Kumparan Logo

Bank Dunia Kucurkan Rp 17,9 T untuk Bantu Bangladesh Hadapi Gejolak Harga Pupuk

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi World Bank. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi World Bank. Foto: Shutterstock

Bank Dunia atau World Bank menyetujui dua pinjaman dengan total lebih dari USD 1 miliar atau Rp 17,92 triliun (kurs Rp 17.922) untuk membantu Bangladesh menghadapi gejolak pasar pupuk global serta memperkuat ketahanan pangan.

Dalam pernyataan yang dikirim melalui surat elektronik pada Sabtu (27/6), Bank Dunia menyebutkan pinjaman senilai USD 300 juta akan digunakan untuk membiayai impor 600 ribu ton pupuk menjelang musim tanam padi yang berlangsung dari Juli 2026 hingga April 2027.

Musim tanam tersebut menyumbang sekitar 90 persen dari total produksi beras Bangladesh. Mengutip Bloomberg, Bangladesh mengimpor lebih dari 85 persen kebutuhan pupuknya, sehingga negara tersebut sangat rentan terhadap gangguan pasokan global.

Sementara itu, sisa pinjaman sebesar USD 713 juta, yang disalurkan melalui skema tanggap darurat, dijadwalkan cair sebelum 30 Juni 2026.

Dana tersebut akan digunakan untuk penyaluran bantuan tunai bagi rumah tangga berpendapatan rendah, dukungan mata pencaharian bagi usaha mikro dan kecil, serta pengadaan pasokan bahan bakar dan energi.

Ilustrasi Suasansa di Dhaka, Bangladesh. Foto: Shutter Stock

“Kenaikan harga pangan, pupuk, dan bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah, ditambah ruang fiskal yang semakin sempit, telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian Bangladesh, dengan petani kecil serta masyarakat miskin dan rentan menjadi kelompok yang paling terdampak,” kata Direktur Divisi Bank Dunia untuk Bangladesh dan Bhutan, Jean Pesme.

Tekanan terhadap kondisi fiskal Bangladesh semakin meningkat sejak pecahnya perang Iran pada Februari. Hal ini terjadi karena cadangan devisa negara tersebut tertekan akibat tingginya tagihan impor dan melambatnya pertumbuhan remitansi dari luar negeri.

instagram embed