Wall Street Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak Mentah

Wall Street melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (1/9). Maraknya aksi lepas obligasi global dan lonjakan harga minyak mentah menekan pasar di tengah memudarnya harapan penyelesaian konflik AS-Israel dengan Iran.
Mengutip Reuters, tiga indeks utama Wall Street mengawali September di zona merah. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah global melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun, dipicu spekulasi bahwa bank sentral akan mempercepat kenaikan suku bunga acuan.
Selain faktor geopolitik, tekanan musiman turut membayangi. Secara historis sejak 1926, September merupakan satu-satunya bulan dengan rata-rata return negatif untuk bursa saham AS.
Eskalasi militer kian memanas setelah AS melancarkan serangan udara baru ke sasaran Iran di Selat Hormuz.
Langkah ini menyusul rencana sanksi perbankan baru AS untuk menekan Teheran, yang dibalas peringatan Iran untuk memblokir ekspor minyak dari Teluk.
Kondisi tersebut memperkuat kecemasan inflasi. Indikator CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September melompat ke posisi 68,2 persen, dari 39,6 persen pada pekan lalu.
Pada akhir perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 418,97 poin (0,79 persen) ke 52.766,93. S&P 500 merosot 54,67 poin (0,71 persen) ke 7.631,47, dan Nasdaq Composite terkoreksi 271,11 poin (1,03 persen) ke posisi 26.099,77.
Sektor energi memimpin penguatan berkat kenaikan harga minyak, sementara sektor consumer discretionary mengalami penurunan paling dalam. Indeks Semikonduktor Philadelphia melorot 2,1 persen dengan seluruh komponen sahamnya ditutup melemah.
Volume perdagangan di bursa AS tercatat sebesar 14,38 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata harian 15,35 miliar saham dalam 20 hari terakhir.
