proses ini juga menyisakan tantangan, seperti kesenjangan infrastruktur, rendahnya literasi digital, dan risiko hilangnya keaslian budaya serta ketimpangan distribusi manfaat ekonomi.
Untuk memastikan bahwa digitalisasi menjadi alat pemberdayaan dan bukan bentuk baru eksklusi, diperlukan kebijakan yang inklusif, pelatihan yang berkelanjutan, serta penguatan sistem digital yang berpihak pada masyarakat lokal. Dengan strategi yang berorientasi pada keberlanjutan dan kearifan lokal, Indonesia berpeluang tidak hanya mengikuti arus digital tourism global, tetapi juga memimpin transformasi pariwisata yang lebih adil dan berdaya saing tinggi.
proses digitalisasi ini juga membawa tantangan nyata. Kesenjangan akses digital, rendahnya literasi teknologi, serta potensi eksklusi bagi komunitas yang belum siap adalah hal-hal yang perlu diwaspadai. Selain itu, adopsi teknologi yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan dan kearifan lokal berisiko mendorong komersialisasi berlebihan, mereduksi keaslian budaya, dan menciptakan ketergantungan pada platform besar.
Oleh karena itu, digital tourism harus dibangun di atas fondasi kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas lokal, dan akademisi. Investasi pada infrastruktur digital, pendidikan teknologi, serta regulasi yang adil dan adaptif menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem pariwisata digital yang tangguh dan berkelanjutan. Bila dikelola dengan bijak, digital tourism tidak hanya akan mempercepat pemulihan pascapandemi, tetapi juga menjadikan Indonesia pemimpin dalam pengembangan pariwisata berbasis teknologi yang humanis dan memberdayakan, Dengan memanfaatkan teknologi secara strategis, Indonesia memiliki peluang besar untuk menciptakan model pariwisata yang lebih cerdas (smart tourism), merata, dan berorientasi masa depan. Digital tourism bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai pariwisata yang lebih adaptif, berkeadilan, dan berbasis potensi lokal. Kunci utamanya adalah memastikan bahwa transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun di belakang—baik pelaku kecil, desa terpencil, maupun sektor tradisional seperti pertanian—tetapi justru merangkul mereka sebagai bagian penting dari wajah baru pariwisata Indonesia.
