Kumparan Logo

IHSG Diproyeksi Melanjutkan Penguatan Pekan Depan, Ini Faktor Pendorongnya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi masih berlanjut menuju zona hijau pada pekan depan. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6), IHSG ditutup naik 121 poin atau 2,07 persen ke level 6.007,656.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai tren penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut pada pekan depan setelah mencatat rebound kuat sepanjang pekan lalu.

Menurutnya, aksi demonstrasi yang terjadi pada akhir pekan tidak memberikan dampak signifikan terhadap pasar karena berlangsung relatif tertib dan tidak menimbulkan kekhawatiran yang berarti bagi investor.

“Jadi faktor pertama kenapa IHSG masih akan terus lanjut mengalami tren penguatan pada pekan depan, yaitu karena adanya momentum dari rebound yang terjadi pada pekan lalu,” kata Myrdal saat dihubungi kumparan, Sabtu (13/6).

Selain itu, perbaikan sentimen global turut menopang pergerakan pasar, terutama karena meningkatnya harapan terhadap meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah seiring adanya upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.

Myrdal menambahkan, membaiknya kondisi tersebut turut mendorong penguatan indeks saham global. Di sisi lain, tekanan inflasi impor juga mulai berkurang seiring penguatan nilai tukar rupiah dan penurunan harga minyak dunia.

“Jadi ini kan sebenarnya bagus juga buat negara yang statusnya net oil importer seperti Indonesia, terutama implikasinya adalah posisi fiskal yang diharapkan membaik kalau rupiahnya menguat dan dari sisi harga minyaknya juga menurun,” sebut Myrdal.

Faktor lain yang dinilai menarik bagi investor adalah masih banyaknya emiten yang akan membagikan dividen dalam waktu dekat. Meski demikian, Myrdal mengingatkan kelanjutan penguatan IHSG tetap bergantung pada keputusan kebijakan moneter global, terutama dari Federal Reserve AS dan Bank Indonesia.

“Kalau saya lihat sih IHSG bisa itu ke (level) 6.336 ya (pekan depan,” sebut Myrdal.

Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesiac Nafan Aji Gusta, menilai penguatan IHSG belakangan ini merupakan respons psikologis yang positif dan wajar setelah adanya pertemuan antara DPR, Himbara, Danantara, dan sejumlah lembaga keuangan.

“Pasar merespons cepat komitmen para pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar modal,” kata Nafan.

Meski demikian, Nafan mengingatkan volume transaksi saat ini belum sepenuhnya ditopang oleh arus masuk dana asing. Karena itu, rebound yang terjadi masih bersifat teknikal dan cenderung sementara.

Ia menilai penguatan pasar saat ini lebih banyak didorong oleh aksi bargain hunting berburu barang murah oleh investor domestik dan institusi lokal yang memanfaatkan kondisi saham yang sudah turun terlalu tajam.

“Untuk menjadi reversal yang berkelanjutan, maka kita harus nanti konfirmasi masuknya dana asing pada saham saham besar,” lanjut Nafan.

Ia pun menilai program buyback saham yang dilakukan sejumlah emiten, khususnya sektor perbankan, dapat memberikan dukungan terhadap harga saham dan membatasi risiko penurunan lebih dalam.

Untuk mencapai penguatan yang lebih berkelanjutan, pasar masih membutuhkan dukungan dari perbaikan kondisi makroekonomi global, meredanya ketegangan geopolitik, serta keberlanjutan reformasi pasar modal yang dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Self Regulatory Organization.

“Karena Indonesia ini merupakan negara dengan market. Maksudnya itu kategori masing-masing market yang selalu diperhitungkan,” kata Nafan.

instagram embed