Kumparan Logo

MSCI Pertimbangkan Turunkan Kelas Pasar Modal RI, Ini Penyebabnya

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Penyedia indeks global MSCI Inc. mempertimbangkan untuk mengeluarkan Indonesia dari klasifikasi pasar berkembang (emerging market) dan menetapkannya sebagai standalone market.

Mengutip Bloomberg pada Jumat, (16/10), MSCI menilai sejumlah persoalan mendasar di pasar saham Indonesia masih belum terselesaikan.

Kekhawatiran investor mencakup dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi serta belum adanya bukti penegakan aturan yang dinilai memadai.

MSCI menegaskan reformasi yang telah diumumkan pemerintah Indonesia belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran investor. Lembaga tersebut membutuhkan bukti nyata perbaikan yang dilakukan mampu meningkatkan transparansi dan kualitas perdagangan di pasar modal.

Usulan perubahan klasifikasi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang telah melemah sekitar 32 persen sepanjang 2026.

Jika Indonesia benar-benar ditetapkan sebagai standalone market, dana pasif yang mengikuti indeks pasar berkembang MSCI berpotensi melepas kepemilikan saham Indonesia.

Manajer investasi aktif yang menggunakan indeks MSCI sebagai tolok ukur juga dapat mengurangi eksposur terhadap pasar domestik.

Kondisi tersebut berisiko memperbesar arus keluar modal asing, menekan harga saham, serta mengurangi likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data Bloomberg, investor asing telah membukukan penjualan bersih (net sell) saham Indonesia sebesar USD 4,9 miliar sepanjang 2026. Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS.

Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memperkirakan tekanan jual asing dan volatilitas pasar masih akan berlanjut selama belum ada kejelasan mengenai status Indonesia dalam klasifikasi MSCI.

Ia menambahkan, IHSG berpotensi mengalami koreksi lebih dalam apabila ketidakpastian status tersebut terus berlarut.