Kepala Bappenas Sebut Harga Beras-Kedelai Mahal Tak Hanya di Indonesia

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyampaikan harga beras dan kedelai yang mahal merupakan fenomena global, bukan hanya dialami Indonesia.
Ia mengungkit isu harga pangan yang melonjak di Indonesia dan menjadi perdebatan. Menurutnya, isu ini juga dialami oleh negara lain, misalnya Vietnam.
“Kalau ke pasar Vietnam harga berasnya, ya, mahal juga,” ujar Rachmat dalam acara Simposium Pangan Nasional dan Seremoni Penandatanganan Kerjasama Indofood Riset Nugraha (IRN) 2026-2027 oleh Indofood di Indofood Tower, Jakarta, Kamis (8/10).
Rachmat menambahkan fenomena kenaikan harga pangan juga terjadi di Brazil. Ia mencontohkan harga tepung dan kedelai di Brazil yang tidak murah.
“Saya pikir di sana tepung murah? Tidak juga. Kedelai murah? Tidak juga. Yang murah cuma gula. Gula murah ketika bioetanol juga murah. Ketika gula dunia juga murah. Kalau gula dunia mahal, bioetanol mahal, Brazil mahal juga. Nah, itulah yang dikatakan The End of Cheap Food,” sambungnya.
The End of Cheap Food merupakan tajuk majalah The Economist tahun 2007 yang dikutip olehnya. Rachmat mengamini pandangan dari The Economist bahwa harga pangan yang murah hanya angan-angan.
“Di situ dituliskan bahwa sudah waktunya pangan murah berakhir. Dan ternyata apa yang ditulis The Economist itu benar. Harga pangan murah itu ternyata hanya di angan-angan saja,” katanya.
Tinggi Buat Sweet Potato Centre
Lebih lanjut, Rachmat juga mengusulkan agar harga pangan global yang mahal ini bisa diselesaikan melalui pengembangan badan pusat penelitian.
“Saya meminta ada satu perguruan tinggi membuat Sweet Potato Center. Biaya tidak seberapa. Tetapi ternyata dengan biaya tidak seberapa saya minta para alumninya menyumbang, kita saweran, jadilah Nasional Sweet Potato Center,” usulnya.
Usulan ini disebut Rachmat terinspirasi dari International Potato Centre di Peru.
“International Potato Center di Peru yang pada tahun 70-an berupaya mengembangkan produksi kentang, tetapi karena kentang itu dikembangkan di daerah temperate, maka teknologi ini banyak dimanfaatkan oleh negara-negara di dunia utara dan selatan bukan di daerah tropik,” paparnya.
Rachmat menambahkan model serupa dapat diterapkan untuk komoditas pangan lainnya di Indonesia. Ia menilai pengembangan pusat penelitian tidak harus dimulai dengan skala besar.
Ia menyebut sejumlah pusat pengembangan komoditas yang tengah didorong, misalnya Seagrass atau Seaweed Center.
Menurutnya, pusat-pusat tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kembali industri pangan melalui pengembangan teknologi dan penelitian.
“Tidak usah kita membayangkan yang besar-besar. Toh, kita juga dulu membuat Pusat Pengembangan Kelapa, sudah uangnya banyak, waktunya habis banyak, hilang. Jadi mulailah yang dari kecil,” ujarnya.
Rachmat berharap simposium ini dapat membantu menciptakan ekosistem yang menghubungkan penelitian, industri, dan petani.
Ia menilai perlu dicari formula yang dapat membuat pangan tetap terjangkau bagi masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi produsen.
“Kita protes pangan mahal, tetapi kita tidak bisa menciptakan pangan yang terjangkau. Saya berharap simposium ini bisa menyelesaikan persoalan-persoalan dasar,” jelasnya.
