Kumparan Logo

Harga Minyak Melonjak Imbas Risiko Gangguan Selat Hormuz Kembali Menghantui

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz , seperti terlihat dari Musandam, Oman, 11 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer
zoom-in-whitePerbesar
Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz , seperti terlihat dari Musandam, Oman, 11 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Senin (31/8) setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Hal ini turut memicu kekhawatiran terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Dikutip dari Bloomberg, harga minyak Brent tercatat sebesar USD 91 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di atas USD 86 per barel, naik 2,8 persen. Kenaikan WTI tersebut menjadi yang terbesar dalam tiga pekan.

Ketegangan terbaru terjadi setelah pasukan AS menyerang sebuah pulau di kawasan Selat Hormuz, sementara Iran membalas dengan menyerang wilayah Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities menilai kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali khawatir karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari negara-negara Timur Tengah ke pasar dunia.

"Pelaku pasar mengurangi posisi mereka di minyak mentah karena masih ada ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik Iran," kata Bart Melek mengutip Bloomberg, Selasa (1/9).

Menurutnya, harga minyak masih berpeluang naik karena belum ada tanda-tanda aktivitas kapal di Selat Hormuz akan kembali normal dalam waktu dekat.

Sejumlah pejabat AS dan Iran juga memperkirakan konflik dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Hal tersebut dapat menyebabkan harga produk olahan melonjak lebih tajam dibandingkan minyak mentah karena pasokan semakin ketat, terutama untuk diesel.

Meski situasi memanas, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih terus berjalan. Sejumlah kapal tanker bahkan mematikan sistem pelacaknya untuk menghindari deteksi saat melintas.

Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk Persia, seperti UEA, Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, masih dapat mengirimkan sebagian minyaknya ke pasar global.

Namun, kapal yang melewati Selat Hormuz tetap menghadapi risiko serangan. Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan terdapat kapal tanker yang terkena tiga proyektil tak dikenal saat meninggalkan Selat Hormuz di dekat Oman.

Di sisi lain, perusahaan minyak milik UEA, Abu Dhabi National Oil Co. telah mengembalikan operasional kilang Ruwais ke kapasitas penuh setelah sebelumnya mengalami kerusakan akibat perang.

Kilang tersebut telah beroperasi penuh selama sekitar satu bulan. Kembalinya operasional kilang membantu meningkatkan pasokan produk olahan minyak, termasuk diesel dan bahan bakar pesawat.