“Lulus Kuliah, Ijazah Sudah di Tangan, Tapi Saya Ingin Membahagiakan Ibu”

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari abdul habib hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu perasaan yang sulit saya jelaskan setelah perjalanan panjang sebagai seorang mahasiswa.
Saya sudah menyelesaikan kuliah. Ijazah sudah keluar. Tinggal menunggu satu tahap terakhir, yaitu wisuda.
Seharusnya saya bahagia.
Seharusnya saya merasa lega karena perjuangan selama bertahun-tahun akhirnya sampai di garis akhir. Tetapi entah mengapa, di balik rasa bahagia itu ada kesedihan yang begitu dalam.
Bukan karena saya tidak bersyukur.
Justru saya sangat bersyukur.
Saya hanya tiba-tiba menyadari bahwa orang yang paling banyak menunggu keberhasilan saya selama ini adalah ibu saya.
Ibu yang selalu ada ketika saya sedang berjuang.
Ibu yang mungkin tidak selalu memahami semua tugas kuliah saya, tidak selalu mengerti apa yang saya kerjakan di depan laptop, tetapi selalu memahami satu hal: anaknya sedang berusaha menyelesaikan pendidikan.
Sekarang pendidikan itu sudah selesai.
Ijazah sudah ada di tangan.
Namun ketika saya melihat ibu, saya justru berpikir:
"Apakah saya sudah benar-benar membahagiakan ibu?"
Pertanyaan itu terus ada di dalam hati saya.
Hari ketika saya mengajak ibu mengurus wisuda
Suatu hari, saya mengajak ibu pergi untuk membayar keperluan wisuda.
Kami pergi menggunakan motor sederhana yang kami miliki.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada kendaraan mahal.
Hanya saya dan ibu, duduk di atas motor, melewati perjalanan menuju kampus.
Di perjalanan itulah saya banyak berbicara dengan ibu.
Saya melihat pemandangan di sekitar jalan. Rumah-rumah yang besar, bagus, dan terlihat begitu nyaman.
Saya melihat kehidupan orang lain dari atas motor sederhana yang kami kendarai.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat hati saya semakin banyak berpikir.
Saya kemudian berkata kepada ibu,
"Sabar ya, Bu."
Saya mengatakan itu bukan karena saya tidak menerima keadaan kami sekarang.
Saya mengatakan itu karena saya mempunyai harapan.
Saya ingin suatu hari nanti ketika saya sudah bekerja, saya bisa memberikan sesuatu yang selama ini mungkin hanya bisa saya bayangkan.
Saya ingin membelikan ibu rumah yang nyaman.
Saya ingin membuat ibu tidak perlu lagi memikirkan banyak hal tentang kebutuhan hidup.
Dan yang paling saya inginkan, saya ingin membawa ibu pergi ke tempat-tempat yang selama ini hanya menjadi impian.
Saya ingin mengajak ibu berziarah ke Tarim, Hadramaut.
Saya ingin membawa ibu melihat tempat-tempat yang selama ini mungkin hanya ibu dengar dari cerita dan pengajian.
Saya juga mempunyai keinginan untuk berziarah ke makam Imam Muhammad bin Sa'id al-Busiri, pengarang Qasidah Burdah.
Saya tidak tahu kapan semua itu bisa terwujud.
Mungkin tidak tahun ini.
Mungkin juga belum dalam waktu dekat.
Tetapi saya ingin menyimpan keinginan itu sebagai sebuah janji kepada diri saya sendiri.
Saya ingin bekerja.
Saya ingin berusaha.
Saya ingin suatu hari nanti mempunyai kemampuan untuk mengatakan kepada ibu,
"Bu, sekarang ibu tidak perlu memikirkan semuanya. Sekarang biar saya yang berusaha."
Saya melihat rumah-rumah mewah, tetapi yang saya pikirkan justru ibu
Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak rumah yang bagus.
Ada rumah yang besar.
Ada rumah dengan halaman luas.
Ada rumah yang terlihat begitu nyaman.
Saya tidak merasa iri kepada pemiliknya.
Saya justru membayangkan sesuatu.
Bagaimana kalau suatu hari nanti saya bisa memberikan rumah seperti itu untuk ibu?
Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Bukan untuk pamer.
Bukan untuk menunjukkan bahwa saya sudah berhasil.
Tetapi karena saya tahu, ibu sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk keluarganya.
Saya ingin suatu hari nanti ibu bisa tinggal di tempat yang nyaman.
Saya ingin melihat ibu duduk santai di rumah tanpa memikirkan apakah kebutuhan besok sudah cukup atau belum.
Saya ingin melihat ibu menikmati hasil dari perjuangan anaknya.
Namun saat itu saya hanya bisa berkata,
"Sabar ya, Bu."
Saya belum punya rumah.
Saya belum punya pekerjaan tetap.
Saya belum punya penghasilan besar.
Yang saya punya baru ijazah, doa, dan keinginan untuk berusaha.
Tetapi saya percaya bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil.
Sampai di kampus, ibu justru terlihat sangat bahagia
Setelah perjalanan, akhirnya kami sampai di kampus.
Saya melihat wajah ibu.
Ibu terlihat senang.
Mungkin bagi ibu, datang ke kampus bersama anaknya yang sudah menyelesaikan kuliah adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.
Saya memperhatikan ibu.
Dan di situlah perasaan saya semakin campur aduk.
Saya tidak menangis.
Tidak ada air mata yang jatuh dari mata saya.
Tetapi bukan berarti saya tidak sedih.
Ada rasa sakit yang saya simpan di dalam hati.
Saya melihat ibu yang usianya sekarang sudah 57 tahun.
Saya berpikir,
"Sudah sebanyak apa pengorbanan ibu untuk saya?"
Dan kemudian saya bertanya kepada diri sendiri,
"Apa yang sudah saya berikan kepada ibu?"
Jawabannya mungkin belum banyak.
Saya memang sudah menyelesaikan kuliah.
Saya sudah mendapatkan ijazah.
Tetapi saya merasa itu belum cukup untuk membalas semua yang sudah ibu lakukan.
Saya tahu, seorang anak tidak akan pernah benar-benar mampu membalas seluruh pengorbanan orang tuanya.
Tetapi setidaknya saya ingin terus berusaha.
Saya ingin suatu hari nanti ibu bisa melihat keberhasilan saya bukan hanya dari selembar ijazah.
Saya ingin ibu melihat bahwa perjuangan dan doanya tidak sia-sia.
Ibu naik lift dan saya melihat kebahagiaan kecil di wajahnya
Ada satu kejadian sederhana yang sampai sekarang terus saya ingat.
Ketika kami berada di kampus, ibu naik lift.
Bagi sebagian orang, mungkin naik lift adalah hal biasa.
Tetapi saya melihat ekspresi ibu.
Ibu terlihat senang.
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran ibu saat itu.
Namun saya melihat ada kebahagiaan kecil di wajahnya.
Saya kemudian berpikir,
"Begitu sederhananya kebahagiaan seorang ibu."
Kemudian saya membelikan minuman kesukaan ibu dari mesin otomatis.
Ketika minuman itu keluar dari mesin, ibu terlihat kaget sekaligus senang.
Akhirnya ibu tertawa.
Saya ikut tersenyum.
Mungkin bagi orang lain, kejadian itu sangat sederhana.
Hanya membeli minuman.
Hanya naik lift.
Hanya pergi ke kampus.
Tetapi bagi saya, momen itu sangat berarti.
Saya melihat ibu menikmati sesuatu yang mungkin selama ini tidak sering ia temui.
Dan di dalam hati saya kembali merasa sedih.
Bukan karena ibu tidak bahagia.
Justru karena saya melihat betapa sederhananya hal yang bisa membuat ibu bahagia.
Saya kemudian berpikir,
"Kalau suatu hari nanti saya sudah bekerja dan punya rezeki lebih, saya ingin memberikan lebih banyak kebahagiaan seperti ini kepada ibu."
Bukan hanya minuman dari mesin otomatis.
Bukan hanya naik lift di gedung kampus.
Saya ingin membawa ibu melihat tempat-tempat yang belum pernah ia lihat.
Saya ingin mengajak ibu bepergian.
Saya ingin membelikan sesuatu yang memang ibu butuhkan.
Saya ingin membuat ibu bisa menikmati masa tuanya dengan lebih tenang.
Saya tidak ingin melupakan hari ini
Hari itu mungkin terlihat biasa.
Saya hanya mengajak ibu pergi ke kampus.
Kami menggunakan motor sederhana.
Kami melewati jalan.
Kami melihat rumah-rumah.
Kami berbicara.
Kami sampai di kampus.
Ibu naik lift.
Saya membelikan minuman.
Kemudian kami pulang.
Tetapi bagi saya, hari itu adalah pengingat.
Pengingat bahwa di balik kelulusan saya ada seorang ibu yang sudah menunggu saya sampai sejauh ini.
Saya akhirnya menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan.
Justru setelah lulus, perjuangan yang sebenarnya dimulai.
Saya harus mencari pekerjaan.
Saya harus membangun kehidupan.
Saya harus belajar menjadi orang yang lebih bertanggung jawab.
Dan saya ingin menjadikan keberhasilan saya nanti sebagai bentuk rasa terima kasih kepada ibu.
Saya tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan saya dapatkan.
Saya tidak tahu berapa besar gaji pertama saya nanti.
Saya juga tidak tahu berapa lama saya harus berjuang sampai bisa membeli rumah untuk ibu.
Tetapi saya tahu satu hal.
Saya tidak ingin berhenti berusaha.
Untuk ibu, tunggu saya
Bu, mungkin sekarang saya belum bisa memberikan banyak hal.
Saya belum bisa membelikan rumah.
Saya belum bisa membawa ibu bepergian ke tempat yang ibu impikan.
Saya belum bisa memberikan kehidupan yang sepenuhnya nyaman.
Tetapi saya ingin ibu tahu bahwa saya sedang berusaha menuju ke sana.
Ijazah yang sekarang saya pegang bukan hanya milik saya.
Di dalamnya ada doa ibu.
Ada kesabaran ibu.
Ada pengorbanan ibu.
Ada hari-hari ketika ibu mungkin ikut khawatir melihat anaknya berjuang.
Ada banyak hal yang mungkin tidak pernah saya lihat sendiri.
Dan sekarang, ketika saya sudah sampai di ujung pendidikan, saya justru semakin sadar bahwa keberhasilan ini bukan alasan bagi saya untuk berhenti.
Ini adalah awal.
Awal bagi saya untuk mencari pekerjaan.
Awal bagi saya untuk mandiri.
Awal bagi saya untuk membantu keluarga.
Dan awal bagi saya untuk mewujudkan janji kecil yang saya ucapkan di perjalanan bersama ibu.
"Bu, sabar ya."
"Kalau nanti saya sudah kerja, saya ingin membelikan ibu rumah."
"Saya ingin membawa ibu ke Tarim, Hadramaut."
"Saya ingin mengajak ibu berziarah."
Mungkin sekarang kalimat itu masih menjadi harapan.
Tetapi saya akan terus mengingatnya.
Tidak perlu menjadi kaya untuk membuat ibu bahagia
Semakin saya dewasa, saya semakin mengerti bahwa membahagiakan orang tua tidak selalu harus dengan sesuatu yang mahal.
Kadang-kadang cukup dengan mengajak ibu pergi.
Mendengarkan ceritanya.
Membelikan makanan atau minuman kesukaannya.
Mengantar ibu ke suatu tempat.
Menghubunginya ketika sedang jauh.
Atau sekadar berkata,
"Bu, terima kasih."
Namun saya juga tidak ingin berhenti di situ.
Saya ingin terus berusaha menjadi anak yang lebih baik.
Kalau nanti Allah memberikan saya rezeki lebih, saya ingin menggunakannya untuk membahagiakan ibu.
Kalau nanti saya mempunyai pekerjaan yang baik, saya ingin mengingat siapa yang selalu mendoakan saya ketika saya belum mempunyai apa-apa.
Kalau nanti saya mempunyai rumah, saya ingin ibu merasakan kenyamanan di dalamnya.
Kalau nanti saya mempunyai cukup rezeki untuk bepergian, saya ingin ibu menjadi salah satu orang pertama yang saya ajak.
Karena saya tahu, selama perjalanan hidup saya, ibu sudah banyak memberikan waktunya kepada saya.
Sekarang saya ingin memberikan waktu saya untuk ibu.
Dari motor sederhana menuju mimpi yang lebih besar
Hari itu saya pulang bersama ibu dengan motor yang sama.
Motor sederhana.
Tidak ada yang istimewa.
Tetapi mungkin justru perjalanan sederhana itulah yang akan selalu saya ingat.
Karena di atas motor itulah saya mengucapkan sebuah janji.
Janji bahwa setelah lulus saya tidak akan berhenti.
Saya akan mencari pekerjaan.
Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Saya akan belajar.
Saya akan menabung.
Saya akan membantu ibu.
Dan kalau suatu hari nanti saya berhasil membeli rumah untuk ibu, mungkin saya akan kembali mengingat perjalanan ini.
Saya akan mengingat bagaimana dulu saya hanya bisa melihat rumah-rumah mewah dari atas motor.
Saya akan mengingat bagaimana saya berkata,
"Sabar ya, Bu."
Saya akan mengingat bagaimana ibu tersenyum ketika naik lift.
Saya akan mengingat bagaimana ibu kaget melihat mesin minuman otomatis.
Dan saya akan mengingat bahwa kebahagiaan seorang ibu kadang bisa hadir dari hal yang sangat sederhana.
Saya belum berhasil, saya baru saja memulai
Sekarang saya memang sudah lulus.
Ijazah sudah keluar.
Tinggal menunggu wisuda.
Tetapi saya tidak ingin menganggap bahwa saya sudah berhasil sepenuhnya.
Saya merasa baru saja memulai perjalanan yang sebenarnya.
Saya ingin mencari pekerjaan dan membangun masa depan.
Saya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa pendidikan yang sudah saya tempuh bisa menjadi jalan untuk membantu keluarga.
Dan saya ingin suatu hari nanti melihat ibu tersenyum lebih lebar daripada hari itu.
Bukan karena sebuah mesin otomatis mengeluarkan minuman.
Bukan karena naik lift.
Bukan karena datang ke kampus.
Tetapi karena anaknya sudah mampu berdiri sendiri dan mengatakan,
"Bu, sekarang saya sudah bisa."
Mungkin hari itu masih jauh.
Mungkin jalannya panjang.
Mungkin saya akan mengalami banyak kegagalan sebelum sampai ke sana.
Tetapi saya tidak takut.
Karena saya tahu untuk siapa saya berjuang.
Saya berjuang untuk masa depan saya.
Saya berjuang untuk keluarga.
Dan salah satu alasan terbesar saya ingin berhasil adalah seorang ibu yang usianya sekarang sudah 57 tahun.
Ibu yang hari itu duduk bersama saya di atas motor sederhana.
Ibu yang tersenyum ketika sampai di kampus.
Ibu yang bahagia ketika naik lift.
Ibu yang tertawa ketika saya membelikan minuman dari mesin otomatis.
Dan ibu yang mungkin tidak pernah meminta rumah mewah, perjalanan jauh, atau kehidupan yang sempurna.
Tetapi saya, sebagai anaknya, ingin memberikan yang terbaik yang mampu saya usahakan.
Semoga Allah memberikan saya umur, kesehatan, pekerjaan, rezeki, dan kemampuan untuk mewujudkan semua niat baik itu.
Semoga suatu hari nanti saya bisa membawa ibu ke Tarim, Hadramaut.
Semoga suatu hari nanti saya bisa mengajak ibu berziarah.
Semoga suatu hari nanti saya bisa membelikan ibu rumah yang nyaman.
Dan yang paling penting, semoga sebelum semua itu terwujud, saya tidak pernah lupa untuk membuat ibu merasa dicintai dan dihargai.
Karena bagi saya, wisuda bukanlah akhir dari perjuangan.
Wisuda adalah awal dari janji baru.
Janji seorang anak kepada ibunya:
"Bu, saya belum bisa membahagiakan ibu sekarang. Tapi saya akan terus berusaha sampai suatu hari nanti saya bisa."
