Konten dari Pengguna

Dari Asing Menjadi Jembatan: Setahun Bersama Komunitas Tuli

Abdul Matin Aji Saka

Abdul Matin Aji Saka

Mahasiswa UIN STS Jambi - Juru Bahasa Isyarat

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Matin Aji Saka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka, orang yang dulu paling anti dengan bahasa isyarat justru kini menghabiskan waktunya bersama komunitas Tuli? Ya, itu saya. Dulu, bahasa isyarat adalah sesuatu yang terasa asing, jauh, bahkan sama sekali tidak masuk dalam radar minat saya. Namun hidup punya cara sendiri untuk membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

Di situlah semuanya benar-benar dimulai. Akhir Juli 2025, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya berdiri di tengah-tengah sekelompok Tuli, bukan hanya sekadar wacana, melainkan menjadi kenyataan dan ada di hadapan saya. Saya berkunjung sebagai tamu ke Gerkatin Jambi, dan sejujurnya, saya tidak siap dengan rasa kaget yang saya rasakan.

Kunjungan ke Sekretariat Gerkatin Jambi - 30 Juli 2025
zoom-in-whitePerbesar
Kunjungan ke Sekretariat Gerkatin Jambi - 30 Juli 2025

Sekitar 15 Tuli hadir di hari itu, ramai dengan tangan-tangan yang bergerak lincah menyampaikan cerita, canda, dan makna sebuah bahasa yang begitu hidup namun selama ini luput dari perhatian saya. Di tengah keramaian itu, saya terdiam sejenak, merenung dalam diam tentang kehidupan mereka. Ada rasa malu sekaligus takjub yang bercampur aduk. Bagaimana mungkin selama 20 tahun saya hidup, baru kali ini saya menyadari bahwa komunitas Tuli itu nyata adanya, hidup dan berkembang tepat di sekitar kita.

Fakta yang saya temukan setelah kunjungan itu justru semakin menguatkan apa yang saya rasakan di hari itu sampai sekarang, data pasti mengenai jumlah Tuli di Indonesia ternyata belum diketahui secara jelas. Yang tercatat hanya sebagian kecil, seperti jumlah siswa Tuli di sekolah-sekolah se-Indonesia yang mencapai 27.983 (Data Kemendikbud Ristek tahun 2021—2022). Angka itu hanyalah mereka yang sempat mengenyam pendidikan formal, belum termasuk yang tidak bersekolah atau tidak pernah terdata sama sekali.

Bagaimana mungkin saya baru mengetahui keberadaan komunitas Tuli di usia saya sekarang, jika bahkan negara pun belum sepenuhnya "melihat" dan mencatat keberadaan mereka? Yang lebih mengejutkan lagi, saya kemudian mengetahui bahwa menurut data dari Gerkatin Provinsi Jambi sendiri, tercatat ada 365 orang Tuli di provinsi ini. Artinya, jumlah sesungguhnya di lapangan bisa jauh lebih besar dari yang tercatat. Fakta ini semakin menegaskan apa yang saya rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Gerkatin Jambi. Begitu banyak saudara-saudara kita, hidup berdampingan di provinsi yang sama, namun keberadaannya nyaris tidak terdengar bukan karena mereka tidak ada, melainkan karena kita sebagai masyarakat dengar terlalu jarang menoleh dan benar-benar melihat mereka.

Dokumentasi Juru Bahasa Isyarat pada Kegiatan Naik Level di Era Digital Literasi Keuangan dan Digital Marketing

Menjadi Juru Bahasa Isyarat

Inilah alasan mengapa saya memilih untuk menjadi juru bahasa isyarat, bukan karena profesi ini mudah, apalagi menjanjikan sorotan atau pengakuan besar, melainkan karena saya melihat ada kebutuhan nyata yang selama ini luput dari perhatian banyak orang. Saya ingin menjadi salah satu dari sedikit orang yang mau berdiri di celah itu, di antara dunia dengar dan dunia Tuli, untuk memastikan bahwa suara mereka tetap tersampaikan, hak mereka tetap terdengar, dan keberadaan mereka tidak lagi dianggap sebelah mata. Bagi saya, menjadi juru bahasa isyarat bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan menjadi bagian dari perjuangan agar teman-teman Tuli di Jambi bisa berdiri setara, memiliki akses yang sama, dan didengar sebagaimana mestinya dan itulah yang membuat saya, dengan segala keterbatasan yang saya miliki, memilih untuk tetap bertahan dan terus melangkah di jalan ini.

Genap satu tahun sudah saya berjalan sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI), dan sepanjang perjalanan itu, tentu tidak sedikit tantangan dan hambatan yang saya temui. Salah satu yang paling terasa adalah ketiadaan naungan atau pusat layanan juru bahasa isyarat yang benar-benar berdiri sendiri di Jambi. Sampai saat ini, kami para JBI di sini masih bernaung di bawah Gerkatin Jambi, padahal jika ditelisik lebih dalam, tugas pokok dan fungsi antara Gerkatin dan JBI sebenarnya sangat berbeda. Gerkatin adalah organisasi milik dan diperjuangkan oleh komunitas Tuli sendiri, sementara JBI seharusnya menjadi lembaga atau layanan profesional yang berdiri independen, yang bertugas menjembatani komunikasi antara Tuli dan dengar. Ketiadaan pemisahan yang jelas ini membuat peran JBI di Jambi belum benar-benar terlembagakan sebagaimana mestinya.

Dokumentasi Juru Bahasa Isyarat dalam Konferensi Pers Polda Jambi

Kondisi ini semakin terasa berat ketika saya bandingkan dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Barat, di mana jumlah Juru Bahasa Isyarat jauh lebih banyak dan biasanya sudah memiliki wadah atau pusat layanan tersendiri. Di Jambi, jumlah JBI justru sangat terbatas, bisa dihitung dengan jari. Hal ini tentu berdampak langsung pada keterbatasan akses komunikasi bagi teman-teman Tuli di provinsi ini, terutama di momen-momen penting seperti layanan publik, pendidikan, atau Kesehatan. Kehadiran JBI sangat dibutuhkan namun sulit terpenuhi. Menyadari kesenjangan ini membuat saya semakin merasa bahwa perjalanan saya sebagai JBI bukan sekadar soal menerjemahkan bahasa, tetapi juga soal memperjuangkan agar profesi ini benar-benar diakui dan diberi ruang yang layak di Jambi.

Maka di sinilah saya memilih untuk hadir, menjadi jembatan yang menghubungkan akses komunikasi mereka dengan dunia luar, sekecil apa pun peran yang bisa saya berikan. Sayangnya, masih sangat sedikit orang yang benar-benar melek dan peduli terhadap isu ini, dan karena itu, dukungan yang lebih besar dari pemerintah menjadi sesuatu yang mendesak untuk diperjuangkan, baik untuk aksesibilitas teman-teman Tuli, maupun untuk keberadaan dan pengakuan profesi JBI itu sendiri. Namun di balik semua tantangan itu, satu tahun ini justru mengajarkan saya sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu arti sesungguhnya dari kekeluargaan. Komunitas ini menunjukkan kepada saya rasa saling menjaga, saling merangkul, dan saling menguatkan bisa tumbuh begitu kuat, bahkan di tengah keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari.

Dokumentasi Gerkatin Jambi

Dari merekalah saya belajar bahwa pengabdian sesungguhnya bukan tentang seberapa besar yang kita berikan, melainkan tentang manfaat dan kehadiran. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi awal dari langkah-langkah besar lainnya untuk Jambi yang lebih ramah, lebih peduli, dan lebih menoleh pada mereka yang selama ini jarang terdengar.