IHSG Menghijau 8 Hari Beruntun, Analis Beberkan Sederet Sentimen Positif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren penguatan yang konsisten sejak pekan lalu. Setelah menembus level psikologis 6.000 pada Senin (13/7), indeks terus ditutup di zona hijau hingga Senin (20/7) dan kembali dibuka menguat pada perdagangan Selasa (21/7).
Berdasarkan data historis perdagangan, IHSG ditutup melonjak 1,92 persen ke level 6.037,84 pada Senin (13/7). Penguatan berlanjut pada Selasa (14/7) dengan kenaikan tipis 0,03 persen ke level 6.039,52, kemudian naik lagi menjadi 6.041,97 pada Rabu (15/7).
Pada Kamis (16/7), IHSG menguat 1,09 persen ke level 6.108,21, disusul kenaikan 1,10 persen ke level 6.175,54 pada Jumat (17/7).
Tren positif berlanjut pada Senin (20/7) ketika IHSG ditutup naik 0,91 persen ke level 6.231,78. Memasuki perdagangan Selasa (21/7), IHSG kembali dibuka menguat 0,56 persen ke level 6.266,91.
Penjelasan Analis
Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai penguatan IHSG mulai terlihat signifikan sejak perdagangan Senin (13/7) ketika indeks berhasil kembali menembus level 6.000 dan mampu bertahan di atas level tersebut sepanjang pekan.
“IHSG mulai menunjukkan tren penguatan yang cukup signifikan sejak Senin, 13 Juli 2026, ketika indeks ditutup melonjak 1,92 persen menembus level 6.000 dan pergerakannya terpantau stabil di area tersebut sepanjang pekan,” ujar Gunarto kepada kumparan, Selasa (21/7).
Menurut Gunarto, tren positif berjalan beriringan dengan pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai daftar 51 saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) pada 14 Juli 2026.
“Tren hijau ini beriringan dengan sentimen positif dari pengumuman 51 daftar saham High Shareholding Concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 Juli 2026,” kata dia.
Dia menilai kebijakan HSC yang kini dilengkapi indikator Price Impact Ratio (PIR) merupakan reformasi struktural yang memberikan dampak positif bagi pasar dalam jangka menengah.
Menurutnya, kebijakan PIR HSC mampu memberikan kepastian bagi investor dalam mengidentifikasi saham-saham berkapitalisasi besar dengan free float yang relatif terbatas, sekaligus meningkatkan transparansi pasar.
“Kebijakan ini tidak hanya memberikan kejelasan bagi investor terkait saham-saham berkapitalisasi besar di atas Rp10 triliun dengan free float riil yang tipis, tetapi juga menjadi wujud transparansi yang langsung menjawab kritik lembaga global seperti MSCI mengenai tata kelola informasi di pasar modal domestik,” jelas Gunarto.
Selain indikator baru HSC, Gunarto menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stable turut menjadi faktor yang meningkatkan minat investor global terhadap pasar saham Indonesia.
Gunarto melanjutkan, kondisi ini tercermin dari masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia selama periode 13-20 Juli 2026.
“Ini juga menegaskan solidnya disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi Indonesia di tengah tekanan eksternal. Selama periode 13-20 Juli 2026, kami melihat investor asing mencatat posisi net beli sebanyak USD 30,4 juta di pasar saham Indonesia,” kata Gunarto.
Namun demikian, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai penguatan IHSG tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan implementasi HSC meski waktunya berdekatan.
“Namun, saya melihat penguatan tersebut tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan penerapan indikator HSC yang mulai berlaku pekan lalu. Korelasi waktu memang ada, tetapi bukan berarti terdapat hubungan sebab-akibat,” ungkap Nafan.
Menurut Nafan, tren penguatan IHSG sebenarnya telah terbentuk sebelum kebijakan HSC diumumkan.
“Jika kita cermati grafik pergerakan indeks, tren penguatan IHSG sebenarnya sudah mulai membangun landasan pembentukan pola bullish reversal sejak pekan pertama dan kedua Juli 2026, berada di kisaran level 5.920–5.930-an,” ucap Nafan.
Nafan menyebut kebijakan indikator baru HSC lebih berperan dalam meningkatkan kualitas dan transparansi pasar dibanding menjadi pemicu langsung kenaikan indeks.
Arah pergerakan IHSG, kata Nafan, tetap lebih dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti arus dana asing, kinerja emiten, kondisi makroekonomi, serta sentimen global.
“Oleh karena itu, apabila IHSG terus berada di zona hijau, saya menilai faktor-faktor tersebut memiliki kontribusi yang lebih besar dibanding implementasi HSC semata,” tutur Nafan.
