Wamenko Perekonomian Minta Penilaian MSCI ke Pasar Modal RI Dilihat Objektif

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, meminta seluruh pihak menyikapi penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia secara objektif dan proporsional.
Pernyataan ini merespons isu ancaman penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.
Dradjad menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh melakukan perbaikan fundamental pasar modal nasional melalui peningkatan transparansi, tata kelola (governance), serta penegakan hukum.
Langkah ini sesuai arahan Presiden untuk menjaga kepercayaan investor global maupun domestik.
"Presiden dalam rapat kabinet paripurna menegaskan bahwa kita harus melakukan perbaikan-perbaikan fundamental atas pasar modal kita," ujar Dradjad dalam keterangan resminya, Rabu, (4/11).
Ia memaparkan, pembenahan pasar modal mencakup penindakan tegas terhadap praktik manipulasi harga saham gorengan serta peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham, termasuk kewajiban pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen.
Pemerintah juga mendorong pengawasan lebih ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan kepatuhan emiten serta menindak pelanggaran yang merugikan investor.
Di tengah gejolak penilaian MSCI, Dradjad mengimbau para investor, khususnya investor ritel, agar tetap tenang dan tidak mengambil keputusan secara impulsif. Menurutnya, keputusan investasi harus tetap didasarkan pada analisis fundamental dan prospek bisnis emiten.
Ia menambahkan bahwa MSCI bukanlah satu-satunya penyedia indeks global (index provider) yang mengukur kinerja pasar modal Indonesia.
"Kita masih memiliki index provider lain yang tidak menurunkan status pasar modal Indonesia. Jika investor berpikir rasional dan tidak panik, kondisi pasar tidak akan terguncang," tuturnya.
Selain isu pasar modal, Dradjad juga meminta masyarakat melihat dinamika nilai tukar rupiah berdasarkan kekuatan ekonomi fundamental, bukan fluktuasi jangka pendek.
Ia membandingkan spekulasi pelemahan rupiah sebelumnya yang memperkirakan kurs menembus Rp 20.000 per dolar AS pada Oktober 2025 dan Rp 25.000 per dolar AS pada semester I 2026 yang terbukti tidak terjadi.
Untuk menjaga kestabilan nilai tukar jangka panjang, pemerintah terus memperkuat cadangan devisa melalui pengoptimalan sektor pariwisata serta peningkatan kontribusi pekerja migran Indonesia.
