Kumparan Logo

Bahlil Siapkan Kontrak Jangka Panjang Impor Minyak Mentah dari Rusia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai pelantikan pejabat baru, Rabu (5/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai pelantikan pejabat baru, Rabu (5/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan impor minyak mentah dari Rusia dilakukan langsung oleh pemerintah, bukan badan usaha, dan akan diikat dalam bentuk kontrak jangka panjang.

Bahlil mengatakan impor tahap pertama telah tiba di Indonesia. Kendati belum membeberkan secara rincian total volumenya, ia menyebut pemerintah saat ini tengah menyiapkan pengiriman tahap kedua.

Adapun penugasan impor minyak mentah dari Rusia dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian ESDM. Kontrak tersebut dijalankan secara government-to-government (G2G).

​"Tahap pertama kan sudah. Nah, tahap dua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak yang jangka panjang ya," kata Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Bahlil menegaskan pengadaan tersebut tidak melibatkan PT Pertamina (Persero). Ia menambahkan, langkah ini mencerminkan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif tanpa keberpihakan pada blok tertentu dalam pemenuhan komoditas energi.

​"Ingat ya, yang melakukan pengadaan itu bukan Pertamina, tapi negara. Jadi, negara enggak boleh diintervensi oleh negara lain. Ini negara, jadi jangan dipleset-plesetin," tuturnya.

​"Setelah negara ambil, baru negara mau siapkan ke mana untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, itu urusan negara lah. Negara kita ini kan menganut asas bebas aktif. Kita tidak mendikte negara lain, tapi negara lain juga tidak boleh mendikte kita," tegas Bahlil.

Defisit Neraca Dagang Migas

Ilustrasi pelabuhan Tanjung Priok. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kebijakan impor ini mengemuka di tengah tekanan neraca perdagangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Juni 2026 mencatatkan defisit sebesar USD 450 juta. Ini merupakan kali kedua neraca perdagangan Indonesia mencatatkan rekor negatif sepanjang tahun ini.

Defisit neraca perdagangan Juni dipicu oleh sektor migas yang masih membukukan defisit hingga USD 3,49 miliar, meski angka ini membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD 3,76 miliar.

Sebelumnya, berdasarkan laporan Bloomberg pada 9 Juli lalu, data pabean Big Trade Data mencatat sebanyak 770.000 barel minyak mentah telah dikirim ke Pelabuhan Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 29 Juni. Pengiriman tersebut diperkirakan bernilai sekitar USD 75 juta.

​Data tersebut menunjukkan kargo minyak dimuat dari Pelabuhan Kozmino, Rusia, dan diangkut menggunakan kapal tanker Sierra dengan pembeli tercatat atas nama Lemigas.