Konten dari Pengguna

Tak Perlu Rayakan Piala Lokal, Juventus!

Abdul Latif

Abdul Latif

Jurnalis Liputan Khusus Kumparan

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Latif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Juventus juara Coppa Italia. (Foto: REUTERS/Alberto Lingria)
zoom-in-whitePerbesar
Juventus juara Coppa Italia. (Foto: REUTERS/Alberto Lingria)

Sebagai tim yang memang sudah terbiasa menjuarai piala domestik, bagi saya tak ada rasa spesial saat tim tersebut meraih kejuaraan di level yang sama.

Seperti Juventus dini hari tadi, dengan trofi Coppa Italia yang ke 13, meski menurut kumparan pada babak pertama Juventus kesulitan menembus pertahanan Milan. Namun bagi saya, hal tahunan ini sudah tidak memberikan rasa bahagia yang berlebihan.

“Kami mendapatkan trofi. Para pemain memiliki permainan yang luar biasa dan layak menerima kemenangan ini, serta tidak mengambil apapun dari Milan yang punya permainan bagus di babak pertama,” ujar Allegri kepada Rai Sport setelah pertandingan final Copa Italia 2018.

Bukanya meremehkan, tapi melihat Juventus menjuarai piala domestik itu hanya sebatas makan makanan seadanya. Hanya kenyang itu saja, tak ada rasa kelezatan baru, bahkan bisa dibilang jenuh!

Sebagai fans Juventus, saya hanya bisa melihat update pertandingan semalam melalui smartphone pada paginya. Bagaimana tidak, meski menghadapi AC Milan, tetapi tak ada yang spesial.

Pasalnya, sebelum pertandingan, 100% saya yakin bahwa Nyonya Tua pasti juara lagi. Jika kita melihat performa Rossoneri sepanjang musim ini juga jauh di bawah ekpektasi saya. Saat ini mereka berada di posisi 6 dengan 60 poin serta mengalami kekalahan 10 kali, imbang 9 kali dan 17 kali kemenangan dari total 36 pertandingan.

Anggapan saya, minimal setelah memborong beberapa pemain bintang ditambah investasi dari Tiongkok Milan  mampu mempertontonkan kekuatan sebagai tim papan atas, meski menjuarai Serie A masih sebatas mimpi.

Namun, ketika kita melihat di level eropa, bisa dibilang Juventus terlihat sebagai tim yang minim pengalaman, padahal Biancconeri telah 9 kali sebagai finalis Liga Champions dengan mempersembahkan hanya 2 trofi. Masih kalah dibandingkan dengan Rossoneri yang berlaga menjadi finalis Champions sebanyak 11 kali, dengan 7 trofi.

Saya harus mengakui bahwa Milan lebih memiliki DNA eropa ketimbang Juventus. Tetapi secara head to head Juventus jauh lebih unggul dibanding tim yang pernah memiliki sejarah indah ini.

Dari 35 kali pertandingan, Juventus unggul 20 kali, kalah sebanyak 9 kali, dan sisanya imbang 6 kali. Sementara Milan hanya merayakan kemenangan 9 kali, menderita kekalahan sebanyak 20 kali, dan sisanya imbang sebanyak 6 kali.

Ini mengapa harusnya Juventus harus mau mematok target Champions setiap tahunya.

Mereka harus terbiasa berlaga di level satu kelas di atas domestik, harus terbiasa bertemu dengan tim-tim bermental Champions. Sudah bukan saatnya bagi Juventus merayakan piala domestik secara berlebihan. Mereka memang sudah terkuat dan terbaik di Italia.

Jika Juventus setiap tahunnya hanya seperti itu-itu saja dan merayakan piala-piala domestik secara berlebihan, mungkin sampai kapanpun piala eropa akan menjadi mimpi Gigi.

Pasalnya setiap tahun Liga Champions bukan semakin mudah. Setiap tim terus menerus melaukan gelontoran triliunan untuk mendatangkan pemain-pemain nomor wahid untuk mematok juara liga champions.

I think, it’s difficult to win the Champions League, because now it is more and more competitive compare to the past,” kata Carlo Ancelotti, di Goal.com, Kamis, April 2016.

Tapi kenapa Juventus berkali-kali masuk final champions tidak ada hasil yang memuaskan? ini pertanyaan besar yang harusnya dijawab oleh Allegri dan tim sebesar Juventus.