Kumparan Logo

Berkshire Hathaway Borong Saham Alphabet Rp 178 T

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Nasdaq. Foto: JHVEPhoto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nasdaq. Foto: JHVEPhoto/Shutterstock

Berkshire Hathaway Inc. menggelontorkan sekitar USD 4,5 miliar atau setara Rp 80,1 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.801 per USD) untuk membeli kembali sahamnya (buyback) pada kuartal II 2026.

Konglomerasi investasi tersebut juga memborong hampir USD 20 miliar atau Rp 356 triliun saham perusahaan lain sepanjang periode tersebut.

Mengutip laporan Bloomberg, langkah agresif ini menjadi sinyal bahwa Chief Executive Officer (CEO) Berkshire Hathaway, Greg Abel, mulai menggunakan sebagian besar cadangan kas perusahaan untuk ekspansi dan investasi.

Berkshire mulai kembali melakukan buyback pada kuartal I 2026 setelah sempat vakum selama lebih dari setahun. Sebelumnya, Abel menyatakan aksi korporasi ini dilakukan lantaran jajaran eksekutif menilai “nilai intrinsik” saham perusahaan jauh lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat ini.

“Orang-orang akan terdorong oleh aksi buyback ini. Ini juga menjadi cara Greg mengambil kendali dan menunjukkan kepemimpinannya,” ujar Cathy Seifert, analis di CFRA Research.

Aksi pembelian kembali saham tersebut sekaligus memberikan pembayaran kuartalan terbesar kepada pemegang saham Berkshire sejak 2021.

Di sisi lain, simpanan kas perusahaan turun menjadi USD 365,5 miliar (sekitar Rp 6.506 triliun) pada kuartal II, dari posisi sebelumnya yang mencapai sekitar USD 397 miliar (Rp 7.067 triliun).

Laba operasional Berkshire tercatat naik 16 persen menjadi hampir USD 13 miliar (Rp 231,4 triliun) dalam tiga bulan hingga Juni 2026. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan kinerja divisi manufaktur, jasa, ritel, serta lini bisnis utilitas perusahaan.

Berkshire yang berbasis di Omaha, Nebraska, merilis laporan kinerja tersebut dalam pernyataan resminya pada Sabtu (8/8).

Gebrakan Investasi Greg Abel

Kinerja Berkshire selalu menjadi sorotan utama pelaku pasar global karena lini bisnisnya, mulai dari asuransi, perkeretaapian, energi, hingga manufaktur keren dijadikan proksi kesehatan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Setelah bertahun-tahun relatif konservatif di bawah era Warren Buffett yang kerap menghindari valuasi tinggi, penerusnya kini langsung meneken dua transaksi raksasa secara beruntun.

Abel menggelontorkan USD 6,8 miliar (sekitar Rp 121 triliun) untuk mengakuisisi perusahaan pengembang perumahan Taylor Morrison Home Corp. Langkah ini mencerminkan strategi investasi berbasis nilai (value investing).

Pada saat yang sama, Berkshire menanamkan modal sebesar USD 10 miliar (Rp 178 triliun) kepada induk perusahaan Google, Alphabet Inc., guna mendukung portofolio investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Bidang teknologi ini merupakan terobosan baru bagi strategi tradisional Berkshire.

Pekerja melihat layar menampilkan pergerakan saham di New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat, Kamis (3/4/2025). Foto: Charly Triballeau/AFP

Masuknya Alphabet membuat raksasa teknologi tersebut langsung menduduki jajaran lima besar portofolio saham Berkshire pada akhir kuartal II, menggantikan posisi Chevron Corp. Sementara itu, transaksi akuisisi Taylor Morrison baru rampung sepenuhnya pada kuartal III.

Memasuki pertengahan tahun pertama kepemimpinannya, para pemegang saham memberikan respons positif terhadap gaya manajemen Abel. Meskipun demikian, saham Berkshire kelas B baru naik 3,8 persen sepanjang tahun ini hingga penutupan perdagangan Jumat, tertinggal dari indeks S&P 500 yang menguat sekitar 13 persen.

Kinerja Unit Bisnis Utama

Laba bersih unit perkeretaapian Berkshire, BNSF, naik 6,3 persen menjadi sekitar USD 1,6 miliar (Rp 28,5 triliun). Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan volume pengiriman kargo, kendati perusahaan harus menghadapi tantangan kenaikan biaya bahan bakar.

CEO BNSF, Katie Farmer, ditugaskan untuk menggenjot margin operasional sekaligus memperkecil kesenjangan efisiensi dengan para kompetitor industri logistik.

Sementara itu, Geico sebagai kontributor utama bisnis asuransi Berkshire mencatat penurunan laba underwriting sebelum pajak sebesar 45 persen menjadi USD 994 juta (sekitar Rp 17,7 triliun) pada kuartal II. Penurunan tersebut dipicu oleh peningkatan klaim kerugian serta lonjakan biaya komisi dan pemasaran.

“Ini sangat berbeda dengan apa yang kami lihat pada sejumlah perusahaan penjaminan lainnya,” kata Seifert. Menurutnya, kompetitor lain mampu membukukan laba underwriting yang sangat kuat kendati penjualan melambat akibat ketatnya persaingan.

Penurunan profitabilitas Geico tersebut mengimbangi pertumbuhan unit asuransi lainnya, sehingga laba underwriting bersih secara grup terkoreksi 13 persen menjadi USD 1,7 miliar (sekitar Rp 30,3 triliun).

Sebaliknya, laba bersih dari portofolio manufaktur, jasa, dan ritel Berkshire melesat 24 persen menjadi USD 4,5 miliar (sekitar Rp 80,1 triliun), sementara laba lini utilitas melonjak 27 persen menjadi USD 891 juta (sekitar Rp 15,9 triliun).