Tasu’a: Menyambut Hari Ke-9 Muharram, Jejak Sunnah dan Amalan Spesial

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dari fakultas Ushuluddin prodi Ilmu Alquran dan Tafsir
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Abdul Jawad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tasu’a: Menyambut Hari Ke-9 Muharram, Jejak Sunnah dan Amalan Spesial
Oleh: Abdul Jawad
Sebentar lagi, umat Islam akan memasuki satu momen istimewa di bulan Muharram: hari Tasu’a, atau tanggal 9 Muharram. Meski namanya tak sepopuler Asyura, Tasu’a punya sejarah dan keutamaan yang tak kalah bermakna. Di hari inilah, Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk berpuasa sebagai bentuk syukur sekaligus pembeda dari tradisi puasa kaum Yahudi. Lantas, seperti apa jejak sejarah dan amalan di hari Tasu’a? Yuk, kita bahas bersama!
Tasu’a: Sejarah dan Hikmah di Balik Puasa
Tasu’a berasal dari bahasa Arab yang berarti “kesembilan”, merujuk pada tanggal 9 Muharram dalam kalender Hijriah. Dalam sejarahnya, Rasulullah saw. mengetahui bahwa kaum Yahudi berpuasa di hari Asyura (10 Muharram) sebagai tanda syukur atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Untuk membedakan umat Islam dari mereka, Rasulullah saw. bersabda:
“Jika aku masih hidup tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a).”
(HR. Muslim)
Sayangnya, beliau wafat sebelum sempat menjalankan puasa Tasu’a di tahun berikutnya. Namun, para ulama sepakat bahwa puasa Tasu’a tetap menjadi sunnah yang sangat dianjurkan, terutama jika digabungkan dengan puasa Asyura keesokan harinya.
-Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan:
“Para ulama dari kalangan sahabat dan setelahnya sangat menganjurkan puasa Tasu’a bersama Asyura, sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti sunnah Rasulullah saw.”
Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan,
“Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram, karena Nabi saw. memerintahkan demikian sebagai upaya menyelisihi kaum Yahudi.”
Dengan demikian, anjuran tentang puasa merupakan kesunnahan yang luar biasa.
