Kumparan Logo

Klub-klub Bola Brasil Terancam Kehilangan Rp 3,4 T Akibat Larangan Sponsor Judol

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penggemar tim sepak bola Flamengo Brasil bersorak ketika Gabriel Barbosa mencetak gol di Stadion Maracana di Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (13/11/2019). Foto: Silvia Izquierdo, The Associated Press, World Press Photo via AP
zoom-in-whitePerbesar
Penggemar tim sepak bola Flamengo Brasil bersorak ketika Gabriel Barbosa mencetak gol di Stadion Maracana di Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (13/11/2019). Foto: Silvia Izquierdo, The Associated Press, World Press Photo via AP

Klub-klub sepak bola profesional di Brasil menjerit usai pemerintah setempat mendadak melarang operasional judi online menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres).

Mengutip Bloomberg, kebijakan ini berpotensi menghanguskan potensi pendapatan sponsor bernilai jutaan dolar AS.

Presiden, Luiz Inácio Lula da Silva, mengumumkan larangan tersebut secara mengejutkan menjelang pemungutan suara putaran pertama pada 4 Oktober.

Lula mengeklaim langkah ini diambil demi menekan angka utang rumah tangga yang meroket. Namun, keputusan tersebut memukul telak klub-klub kasta teratas.

Merujuk laporan ekonom Cesar Grafietti bersama konsultan manajemen olahraga Outfield, klub-klub Brasil terancam kehilangan pendapatan dari situs judi yang tahun lalu sempat melesat 67 persen hingga menembus USD 191 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun (kurs Rp 17.882 per USD).

Sifat larangan yang dinilai terlalu mendadak ini menganulir aturan legalisasi judi online yang telah disahkan Kongres sejak 2018.

Alhasil, industri sepak bola Brasil kini terombang-ambing dalam ketidakpastian. Upaya klub-klub untuk menjalin kerja sama finansial dengan industri keuangan guna memperbaiki kondisi keuangan mereka pun terancam berantakan.

"Industri ini mendadak berada di lingkungan yang tidak aman karena pendapatannya dipangkas cuma dalam sekejap," kata Grafietti.

"Cara pemerintah mengambil keputusan membuat para investor berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di klub sepak bola Brasil," tambahnya.

Manuver Politik

Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10/2025). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Langkah tegas Lula ini dinilai sebagai manuver politik di menit-menit akhir untuk mendongkrak popularitasnya dari rival utama, Senator Flávio Bolsonaro. Sejumlah survei memang menunjukkan mayoritas warga Brasil mendukung larangan judi online karena dituding bikin kondisi keuangan keluarga makin tercekik.

Meski begitu, klub-klub di negara yang sangat gila bola itu khawatir operasional mereka bakal lumpuh total. Padahal, logo situs judi saat ini memenuhi hampir seluruh sudut stadion hingga jersei tim.

Bulan ini, perwakilan dari puluhan klub dan organisasi sepak bola sampai mengirimkan surat terbuka untuk menolak larangan tersebut.

Mereka menegaskan dana sponsor dari rumah taruhan sangat krusial untuk membiayai operasional, fasilitas latihan, gaji pegawai, hingga sektor-sektor tim yang belum bisa menghasilkan uang secara mandiri.

Laporan Grafietti mencatat, sekitar 34 persen dari total pendapatan komersial klub-klub Brasil berasal dari sponsor judi online. Angka ini memperlihatkan betapa bergantungnya mereka pada industri tersebut.

"Klub-klub bilang kalau saya melarang judi online, sama saja mematikan sepak bola," kata Lula dalam acara kampanyenya.

"Tapi sepak bola tidak boleh hidup dari memeras orang miskin," tegas Lula.

Jeratan Utang Klub

Warga Brasil saat menyaksikan pertandingan Piala Dunia antara Brasil vs Serbia di perkampungan Heliopolis, di Sao Paulo, Brasil pada Kamis (24/11/2022). Foto: Carla Carniel/Reuters

Upaya klub-klub Brasil untuk menggaet investor industri keuangan sebenarnya mulai cerah sejak 2021, ketika undang-undang baru mengizinkan klub berbadan hukum menjadi perseroan terbatas (PT). Sejak saat itu, bank-bank investasi besar mulai masuk untuk merancang skema pendanaan baru.

Namun, kendati total pendapatan klub sempat naik 32 persen menjadi 14,3 miliar reais tahun lalu, total utang mereka justru membengkak 15 persen menjadi 17,3 miliar reais pada periode yang sama. Hilangnya sponsor judi online otomatis memaksa klub-klub memutar otak untuk merestrukturisasi utang mereka.

"Ledakan tren judi online di sepak bola kini berbalik jadi masalah besar. Cuma klub dengan tata kelola keuangan yang sehat yang bisa selamat," cetus Grafietti.