Bos IMF Khawatir AI Gerus Lapangan Kerja hingga Penerimaan Negara

Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan ancaman disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap pasar tenaga kerja global serta penerimaan perpajakan negara.
Dikutip dari Bloomberg, Kristalina mendesak para pembuat kebijakan untuk segera memikirkan ulang sistem pendidikan dan mengambil langkah nyata guna membantu masyarakat beradaptasi.
“Ini adalah tsunami yang bergerak perlahan, tetapi tetap saja sebuah tsunami,” ujar Kristalina dalam penampilan perdananya pada Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, dikutip Selasa, (13/10).
Kristalina mengamati bahwa teknologi AI telah memangkas permintaan tenaga kerja manusia dengan mengambil alih berbagai tugas rutin dan berulang.
Pada saat yang sama, kehadiran AI justru meningkatkan proporsi pekerjaan berupah rendah di sektor-sektor seperti konstruksi, yang menurutnya bukan fenomena positif bagi kesejahteraan buruh.
Transformasi digital ini berdampak luas terhadap keuangan publik. Penggunaan AI berisiko menekan penerimaan pajak pemerintah karena menggeser struktur perekonomian ke arah modal dan menjauhi sektor tenaga kerja, yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan negara.
Peringatan tersebut menggarisbawahi potensi guncangan besar AI terhadap peta lapangan kerja dan stabilitas ekonomi global.
Tenaga kerja muda di sektor yang paling terpapar AI kini menghadapi perlambatan rekrutmen, sehingga pelamar posisi pemula (entry-level) menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Kekhawatiran juga mengemuka bahwa teknologi AI akan memperlebar jurang ketimpangan. Sebab, manfaat ekonomi dari investasi jumbo AI saat ini masih terkonsentrasi pada kelompok pekerja dan negara maju tertentu.
“Kita tidak dapat membayangkan seperti apa dunia kerja dalam lima tahun ke depan. Namun, kita dapat bersikap disiplin memperhatikan perubahan, memetik pelajaran, dan yang terpenting segera mengambil tindakan berdasarkan pelajaran tersebut,” tegas Kristalina.
Kendati menekan pasar kerja, teknologi ini diproyeksikan tetap memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. IMF mengkalkulasi adopsi AI berpotensi menyumbang hingga satu poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di Asia.
Tambahan pertumbuhan tersebut dinilai sangat signifikan untuk menutupi hambatan ekonomi akibat laju penuaan populasi di negara-negara kaya kawasan tersebut.
