Besok Harga Terbaru BBM, Bahlil Pastikan Pertalite Tak Naik hingga Akhir 2026

Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi berubah pada awal Oktober 2026, di tengah harga minyak mentah yang kembali merangkak naik karena eskalasi perang AS dan Iran.
Pada awal pembukaan perdagangan Rabu (30/9), harga Brent untuk penyelesaian November naik 0,5 persen menjadi USD 103,11 per barel. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 0,2 persen menjadi USD 89,25 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menekankan harga BBM nonsubsidi akan mengikuti perkembangan harga pasar. Namun, dia tidak menyebut apakah harga BBM nonsubsidi pada Oktober akan mengalami kenaikan maupun penurunan.
"Yang nonsubsidi kan sudah... sudah kembali seperti biasa juga kan. Harga pasar ya. Kalau subsidi enggak (naik)," kata Laode ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (30/9).
Sementara itu, untuk BBM subsidi, pemerintah memastikan tidak ada kenaikan hingga akhir 2026. BBM yang termasuk dalam kelompok subsidi antara lain solar, Pertalite, dan minyak tanah.
“Kalau subsidi enggak (naik),” ujarnya.
Adapun harga BBM nonsubsidi disesuaikan setiap awal bulan, mengacu pada Kepmen ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Badan usaha seperti Pertamina dan SPBU swasta diberikan ruang melakukan evaluasi dan penyesuaian harga secara berkala.
Sementara itu, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun, berbeda dengan BBM nonsubsidi yang bergerak sesuai harga minyak mentah global.
Bahlil menegaskan kendati harga minyak mentah global kembali melesat pada Agustus 2026, harga BBM subsidi tidak akan ikut terkerek. Saat ini, harga BBM Pertalite sebesar Rp 10.000 per liter, dan Bio Solar Rp 6.800 per liter.
“Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu. Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9).
Bahlil menjelaskan fluktuasi harga minyak dunia memang bukanlah hal yang mudah diatasi. Meski begitu, ia memastikan pemerintah memprioritaskan tetap menjaga harga BBM subsidi, salah satunya dengan menambahkan anggaran subsidi.
“Sekalipun sekarang sudah menjadi USD 106 sampai 108 per barrel (minyak dunia) tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar USD 85 sampai USD 90. Jadi masih overall masih oke,” tegas Bahlil.
Sebelumnya, Pertamina menyesuaikan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo dan Dex Series per 1 September 2026. Sedangkan harga BBM bersubsidi masih tetap di angka yang sama seperti bulan sebelumnya.
Perubahan terjadi pada Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp 18.300 menjadi Rp 19.600 per liter, kemudian Dexlite dari Rp 19.700 menjadi Rp 23.700 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp 21.150 menjadi Rp 25.200 per liter.
