Konten dari Pengguna

Hasil PISA 2022 dan Potret Paradoksal Pendidikan Indonesia

Abdul Mukhlis

Abdul Mukhlis

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FTIK UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Mukhlis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek

Sepekan lalu, Selasa 5 Desember 2023, Programme for International Student Assesment (selanjutnya dipendekkan menjadi PISA), merilis hasil kajiannya kepada publik. Hasil kajian rutin tiga tahunan ini sangat dinantikan kehadirannya oleh dunia pendidikan karena sempat terhambat oleh pandemi global yang menyerang seluruh belahan dunia pada awal 2020 hingga akhir 2022 lalu.

Mengutip dari website milik BSKAP Kemdikbud, PISA merupakan studi yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia dengan peserta lebih kurang 70 negara. Studi ini menyasar peserta didik dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak dan berusia 15 tahun. Para peserta didik tersebut akan mengerjakan soal-soal untuk mengukur kecakapan literasi, baik membaca, numerasi, dan sains.

Sejak tahun 2000, Indonesia sudah mengikuti program PISA ini. Program ini menjadi salah satu alat branding pendidikan Indonesia di kancah dunia. Sejak keikutsertaannya kali pertama itu pula, peringkat Indonesia terus terjun bebas hingga nyaris berada di posisi paling buncit pada periode asesmen tahun 2018 (Sriyatun, 2020).

Namun di periode ini atau setelah 23 tahun mengikuti asesmen, Indonesia berhasil mencapai momen posisi terbaik justru di saat sebagian besar peserta asesmen PISA, termasuk Indonesia sendiri, mengalami kemerosotan skor rata-rata. Bidang literasi membaca dan numerasi misalnya, mengalami kenaikan lima tingkat dari peringkat sebelumnya. Kemudian, kemampuan sains juga naik enam tingkat.

Klaim Parsial

Ilustrasi layanan pendidikan. Foto: Kemenkeu RI

Kabar ini tampaknya cukup menggembirakan, tetapi sangat anomali. Sebab di satu sisi, posisi Indonesia mengalami kenaikan peringkat. Namun di sisi lain, skor rata-rata yang didapat malah cenderung menurun. Penulis dan para pengamat lainnya juga tentu terhenyak dengan hasil ini.

Bagaimana tidak, pandemi yang sangat merepotkan itu membuat seluruh tatanan dunia, termasuk bidang pendidikan, ikut terdampak dan berubah orientasinya. Sekolah-sekolah banyak yang ditutup. Pembelajaran tatap muka konvensional dialihkan ke pembelajaran daring. Peserta didik juga nihil interaksi fisik dengan teman-temannya, lebih-lebih kepada gurunya.

Sementara itu, para guru ramai-ramai repot berjibaku. Disibukkan dengan aktivitas memproduksi konten pembelajaran via piranti teknologi agar tak ketinggalan zaman. Hal-hal demikianlah yang turut mendorong munculnya learning loss dalam kegiatan pembelajaran.

Fenomena learning loss ini mengundang kekhawatiran berbagai pihak, salah satunya akademisi Anita Lie. Dalam opininya di harian Kompas pada Senin 4 Desember lalu, guru besar bidang kurikulum pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini, turut memprediksi soal penurunan skor para peserta asesmen PISA. Dugaan itu benar adanya dan nyata-nyata terbukti. Lagi-lagi, penyebab utamanya ialah learning loss.

Namun di sisi lain, persoalan learning loss di Indonesia ini diklaim oleh Mas Menteri dapat diatasi dengan baik melalui bermacam formulasi yang dicanangkan oleh kementerian yang dipimpinnya, di antaranya keluasan akses daring oleh para guru dan siswa, pelatihan daring kepada guru-guru, materi pembelajaran yang adaptif dan ringkas, serta berperannya kurikulum darurat (Kemendikbud Ristek, 2023). Faktor-faktor demikian ini dianggap oleh Mas Menteri sebagai bentuk mitigasi dan potret ketangguhan para guru Indonesia sehingga learning loss tidak menjadi persoalan besar bagi dunia pendidikan kita.

Alih-alih komprehensif dalam analisis kesuksesan programnya, agaknya Mas Menteri menihilkan satu faktor penting dalam mata rantai pendidikan, yakni kehadiran orang tua atau wali dalam proses belajar siswa. Padahal ketika pandemi menyerang, justru orang tua atau wali siswalah yang menjadi guru kedua bagi anak-anaknya di rumah.

Orang tua atau wali siswa dipaksa menjelma guru bayangan untuk anaknya. Yah, tetapi mau bagaimana lagi, yang namanya bayangan, tentu kehadirannya sulit terlihat atau samar-samar, bukan? Maka tak heran jika faktor ini tak muncul dalam daftar formulasi keberhasilan ala Mas Menteri.

Paradoks Realita

Ilustrasi kursi dan menja sekolah. Foto: Shutterstock

Kemegahan sebuah bangunan, belum tentu mendeskripsikan kesejahteraan hidup dan ketenteraman hati para penghuninya. Postulat ini tampaknya cocok sebagai analogi yang menggambarkan kenaikan peringkat PISA Indonesia di tahun 2022. Ada sebuah paradoks realitas simbolik yang tertinggal dari hasil rilis asesmen tersebut, yaitu kebingungan di benak para pelaku pendidikan.

Para guru selaku aktor pendidikan di akar rumput, selalu dihadapkan dengan realitas yang tidak diuraikan dalam laporan-laporan hasil capaian tahunan oleh para pemangku kebijakan. Persoalan semacam teknologi pendidikan, ketimpangan akses, fleksibilitas pembelajaran, pengukuran kinerja siswa, dan penyesuaian pembelajaran dengan isu global, sejatinya masih menjadi PR besar dan mencerminkan orisinalitas dinamika yang begitu kompleks dalam dunia pendidikan kita.

Betapa pun gemilangnya hasil asesmen pendidikan yang dilakukan oleh PISA ini, tentu tidak cukup untuk mewakili realitas praktik pendidikan di Indonesia yang demikian kompleks. Model evaluasi tes global yang memunculkan justifikasi dan pemeringkatan semacam PISA, terasa sangat sederhana apabila hanya dilaksanakan dalam waktu dua jam. Aspek-aspek di luar tes dalam evaluasi ini diindikasikan tidak mampu terpotret dengan baik.

Di samping itu, unsur “pengondisian” sampel juga rawan diintervensi. Sebab, keberhasilan kenaikan peringkat PISA ini tidak bisa dilepaskan dari aspek pemilihan responden dan lokasi sampel. Daerah-daerah maju dengan akses sarana prasarana mumpuni dan ditopang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten, sudah pasti akan dijadikan sampel. Namun, bagi daerah pelosok, tertinggal, dan terluar di Indonesia, tentu hanya akan menjadi antitesis dari simbol kemapanan pendidikan yang diidam-idamkan itu.

Melalui refleksi ini, penulis tidak sedang memposisikan diri sebagai pihak yang sedang berkontra dengan hasil PISA, apalagi kepada Mas Menteri. Justru lewat tulisan inilah, penulis ingin mengajak kepada khalayak agar bersama-sama memanfaatkan momen kenaikan peringkat PISA untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 seperti yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2025-2045.

Hasil PISA 2022 ini sudah sepatutnya dijadikan sebagai pemantik awal bagi pengambil kebijakan dan pelaku pendidikan agar selalu mengedepankan tindakan evaluatif-reflektif. Dengan demikian, tidak ada lagi kemustahilan yang perlu dikhawatirkan untuk membawa perahu pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang, entah di skala nasional maupun global.