Kumparan Logo

PT Timah Jajaki Impor Bijih Timah dari Myanmar-Amerika Latin

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, saat berbincang dengan media di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, saat berbincang dengan media di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

PT Timah (Persero) Tbk (TINS) menjajaki kerja sama pengadaan bijih timah dari luar negeri, seperti Myanmar dan wilayah Amerika Latin, untuk menjaga sumber daya dan cadangan timah yang mulai menipis di dalam negeri.

Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, mengatakan perusahaan terus melakukan eksplorasi yang lebih masif, khususnya terhadap pertambangan aluvial dalam maupun primer yang berada di daratan.

"Untuk luar negeri kita memang lagi penjajakan [impor], salah satunya itu dari Myanmar karena Myanmar dia ekspor terbesar bijih tapi dia belum ada smelter. Kita lagi penjajakan dengan Myanmar melalui government, melalui kedutaan besar kita," ungkapnya saat berbincang bersama media, dikutip Jumat (12/6).

Selain itu, Harry menyebutkan perusahaan juga mendapat tawaran pasokan bijih dari Amerika Latin. Namun, untuk bisa mengimpor, perlu ada penyesuaian aturan di ranah Kementerian Perdagangan terkait larangan impor bijih timah.

Jika tidak memungkinkan, PT Timah mungkin akan bekerja sama dengan smelter.

"Beberapa yang menawarkan kemarin dari Amerika Latin. Ini memang bukan hari ini bisa langsung ya, karena beberapa aturan itu masih harus disesuaikan, artinya kalau emang kita nanti boleh mengimpor bijih harus ada revisi terhadap aturan yang ada di perdagangan," jelas Harry.

Ilustrasi PT Timah. Foto: Dok. PT Timah Tbk

Harry menjelaskan bahwa PT Timah sempat memiliki konsesi pertambangan di luar negeri, seperti Myanmar dan Nigeria.

Namun, operasional seringkali menemui tantangan dan risiko, sehingga kerja sama pengadaan alias impor dengan penambang lokal dinilai lebih aman.

"Kita dulu pernah punya pengalaman ingin menambang di Myanmar, di Nigeria. Di sana secara hukum dan lain-lain itu terlalu banyak risikonya.

Mending lebih baik kita menggandeng gitu ya, penambang lokal sana. Kemudian kita bawa atau kita di-smelternya," tuturnya.

Demi keberlangsungan bisnis, penjajakan impor bijih timah ini diperlukan. Harry menilai, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan cadangan timah di Indonesia yang bisa habis dalam waktu dekat.

Kenaikan Produksi

Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Timah, Harry Budi Sidarta, saat berbincang dengan media di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Di sisi lain, PT Timah berencana menaikkan produksi bijih timah dapat menembus rekor tertinggi pada tahun ini. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) 2026, target produksi perusahaan sebesar 30.000 ton, di tengah sederet tantangan yang tidak bisa dikendalikan.

"Proyeksi kita diminta sampai 80.000 [ton]. Nanti tergantung cadangan dan sumber daya kita, tapi karena pemegang saham melihatnya Indonesia ini pernah memproduksi 80.000 [ton], kita diminta untuk kembali ke rekor kita," ungkap Harry.

Rencana kenaikan produksi ini di saat momentum harga komoditas yang sedang baik dan potensi kenaikan permintaan yang besar, terutama kebutuhan kendaraan listrik, panel surya, dan data center. Harga bijih timah saat ini berada di kisaran USD 50.000 per ton.

Kendati begitu, Harry menjelaskan bahwa momentum itu disertai tantangan dari para produsen terbesar bijih timah global, misalnya larangan ekspor timah dari China hingga kenaikan pajak pertambangan di Myanmar, termasuk Indonesia yang juga membatasi ekspor timah.

"Sekarang kita menikmati harganya yang tinggi, kemungkinan akan relatif lebih tinggi ya. Sekarang tugasnya kalau dilihat dari prospek di PT Timah adalah bagaimana kita menjaga kontinuitas untuk supply bijih kita," tegas Harry.

Pasalnya, PT Timah kebagian titipan 6 smelter hasil sitaan Kejaksaan Agung dari kasus korupsi tata niaga timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan, yang hingga saat ini belum dapat dioperasikan.

Harry menyebutkan alasannya lantaran status kepemilikan yang belum jelas karena masih dikuasai negara. Sambil menunggu proses peralihan aset dari pemerintah, perusahaan tengah membahas belanja modal (capex) serta kebutuhan pasokan bijih timah.

"Setiap smelter itu rata-rata mungkin sekitar 5.000 sampai 10.000 ton kapasitasnya per tahun untuk pengolahan. Jadi kalau ada 6 (smelter) kurang lebih 50.000 sampai 60.000 ton per tahun," katanya.

Sejauh ini, PT Timah masih mencari sumber bijih tambahan untuk smelter sitaan tersebut. Sebab, perusahaan sendiri juga sudah memiliki fasilitas pengolahan dengan kapasitas 40.000 ton.

"Jumlah bijih ini memang terkendala. Kita untuk kita akan menambang itu, ada (tantangan) uncontrollable dari PT Timah yang membuat kita belum bisa menambang 100 persen dari wilayah IUP kita. Kadang ada yang beririsan dengan wilayah hutan, wilayah perikanan," jelas Harry.

Merambah Teknologi Baru

PT Timah juga membidik perkembangan teknologi pengolahan timah yang lebih menguntungkan dan tidak mengandalkan cadangan dan sumber daya yang menipis, salah satunya teknologi daur ulang (recycle) timah yang sudah marak dilakukan di Eropa. Harry mengeklaim sudah banyak negara-negara maju yang menanyakan produk daur ulang timah dari Indonesia.

"Mereka tanya, Indonesia ini konsumen elektronik terbesar, kenapa belum punya industri timah recycle? Kalau ada marginnya itu mungkin sekitar 20-30 persen. Jadi untuk orang Jepang bisa menghargai itu lebih mahal karena dia lebih dapat poin dari ramah lingkungan ya. Tapi kita belum menyediakan, kemarin kita sudah diskusi dengan BOD, kayaknya menarik," ungkap Harry.

Sementara itu, PT Timah juga sudah meneken kerangka kerja sama dengan PT Pertambangan Mineral Nasional (Perminas) dalam pengolahan slag timah dan rare earth elements atau logam tanah jarang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Harry menuturkan, mandat hilirisasi timah dipegang oleh Perminas. Sementara itu, peran PT Timah masih krusial dari sisi hulu, yakni pertambangan hingga pemurnian bijih timah serta mineral ikutannya untuk dipasok ke Perminas.

"Perminas punya mandat untuk hilirisasi, tapi kan namanya IUP, kemudian mineralnya ada di PT Timah. Kerangkanya nanti adalah Perminas akan mencari partner teknologinya, semua mineral tambang kita yang tanah jarang akan dimurnikan di Perminas," ujarnya.

Ke depannya, lanjut dia, Perminas bersama mitra teknologinya akan membangun fasilitas hilirisasi lanjutan hingga level 4, misalnya menghasilkan produk semikonduktor atau suku cadangan pesawat. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dibangun di wilayah IUP PT Timah, khususnya di Bangka.

"Kita sekarang fokus di penambangannya, penyedia tanah jarang, dan silahkan nanti dari tim Perminas dan penyedia teknologi membangun fasilitas pemurniannya juga di sebelah fasilitas kita di Bangka. Istilahnya kita pembayaran pemurniannya sesuai dengan volume, jadi kita tidak keluar capex," tandas Harry.

instagram embed