Bizhare Tawarkan Investasi Baterai Listrik, Potensi Imbal Hasil 40 Persen

Jurnalis Liputan Khusus Kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abdul Latif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Platform Securities Crowdfunding (SCF) Bizhare mulai melakukan diversifikasi portofolio pembiayaan secara agresif. Tidak lagi hanya berkutat pada sektor Food and Beverage (F&B) atau ritel, CEO & Pendiri Bizhare, Heinrich Vincent, mengungkapkan bahwa pihaknya kini serius menggarap sektor energi terbarukan (green energy).
Langkah ini diambil Bizhare sebagai respons terhadap peluang ekonomi hijau yang kian terbuka, sekaligus memberikan opsi instrumen investasi yang menarik bagi masyarakat di tengah tantangan ekonomi 2025.
Vincent menjelaskan bahwa salah satu proyek energi hijau andalan yang baru saja dimasuki Bizhare adalah infrastruktur penukaran baterai listrik (swap battery) yang banyak digunakan oleh pengemudi ojek online (ojol).
"Industri kami semakin beragam, tidak hanya F&B atau retail seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kami baru masuk ke sektor energi terbarukan, khususnya baterai listrik (swap battery) yang biasa digunakan ojek online," ujar Vincent kepada kumparan seperti yang dikutip, Jumat (19/12).
Dalam tahap awal ekspansi hijau ini, Bizhare memfasilitasi investasi untuk 40 titik penukaran baterai terbaik yang tersebar di wilayah Jabodetabek.
Vincent menegaskan bahwa titik-titik ini bukan proyek spekulatif, melainkan lokasi yang sudah terbukti beroperasi dan menghasilkan keuntungan (return).
Cuan Tinggi di Sektor Hijau
Seringkali investasi di sektor keberlanjutan dianggap memiliki imbal hasil yang moderat atau bertenor sangat panjang. Namun, data yang dipaparkan Vincent menunjukkan sebaliknya. Proyek swap battery ini menawarkan tingkat pengembalian yang sangat atraktif bagi investor ritel.
Berdasarkan data historis dari perusahaan mitra yang telah beroperasi sejak tahun 1998, tingkat pengembalian investasi di sektor ini tergolong tinggi.
"Untuk swap battery, berdasarkan data historis, return-nya mencapai sekitar 48 persen per tahun sebelum balik modal, dan 35 persen setelahnya. Rata-rata sekitar 40 persen per tahun dalam kurun waktu 5 tahun," jelas Vincent.
Angka ini jauh di atas rata-rata instrumen investasi konvensional, menjadikan sektor energi hijau sebagai primadona baru dalam skema urun dana (crowdfunding).
Solusi di Tengah Pengetatan Kredit
Keputusan Bizhare merambah sektor strategis seperti energi dan ekspor (termasuk proyek ekspor arang dari Kendal) juga didasari oleh kondisi makroekonomi.
Vincent melihat adanya celah pembiayaan (funding gap) di mana lembaga keuangan konvensional sedang memperketat kredit bagi UKM, sementara industri fintech P2P lending menghadapi tantangan internal.
"Bizhare melihat situasi ekonomi saat ini justru sebagai peluang. Investor dapat melihat proyek secara jelas dengan underlying bisnis yang menarik. Dari kacamata publik, ini menghadirkan harapan baru," tambahnya.
Hingga Oktober, Bizhare telah menyalurkan dana sekitar Rp300 miliar kepada hampir 200 bisnis. Dengan masuknya sektor energi hijau yang high yield ini, Vincent optimis target penyaluran dana sebesar Rp300–350 miliar tahun ini dapat tercapai, seiring dengan meningkatnya kepercayaan publik terhadap transparansi securities crowdfunding.
