Wall Street Ditutup Melemah, Dipengaruhi Potensi The Fed Naikkan Suku Bunga

Indeks Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (4/9). Hal itu dipengaruhi oleh laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter September.
Dikutip dari Reuters pada Senin (7/9) indeks Dow Jones Industrial Average turun 272,51 poin atau 0,51 persen menjadi 53.413,60, S&P 500 turun 29,30 poin atau 0,38 persen menjadi 7.718,41 dan Nasdaq Composite turun 77,07 poin atau 0,29 persen menjadi 26.506,99.
Meski ketiga indeks utama AS berakhir di zona merah, secara mingguan ketiga indeks tersebut relatif tidak banyak berubah.
Adapun data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi AS menciptakan 162.000 lapangan kerja pada Agustus atau hampir tiga kali lipat dari konsensus pasar sebesar 56.000 pekerjaan.
Data payroll Juni dan Juli juga direvisi naik dengan total tambahan 55.000 pekerjaan. Tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen.
Data tenaga kerja yang solid sejatinya menang sinyal positif bagi perekonomian. Namun, pasar justru melihatnya sebagai faktor yang dapat memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, terutama di tengah tekanan harga energi akibat konflik.
“Pasar tenaga kerja mengalami pemulihan yang cukup baik bulan lalu, dan sulit untuk tidak melihat membaiknya pasar tenaga kerja sebagai perkembangan positif bagi perekonomian. Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga The Fed sedikit meningkat karena ekonomi masih berjalan agak terlalu panas,” kata Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group.
Selain itu, pasar juga akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, termasuk indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI). Data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang 58,4 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed September. Angka itu naik dari 49,4 persen pada Kamis (3/9).
Dari 11 sektor utama S&P 500, saham consumer discretionary mencatat pelemahan paling dalam. Sementara sektor industri dan teknologi masih membukukan kenaikan tipis.
Saham semikonduktor menjadi salah satu yang paling menonjol dengan kenaikan 3,4 persen, meski sektor tersebut masih turun 17,8 persen sepanjang kuartal ini. Sebaliknya, sektor software dan services turun 2,1 persen setelah sebelumnya menguat 24 persen pada periode yang sama.
Saham Lululemon Athletica anjlok 17,4 persen setelah perusahaan memangkas proyeksi laba dan pendapatan setahun penuh. Saham Adobe juga turun 6,7 persen setelah perusahaan mengumumkan CEO lama Shantanu Narayen akan digantikan oleh Anil Chakravarthy yang merupakan orang dalam perusahaan.
Sementara itu, saham perusahaan pelaporan kredit AS ikut tertekan setelah Direktur Federal Housing Finance Agency Bill Pulte mengatakan telah mengarahkan Fannie Mae dan Freddie Mac untuk menyetujui penggunaan sistem penilaian kredit VantageScore oleh seluruh pemberi pinjaman.
Adapun pada hari ini, pasar saham AS akan ditutup pada untuk memperingati Labor Day di sana.
