Guru Dipuji Setahun Sekali, Diabaikan Setiap Hari

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Abdul Mutholib Ali Rizqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap 25 November, masyarakat serentak mengucapkan “Selamat Hari Guru”. Di sekolah, siswa memberikan bunga, hadiah, dan kata-kata manis seolah guru adalah sosok yang sangat dihormati. Namun di balik semua ucapan itu, kenyataan di lapangan jauh berbeda. Guru masih belum benar-benar dihargai, terutama oleh pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab yaitu pemerintah. Profesi guru sering dipandang mulia, tetapi ironisnya tidak diberikan penghargaan yang layak. Pemerintah seolah menganggap bahwa mengajar hanyalah kewajiban moral yang harus dijalani tanpa perlu memikirkan kesejahteraan mereka. Banyak guru, khususnya guru honorer, menerima gaji yang sangat kecil dan tidak sebanding dengan beban serta tanggung jawab besar dalam mendidik generasi bangsa. Dalam kondisi ekonomi yang terus meningkat, gaji minim ini membuat mereka sulit memenuhi kebutuhan dasar.
Jika kita menengok ke negara lain, terlihat jelas bahwa menjadi guru bukanlah profesi yang harus identik dengan kesulitan hidup. Di Jerman, rata-rata guru sekolah dasar mendapatkan gaji sekitar 90 ribu dolar Amerika per tahun. Di Amerika Serikat, gaji guru SD berada di kisaran 68 ribu dolar per tahun. Bahkan di Luksemburg, guru dengan pengalaman memadai bisa memperoleh lebih dari 100 ribu dolar per tahun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa profesi guru bisa sangat sejahtera, dihormati, dan diposisikan sebagai pekerjaan bergengsi. Sementara itu, di Indonesia, guru masih berkutat dengan honor rendah, keterbatasan fasilitas, serta ketidakpastian status kerja.
Bagaimana mungkin sebuah profesi yang dijuluki “pahlawan tanpa tanda jasa” dibiarkan bergulat dengan ketidakpastian hidup? Bagaimana mungkin Hari Guru dirayakan dengan meriah sementara para gurunya belum merasakan kesejahteraan yang semestinya? Perayaan itu pada akhirnya terasa hanya seperti formalitas belaka seremoni tahunan tanpa makna mendalam. Banyak orang mampu mengucapkan selamat, tetapi hanya sedikit yang benar-benar peduli pada kondisi guru. Ucapan manis tidak mengubah kenyataan bahwa guru masih dianggap sepele. Mereka mengajar dengan kesabaran, mendidik karakter anak bangsa, dan menjadi bagian penting dari masa depan negara, tetapi perhatian dan penghargaan yang mereka terima sangat tidak sebanding.
Sebelum kita mengucapkan “Selamat Hari Guru”, sudah seharusnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah guru benar-benar telah dihargai? Apakah mereka sudah hidup dengan layak? Apakah pemerintah sudah menempatkan mereka pada posisi yang pantas? Jika semua itu belum terpenuhi, maka perayaan Hari Guru tidak lebih dari simbol kosong tanpa perubahan. Sesungguhnya, belum layak dirayakan sebuah Hari Guru ketika gurunya sendiri masih belum sejahtera.
