Kumparan Logo

Pertamina EP Rantau Bor 5 Sumur Baru di Aceh Tamiang

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertamina EP Rantau Field Memulai Pengeboran Lima Sumur di Aceh Tamiyang. Foto: Dok. Pertamina EP Rantau Field
zoom-in-whitePerbesar
Pertamina EP Rantau Field Memulai Pengeboran Lima Sumur di Aceh Tamiyang. Foto: Dok. Pertamina EP Rantau Field

Pertamina EP Rantau Field memulai pengeboran lima sumur baru di Aceh Tamiang di tengah pemulihan operasional pascabanjir akhir November 2025.

Produksi minyak lapangan ini kini stabil di angka 1.700 barel per hari setelah pemulihan yang berlangsung sekitar empat bulan.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan pemulihan dilakukan bertahap hingga produksi kembali ke performa awal.

Pada Mei dan Agustus 2026, produksi bahkan menyentuh 2.000 barel per hari, lebih tinggi dari kondisi sebelum banjir.

"Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional," ujar Tomi melalui keterangan tertulis, Sabtu (10/10).

Kelima sumur berada di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 berlokasi di Desa Tanjung Seumantoh, sedangkan RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 berada di Desa Paya Meta.

Sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 dibor menggunakan rig APS-752 berkapasitas 550 HP, dengan kedalaman akhir masing-masing 1.145 meter measured depth (MMD) dan 1.037 meter MMD. Sumur RNT DZ-11 dibor menggunakan rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 meter MMD. Adapun pengeboran RNT DZ-23A dan RNT DZ-33 masih berlangsung.

Pemulihan Empat Tahap

Pertamina EP Rantau Field Memulai Pengeboran Lima Sumur di Aceh Tamiyang. Foto: Dok. Pertamina EP Rantau Field

Sebelum memulai pengeboran, Pertamina EP Rantau Field menjalankan pemulihan dalam empat tahap: emergency, reactivation, recovery, dan sustainability. Tahapan ini mencakup penanganan keselamatan, perbaikan fasilitas, hingga penguatan sistem operasional jangka panjang.

Pada tahap awal, penanganan difokuskan pada kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan, dan listrik. Setelah kondisi membaik, tim mengaktifkan kembali fasilitas serta sumur-sumur produksi.

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 berdampak pada fasilitas produksi, perkantoran, dan permukiman pekerja. Ketinggian air mencapai sekitar 4–4,5 meter, dengan endapan lumpur setebal 30–80 sentimeter.

Tomi mengatakan, sejumlah pihak menilai pemulihan selama empat bulan tergolong cepat, padahal mereka memperkirakan butuh satu hingga tiga tahun. Percepatan ini turut didukung personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina, termasuk Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, dan Ramba.

Upaya Mengaktifkan Kembali Pasokan Listrik

Pertamina EP Rantau Field Memulai Pengeboran Lima Sumur di Aceh Tamiyang. Foto: Dok. Pertamina EP Rantau Field

Salah satu kendala utama adalah terhentinya pasokan listrik. Air bersih ikut hilang karena instalasi pengolahan air (water treatment plant/WTP) terendam dan pompa tidak dapat bekerja. Produksi minyak pun sempat terhenti total.

Pembangkit listrik di Rantau menggunakan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Namun, banjir merusak berat High Pressure Compressor Station (HPCS), stasiun kompresor yang sebelumnya menjadi sumber tunggal pasokan gas untuk pembangkit.

"Akibat banjir HPCS yang kami miliki mengalami kerusakan berat. Maka kami melakukan berbagai inovasi untuk bisa kembali menghidupkan listrik," kata Tomi.

Setelah analisis, tim memutuskan tidak mengaktifkan kembali HPCS. Mereka menemukan bahwa SP-5, dengan sedikit modifikasi, mampu mengambil alih fungsi tersebut. Saat ini pasokan gas pembangkit berasal dari SP-5 dan SP-1.

Setelah listrik pulih, fasilitas operasional kembali berjalan dan produksi minyak berangsur naik dari nol barel per hari.