Konten dari Pengguna

Ketika Disakiti, Saya Memilih Diam dan Mendoakan

abdul habib hasibuan

abdul habib hasibuan

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari abdul habib hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi berdoa. Foto: Billion Photos/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi berdoa. Foto: Billion Photos/Shutterstock

Ada saatnya hati terasa begitu sakit karena ucapan dan perlakuan seseorang. Bukan hanya sekadar kecewa, tetapi ada luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saya pernah berada di posisi ketika diri saya dihina, dihujat, direndahkan, bahkan mungkin dianggap tidak berarti oleh seseorang.

Namun, saya memilih untuk diam. Bukan karena saya tidak mampu membalas. Bukan pula karena saya tidak merasakan sakitnya. Justru karena saya tahu, membalas hinaan dengan hinaan hanya akan membuat luka semakin panjang dan masalah tidak pernah benar-benar selesai.

Saya manusia biasa. Tentu ada rasa sakit, marah, kecewa, dan sedih. Ada kalanya saya bertanya dalam hati, “Mengapa saya diperlakukan seperti ini, padahal saya tidak pernah berniat menyakiti?”

Tetapi semakin saya memikirkannya, saya sadar bahwa tidak semua hal harus dibalas dengan kata-kata.Ada hal-hal yang lebih baik saya serahkan kepada Tuhan.

Saya memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Saya memilih diam, bukan karena saya lemah, tetapi karena saya sedang belajar menjaga hati agar tidak berubah menjadi seperti orang yang telah menyakiti saya.

Saya bahkan memilih untuk mendoakan orang yang telah menghina dan menghujat saya.

Bukan karena saya membenarkan apa yang telah dilakukan kepada saya. Bukan berarti saya melupakan semuanya begitu saja. Namun, saya berharap suatu hari nanti hatinya diberikan hidayah, diberikan kesadaran, dan diberikan kesempatan untuk memahami bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki dampak terhadap hati orang lain.Saya berdoa semoga Tuhan melembutkan hatinya.

Semoga suatu hari dia menyadari bahwa manusia tidak akan pernah menjadi lebih tinggi hanya karena merendahkan orang lain. Tidak ada kemuliaan dalam menghina. Tidak ada kemenangan dalam membuat orang lain terluka.

Dan untuk diri saya sendiri, saya juga berdoa agar hati saya diberikan kekuatan.

Saya tidak ingin luka yang saya terima membuat saya menjadi seseorang yang penuh kebencian. Saya tidak ingin penghinaan membuat saya kehilangan kebaikan dalam diri saya. Saya tidak ingin perlakuan buruk seseorang menentukan bagaimana saya harus menjalani hidup.

Mungkin hari ini saya masih merasa sakit.

Mungkin hari ini saya masih belum mampu melupakan semuanya.Dan itu tidak apa-apa.Saya tidak harus berpura-pura kuat setiap saat. Saya hanya perlu terus belajar menerima bahwa tidak semua orang akan memahami saya, tidak semua orang akan menghargai saya, dan tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.

Tetapi saya percaya, Tuhan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tuhan tahu air mata yang tidak pernah saya tunjukkan kepada siapa pun.

Tuhan tahu bagaimana saya berusaha menahan diri ketika sebenarnya hati saya ingin membalas.Tuhan tahu bahwa di balik diam saya, ada banyak doa yang saya panjatkan.Karena pada akhirnya, saya tidak ingin memenangkan pertengkaran. Saya hanya ingin memenangkan ketenangan hati.

Saya tidak ingin membalas mereka dengan kebencian. Saya hanya ingin melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Jika suatu hari orang yang pernah menyakiti saya berubah menjadi lebih baik, saya akan bersyukur. Jika suatu hari dia menyadari kesalahannya, saya akan mendoakan semoga kesadarannya menjadi awal dari sesuatu yang baik.

Dan jika tidak pernah terjadi sekalipun, saya tetap ingin berdamai dengan diri saya sendiri.

Sebab saya percaya, membalas bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa kita terluka.

Terkadang, diam adalah cara kita menjaga harga diri.

Memaafkan adalah cara kita membebaskan hati.

Dan mendoakan adalah cara kita menyerahkan sesuatu yang tidak mampu kita ubah kepada Tuhan.Saya mungkin pernah dihina.Saya mungkin pernah dihujat.Saya mungkin pernah direndahkan.

Tetapi saya tidak ingin semua itu membuat saya kehilangan cahaya dalam diri saya.Biarlah waktu yang menjawab.Biarlah Tuhan yang mengatur.Dan biarlah hati saya tetap memilih kebaikan, meskipun pernah diperlakukan dengan buruk.Semoga hati siapa pun yang pernah menyakiti saya diberikan hidayah. Dan semoga hati saya sendiri juga diberikan kekuatan untuk tidak menyimpan dendam.

Karena saya sadar, hidup ini terlalu singkat untuk terus membawa kebencian.Saya hanya ingin melangkah ke depan dengan hati yang lebih tenang, tanpa harus membenci siapa pun.