Ekspor-Impor Senilai USD 168 Juta Berpotensi Tertunda Imbas Erupsi Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) juga berpotensi menunda arus ekspor dan impor yang dilakukan via Bandara Soekarno-Hatta. Nilai ekspor dan impor yang tertunda bisa mencapai USD 168 juta.
Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menjelaskan bahwa jika gangguan penerbangan selama delapan jam saja, potensi arus ekspor dan impor yang tertunda adalah sekitar sekitar USD 28 juta.
Angka itu terdiri atas ekspor USD 9,04 juta dan impor USD 18,97 juta, termasuk hampir 160 ton barang impor.
Adapun asumsi nilai asumsi penundaan ekspor dan impor senilai USD 168 juta merupakan asumsi untuk gangguan selama 2 hari.
“Jika gangguan berlangsung selama 48 jam, nilai indikatif barang yang berpotensi tertunda meningkat menjadi sekitar USD 168 juta, terdiri atas ekspor USD 54,23 juta dan impor USD 113,83 juta, termasuk sekitar 960 ton barang impor,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9).
Lebih lanjut, hitungan potensi tersebut didasarkan pada beberapa indikator seperti nilai ekspor nonmigas melalui Soekarno–Hatta mencapai USD 9,90 miliar dan impor USD 20,77 miliar pada 2025 lalu.
Selain itu, nilai indikatif arus perdagangan yang mencapai USD 30,67 miliar setahun atau rata-rata USD 84,03 juta per hari juga menjadi indikator perhitungan. Untuk impor, volumenya mencapai 174,9 ribu ton setahun atau rata-rata 479 ton per hari.
“Angka tersebut mengacu pada data BPS dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan data ekspor 2025 berstatus revisi,” kata Setjadi.
Ia juga menjelaskan perhitungan tersebut hanya mencakup perdagangan internasional melalui Bandara Soekarno–Hatta dan belum termasuk pengiriman domestik sehingga bukan estimasi kerugian langsung.
Selain itu, ia juga menuturkan bahwa ekspor menggunakan nilai FOB, sedangkan impor menggunakan nilai CIF. Hal ini membuat kerugian aktual bergantung pada pembatalan penerbangan, pengalihan kargo, karakteristik komoditas, dan waktu pemulihan operasi.
Untuk itu, sebagai solusi jangka pendek ia menyarankan agar pengelola bandara, maskapai, freight forwarder, Bea dan Cukai, karantina, serta pemilik barang perlu mengaktifkan koordinasi tanggap darurat.
Prioritasnya meliputi pemantauan sebaran abu secara real-time, penjadwalan ulang penerbangan, penyediaan kapasitas tambahan, percepatan penanganan dokumen, dan pengalihan kargo melalui bandara alternatif.
Adapun barang mudah rusak, farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres perlu mendapatkan prioritas. Di samping itu, pengiriman domestik dapat dialihkan ke moda darat, kereta api, laut, atau jaringan multimoda.
Sementara untuk solusi jangka panjang, menurutnya perusahaan perlu membangun rencana kontinuitas bisnis berdasarkan beberapa skenario durasi gangguan, menetapkan bandara dan moda alternatif, serta memiliki kontrak kapasitas cadangan dengan penyedia jasa logistik.
Importir perlu menyesuaikan persediaan pengaman untuk bahan baku kritis, sedangkan eksportir perlu menyiapkan gudang dan fasilitas rantai dingin alternatif.
“Pemerintah perlu menyusun protokol logistik kebencanaan lintas-instansi agar gangguan penerbangan akibat erupsi tidak berkembang menjadi gangguan rantai pasok dan produksi yang lebih luas,” ujarnya.
