Local Hero Pertamina di Bali Manfaatkan PLTS, Ubah Sampah Jadi Pupuk Organik

Sebelum adanya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) aktivitas di TPS 3R Desa Keliki masih bergantung pada listrik konvensional. Mesin-mesin pengolahan sampah yang digunakan membuat tagihan listrik cukup mahal.
Kini, kondisi itu berubah setelah PLTS hadir lewat program Desa Energi Berdikari (DEB) Keliki dari Pertamina dan digunakan untuk mendukung kegiatan pengolahan sampah.
Bagi Gede Adnyana (32) yang merupakan Local Hero Pertamina dari DEB Keliki, hadirnya PLTS menjadi perubahan besar utamanya dalam mengubah sampah organik menjadi kompos.
“Jadi tagihan listrik lumayan banyak (saat masih konvensional) Jadi kita bisa bayar 1 juta per bulan, bisa lebih. Tapi dengan adanya PLTS, kebetulan kan listriknya pulsa nih. Kita isi token Rp 200 ribu, 3 bulan pun belum habis. Jadi lebih menekan cost energi, dan juga menghemat biaya listrik sebesar Rp21jt/tahun” kata Gede ketika berbincang dengan kumparan di Grha Pertamina, Jakarta pada Jumat (28/8).
Selain PLTS, Gede menyebut kelompoknya mendapatkan alat pencacah, mesin pres untuk sampah nonorganik, serta sumur bor dari Pertamina. Di samping bantuan peralatan, Pertamina juga memberikan pendampingan secara berkelanjutan.
Bagi Gede, pengelolaan sampah di Desa Keliki memang dimulai dari sumbernya. Maka dari itu sampah yang diangkut dari rumah warga harus sudah dipisahkan terlebih dahulu. Maka dari itu, edukasi kepada masyarakat sebagai penghasil limbah rumah tangga juga terus dilakukan.
Adapun sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dikumpulkan dan dipilah untuk kemudian dibawa ke bank sampah.
Untuk sampah organik, setelah dicacah dilakukanlah proses fermentasi dan pencampuran dengan mikroorganisme lokal. Setiap dua minggu sekali, kompos tersebut disemprot dan dibalik secara manual.
Di dalam proses itu, terdapat pula blower yang digunakan untuk mengatur kelembaban kompos dan membutuhkan tenaga listrik dari PLTS.
Proses tersebut berlangsung hingga sekitar tiga bulan. Selama periode itu, kompos secara berkala disemprot dan dibalik hingga matang. Setelah matang, kompos kemudian diayak dan bagian yang sudah siap dipanen diambil untuk dimanfaatkan.
Nantinya, kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan baik untuk dijual ke pelaku usaha utamanya para pemilik kebun maupun dibagikan secara gratis kepada petani sekitar. Gede bercerita hal itu bisa dilakukan dengan dukungan Pertamina melalui program Padi Organik.
Dengan adanya program DEB, Gede juga mengungkap beberapa manfaatnya bagi Desa Keliki secara keseluruhan. Selain dari dampak langsung proses pengolahan sampah organik menjadi kompos, menurutnya program tersebut juga berdampak pada pariwisata daerahnya.
Ia melihat selama ini Desa Keliki belum terkena dampak positif dari sektor pariwisata. Padahal, lokasinya berada di dekat Ubud. Maka dari itu, diadakannya program DEB yang turut disertai dengan kegiatan-kegiatan Pertamina di sekitar Desa Keliki telah meningkatkan kunjungan pariwisata.
“Meskipun kita bertetanggaan dengan ubud kita belum kena imbasnya. Bule datang cuman singgah ubud. Habis itu Keliki enggak dilihat. Karena adanya DEB jadi kunjungan makin banyak. Karena Pertamina kan mengadakan kegiatan di lingkup Desa Keliki,” kata Gede.
Sementara itu VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan bahwa DEB memang dirancang untuk mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan sebagai motor pengerak roda perekonomian.
“DEB bukan hanya tentang menghadirkan energi bersih, tetapi tentang bagaimana energi tersebut mampu menggerakkan ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan membangun kemandirian masyarakat,” kata Baron.
