Kumparan Logo

Wall Street Ditutup Melemah Jelang Laporan Keuangan Emiten Teknologi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (22/7), dengan indeks Nasdaq memimpin pelemahan di tengah pergerakan yang beragam pada saham-saham teknologi.

Mengutip Reuters pada Kamis (23/7), investor memilih bersikap hati-hati sambil menanti laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar untuk mengukur apakah investasi jumbo di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai membuahkan hasil.

Indeks Nasdaq Composite ditutup turun 146,30 poin atau 0,57 persen ke level 25.690,90. Sementara itu, S&P 500 melemah 10,24 poin atau 0,14 persen ke 7.498,96, sedangkan Dow Jones Industrial Average hanya turun 6,06 poin atau 0,01 persen ke 52.218,58.

Pelaku pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak melonjak.

Kontrak berjangka minyak mentah ditutup naik sekitar 3 persen, menjadi level penutupan tertinggi sejak 11 Juni, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengancam jalur pelayaran di Laut Merah. Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Fokus utama investor tertuju pada laporan keuangan kuartal II dari Alphabet dan Tesla, dua anggota pertama kelompok "Magnificent Seven" yang merilis kinerja keuangan pada musim laporan kali ini.

Kepala Riset Makro dan Strategi Charles Schwab, Kevin Gordon, mengatakan investor kini semakin selektif dalam menempatkan dana pada sektor AI.

"Investor kini menjadi jauh lebih selektif dan spesifik dalam menentukan di mana mereka akan berinvestasi dalam tema AI," ujarnya.

Kevin menilai perbedaan kinerja antara saham perusahaan perangkat lunak dan produsen chip pada perdagangan Rabu (22/7) menunjukkan pasar mulai membedakan prospek masing-masing subsektor AI.

Saham Alphabet ditutup turun 1,5 persen dan menjadi sorotan setelah perusahaan menunda peluncuran model AI yang menjadi bagian penting dari strategi bisnisnya.

Saham Tesla melemah 1,3 persen pada perdagangan reguler dan kembali turun sekitar 3 persen dalam perdagangan setelah bursa ditutup (after-hours).

Pelemahan terjadi setelah Tesla melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal II untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Di sisi lain, indeks Philadelphia SE Semiconductor menguat 0,4 persen, melanjutkan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut setelah sebelumnya sempat memasuki fase bear market.

Dari sisi pasar secara keseluruhan, saham yang melemah lebih banyak dibandingkan yang menguat. Di Bursa New York (NYSE), rasio saham turun terhadap naik mencapai 1,26 banding 1, dengan 142 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 161 saham menyentuh level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 1.665 saham menguat, sedangkan 3.103 saham melemah, menghasilkan rasio 1,86 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 14 saham di level tertinggi baru dalam setahun dan 2 saham di level terendah baru, sementara Nasdaq membukukan 45 saham di level tertinggi baru dan 104 saham di level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS juga relatif sepi. Sebanyak 15,16 miliar saham berpindah tangan, lebih rendah dibandingkan rata-rata 19,05 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.