Berstandar FIFA dan Standar Eropa, Intip Dapur Pembinaan Papua Football Academy

Hujan kecil mengguyur Kabupaten Timika, Papua Tengah, saat kumparan mengunjungi tempat latihan Papua Football Academy (PFA), akademi di Timika Sport Complex, Kamis (15/9). Cuaca di Timika kerap kali tidak bisa diprediksi.
Begitu rombongan jurnalis tiba, hujan berhenti. Pemandangan lapangan latihan sepak bola milik PFA tergolong berkualitas. PFA merupakan program pengembangan atlet sepak bola Papua yang digagas oleh PT Freeport Indonesia, dan berbasis di Timika.
Dari tepi lapangan itu kumparan mengamati dan mendengar langsung arahan pelatih. “Back pass, chip, chip. Kamu lari,” ucap Kepala Pelatih PFA, Ardiles Rumbiak, terdengar kencang dari tepi lapangan. ‘Coach Ardiles’ Begitulah orang-orang memanggilnya.
Ardiles Rumbiak, mantan Pemain Persipura yang telah dua kali menjuarai Liga 1 Indonesia itu kini menjadi Kepala Pelatih PFA. Sementara itu Wolfgang Pikal,mantan asisten pelatih Timnas itu kini menjabat sebagai Direktur PFA sejak awal berdiri 2022.
Usai latihan selesai sekitar pukul 09.30 WIB, Ardiles menjelaskan bahwa kehadiran PFA bukan sekadar bermain sepak bola saja. Menurutnya, anak-anak belajar karakter dan mindset sebagai manusia yang bermental baja, dan berperilaku sopan.
“Karena kalau manusianya pola pikirnya baik, terus karakternya kebiasaan kecil setiap hari dibangun dengan baik, otomatis sepak bola itu akan lebih baik,” jelas dia.
Sementara itu, Wolfgang Pikal mengatakan akademi ini dirancang untuk mengedukasi para pemain muda melalui tiga fokus utama, yaitu gaya hidup (lifestyle), pendidikan akademik sekolah, dan pembinaan sepak bola profesional.
Melalui pendekatan menyeluruh ini, para siswa digembleng agar siap melanjutkan jenjang karier dan pendidikannya setelah menyelesaikan program pendidikan setingkat SMP di PFA.
Tujuan utama dari pembinaan di PFA adalah mengantarkan para lulusannya menembus akademi sepak bola di Pulau Jawa, baik bergabung dengan tim Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 maupun akademi swasta terkemuka.
Langkah ini didasari oleh pandangan PFA bahwa Pulau Jawa masih menjadi pusat sepak bola nasional, sehingga keberlanjutan pembinaan dan pendidikan para pemain di sana menjadi sangat krusial bagi perkembangan karier mereka.
“Soalnya kita dari di PFA kita nilai pusat sepak bola itu di Jawa. Itu tujuan kita,” jelas dia.
Untuk menjaring bakat-bakat terbaik, PFA menerapkan proses seleksi ketat di tiga kelompok umur. Pada tahun ini, hanya 25 anak yang terpilih dari sekitar 2.500 pendaftar yang mengikuti seleksi di 18 kota dan kabupaten.
Pikal mengaku sangat optimistis bahwa angkatan baru yang berhasil lolos seleksi ini memiliki kualitas dan potensi yang setara dengan generasi-generasi terdahulu.
“Dan saya optimistis yang angkatan baru juga jadi sama bagus seperti angkatan sebelumnya,” jelas dia.
Fasilitas Latihan Standar FIFA dan Eropa
Fasilitas latihan berstandar internasional, tersedia 1 lapangan rumput alami dan 1 lapangan sintetis berstandar FIFA, ditunjang dengan fasilitas gymnasium modern untuk menjaga kebugaran fisik pemain.
“Training di sini seperti akademi di Eropa, kurang lebih yang anak baru punya 15 jam seminggu main sepak bola. Yang umur sudah 14 tahun, mereka 20 jam per minggu main sepak bola dan analisis. Itu sudah level seperti elite di Eropa, setiap hari main bola,” jelas Pikal.
Para pemain turut mengikuti pendidikan formal selama 19 jam per minggu agar aspek akademis tetap terjaga. Para siswa tinggal di asrama dengan layanan lengkap dan sistem pengawasan keamanan 24 jam nonstop.
Asupan gizi harian siswa terjamin melalui sajian nutrisi seimbang, serta didukung oleh fasilitas transportasi darat dan udara untuk mendukung setiap kegiatan operasional akademis maupun pertandingan.
