Harga Minyak Kembali Naik Imbas Diplomasi AS-Iran Buntu

Harga minyak melanjutkan kenaikan pada Kamis (24/9) setelah melonjak 4 persen pada sesi sebelumnya. Tren ini terjadi seiring belum adanya tanda-tanda kemajuan konkret dalam pembicaraan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka Brent naik 43 sen atau 0,4 persen menjadi USD 103,51 per barel pada pukul 06.30 GMT.
"Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 35 sen atau 0,4 persen ke level USD 92,51 per barel," tulis Reuters, (24/9).
Kedua harga acuan tersebut sempat melemah pada perdagangan pagi di Asia, sebelum akhirnya berbalik menguat (rebound) karena investor kesulitan menentukan arah pasar di tengah ketidakpastian geopolitik.
Iran dan AS masih berselisih tentang cara mengakhiri konflik di antara kedua negara.
Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Rabu (23/9) bahwa upaya diplomasi harus tetap berjalan.
Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Iran menegaskan di Majelis Umum PBB bahwa Teheran tidak akan pernah tunduk pada tekanan AS.
Pejabat tersebut mengungkapkan Teheran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap proposal perdamaian mereka, yang memprioritaskan pencabutan blokade laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kendati demikian, Kepala Riset Pasar di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pasar fisik minyak masih jauh dari kondisi normal.
"Brent mempertahankan premi geopolitik dan jalur laut yang lebih tinggi karena minyak mentah internasional terpapar langsung oleh gangguan di Timur Tengah dan Selat Hormuz. Sementara itu, WTI lebih diuntungkan oleh pasokan AS yang relatif aman," jelas Sachdeva.
Sebelumnya pada Rabu (23/9), Kepala Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama syarat-syarat dari pihak Iran belum dipenuhi.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan kepada wartawan bahwa kesepakatan dengan Iran membutuhkan kerja keras dalam jangka waktu tertentu. Ia juga menambahkan bahwa Presiden Donald Trump tetap menyiapkan opsi militer.
AS Batasi Ekspor Diesel
Di sisi lain, para pelaku pasar turut mencermati potensi pembatasan ekspor diesel.
Harga berjangka diesel bersulfur sangat rendah (ultra-low-sulfur diesel) sempat turun sekitar 5 persen pada pertengahan perdagangan setelah media Politico melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang menyiapkan rencana larangan ekspor diesel selama 90 hari, meski laporan tersebut dibantah oleh Gedung Putih.
Menteri Energi AS, Chris Wright, sebelumnya menyatakan bahwa larangan ekspor diesel tidak akan efektif, meskipun Trump mengaku mendukung kebijakan tersebut.
Para analis dan pengamat pasar memperingatkan bahwa langkah tersebut tidak banyak membantu menurunkan harga energi yang tinggi, serta berisiko memperburuk pasokan global dan mengganggu perekonomian dunia.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), stok distilat AS termasuk diesel dan minyak pemanas turun 428.000 barel menjadi 107,4 juta barel pada pekan lalu.
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS naik 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel pada pekan lalu, berbanding terbalik dengan estimasi analis dalam survei Reuters yang memproyeksikan penurunan sebesar 641.000 barel.
