Kumparan Logo

Sarjito Ingin Tiru China untuk Bangun Ekosistem Bursa Mineral RI

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sarjito, saat fit and proper test di Komisi XI DPR RI, Kompleks Senayan, Senin (24/8/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sarjito, saat fit and proper test di Komisi XI DPR RI, Kompleks Senayan, Senin (24/8/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis atau BMKS Otoritas Jasa Keuangan, Sarjito, menilai Indonesia perlu membangun ekosistem bursa mineral dan komoditas strategis secara terintegrasi dengan belajar dari pengalaman China.

Menurut Sarjito, China membutuhkan waktu dua dekade untuk membangun ekosistem perdagangan mineral hingga mampu mengembangkan Shanghai Futures Exchange.

"Kalau kita belajar dari China sebelum membuat Shanghai Futures Exchange melakukan upaya yang sangat sistematis selama 2 dekade," kata Sarjito saat uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI, Kompleks Senayan, Senin (24/8).

Sarjito menjelaskan bahwa China sudah lebih dulu membangun kekuatan dengan mengumpulkan pasokan mineral dari berbagai negara. Mineral tersebut, kata dia, kemudian diarahkan untuk mendukung kebutuhan industri nasional.

"China mengumpulkan semua, mengimpor mineral-mineral dari negara lain kemudian mendorong industri nasional untuk memakainya, dan juga spying di banyak yurisdiksi dengan memakai smelter-smelter sehingga tahu semua negara lain kekuatannya termasuk tentu di Indonesia," ujar dia.

Menurut Sarjito, pengalaman China tersebut menunjukkan bahwa pembangunan bursa mineral tidak dapat hanya berfokus pada pembentukan lembaga perdagangan semata.

Oleh karena itu, pengembangan BMKS di tanah air nantinya membutuhkan konektivitas antarotoritas dan kementerian. OJK, menurutnya, tidak bisa menjalankan fungsi pengawasan dan pengembangan bursa mineral secara mandiri.

"Tentu harus berharmonisasi dengan Kementerian ESDM dan kemudian kementerian lain untuk memastikan bahwa ekosistem yang ada itu berjalan dengan baik," tutur Sarjito.