Boros Energi, AWS Kucurkan Rp 17,8 T untuk Warga AS di Sekitar Data Center

Amazon Web Services (AWS), divisi komputasi awan Amazon, akan menginvestasikan lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp 17,8 triliun (kurs Rp 17.882 per USD) dalam lima tahun ke depan untuk mendukung masyarakat dan wilayah di sekitar pusat datanya di Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, Sabtu (3/10), investasi tersebut ditujukan untuk mengatasi dampak operasional pusat data terhadap penggunaan listrik dan air.
Pusat data menjadi infrastruktur penting untuk menyediakan daya komputasi dalam melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan (AI).
Namun, pembangunan fasilitas tersebut mendapat penolakan di sejumlah wilayah AS karena membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar. Hal tersebut juga dinilai dapat meningkatkan biaya utilitas serta berdampak pada lingkungan sekitar.
Amazon menyebut telah menginvestasikan USD 276 miliar untuk pusat data sepanjang 2011–2025. Saat ini, perusahaan juga tengah mengembangkan atau memperluas pusat data di sejumlah negara bagian, termasuk Indiana, Louisiana, North Carolina, Virginia, dan Mississippi.
Melalui program investasi terbaru, AWS akan mengalokasikan dana untuk berbagai kebutuhan masyarakat di sekitar pusat datanya. Program tersebut mencakup pendidikan, pelatihan kerja, keterjangkauan energi, serta upaya konservasi air dan energi.
Amazon juga berupaya menjawab kritik terkait dampak lingkungan, energi, dan ekonomi dari pembangunan pusat data. Perusahaan mencatat saat ini terdapat lebih dari 100 usulan moratorium pembangunan pusat data yang sedang dipertimbangkan di berbagai wilayah AS.
CEO AWS, Matt Garman, mengatakan pembangunan pusat data perlu dilakukan karena sejumlah negara juga berlomba mengembangkan teknologi AI.
"Negara-negara yang memimpin dalam bidang AI akan menentukan arah perkembangannya dan memperoleh manfaat terbesar darinya," kata Garman.
Di sisi lain, AWS menargetkan seluruh pusat datanya mencapai status water positive pada 2030, dengan mengembalikan lebih banyak air ke masyarakat dibandingkan jumlah yang digunakan. Saat ini, perusahaan menyebut telah mencapai 75 persen dari target tersebut.
