Kumparan Logo

Cerita Sentra Tenun di Lombok Ketiban Cuan dari MotoGP Mandalika 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Belajar tenun di Desa Wisata Sukarara Lombok. Foto: Julius Bramanto/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Belajar tenun di Desa Wisata Sukarara Lombok. Foto: Julius Bramanto/Shutterstock

Penyelenggaraan Pertamina GP Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), membawa berkah melimpah perajin lokal, termasuk sentra kerajinan tenun.

Koordinator Mina Tenun Desa Sukarara Lombok, Ama Heru alias Sudiman (50), mengakui jumlah pengunjung dan pembeli meningkat drastis seiring digelarnya ajang balap motor kelas dunia tersebut.

“Dampaknya sangat membahagiakan. Sebelum ada gelaran ini tamu agak sepi, tetapi begitu ada event MotoGP, banyak wisatawan yang berdatangan ke sini,” kata Sudiman di Desa Sukarara, Lombok, Jumat, (9/10).

Sudiman menjelaskan, pada hari-hari biasa omzet penjualan kelompok Mina Tenun berkisar di angka Rp 2 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Namun, selama masa penyelenggaraan Pertamina GP Indonesia 2026, pendapatan mereka melonjak hingga 70 sampai 80 persen dari batas normal.

Sebagai salah satu UMKM binaan Pertamina, Mina Tenun juga mendapatkan kesempatan memajang dan memasarkan langsung produk kerajinannya di area stan pameran sirkuit.

Produk yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari udeng, selendang, slayer, kain, kaos, tas, hingga berbagai aksesori. Harganya bervariasi mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 3 juta per item.

“Produk termahal ada di kisaran Rp 3 jutaan, yaitu kain tenun benang merdis. Bahannya sangat ringan dan halus, itu yang membuat harganya lebih mahal,” ujar Sudiman.

Tenun Sampah Plastik dan Inovasi Energi Kinetik

Sentra tenun Mina Tenun yang merupakan binaan Pertamina di Desa Sukarara, Lombok pada Jumat (9/10/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Saat ini kelompok Mina Tenun menaungi 22 orang penenun. Tak hanya memproduksi kain tradisional, kelompok ini juga melahirkan berbagai inovasi ramah lingkungan, mulai dari tenun berbahan limbah plastik hingga alat tenun penghasil energi listrik.

Salah satu penenun, Sri Hartini (40), menceritakan bahwa ia memanfaatkan sampah kantong kresek dan botol plastik bekas untuk diolah menjadi benang tenun.

“Dari bahan daur ulang sampah plastik ini, kami bisa membuat produk seperti dompet, taplak meja, hingga sarung bantal,” tuturnya.

Selain itu, kelompok ini menciptakan inovasi alat tenun berteknologi energi kinetik bernama Bayu Tenun. Gerakan kaki penenun saat mengoperasikan alat akan memutar dinamo untuk menghasilkan listrik. Energi listrik tersebut kemudian disimpan ke dalam baterai yang juga terhubung dengan kincir angin dan panel surya.

Terkait durasi pengerjaan, Wiwin (33), penenun lainnya, menyebutkan bahwa untuk menghasilkan kain sepanjang satu meter dibutuhkan waktu rata-rata sekitar satu minggu, atau bisa lebih cepat menjadi dua hingga tiga hari jika dikerjakan secara tekun.

Sementara itu, VP Community Involvement and Development (CID) Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menjelaskan, dukungan Pertamina difokuskan pada pengembangan inovasi energi bersih berbasik komunitas.

“Listrik yang dihasilkan dari alat Bayu Tenun dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan operasional masyarakat, seperti menyalakan pompa air bersih, filter air, hingga penerangan di fasilitas workshop penenun. Ini memberi efisiensi biaya yang nyata,” jelas Dian.

Dian menambahkan, Pertamina terus mendampingi pemasaran produk Mina Tenun di pasar domestik, seraya menyiapkan strategi agar produk kerajinan tenun khas Lombok ini dapat menembus pasar ekspor di masa depan.